Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 20 Juli 2017 | 14.00 WIB

Berapa Lama Mahasiswa Universitas Gunadarma Jadi Korban Bully?

Ibu Elis dan anaknya, Farhan yang menjadi korban bully di Gunadarma. - Image

Ibu Elis dan anaknya, Farhan yang menjadi korban bully di Gunadarma.

JawaPos.com - Orang tua mempunyai peran sentral bagi daya tumbuh kembang anak. Sejak dalam kandungan, semestinya orang tua mengajak komunikasi anak agar terlatih menjadi sosok yang terbuka dan komunikatif. Dengan begitu, anak dapat tumbuh dengan rasa percaya diri dan tidak dianggap berbeda atau introvert di antara teman-temannya hingga rentan dibully.



Pesan itu disampaikan Psikolog dari Kementerian Sosial, Elizabeth Sentosa saat berkunjung ke rumah mahasiswa Universitas Gunadarma, Muhammad Farhan, 19, yang menjadi korban bullying di kampusnya. Saat JawaPos.com ke rumahnya, Farhan memang dipastikan bukan Anak Berkebutuhan Khusus (ABK). Namun, karena memiliki sikap tertutup dan kutu buku, Farhan dinilai lemah dan rentan di-bully. Farhan juga bukan tipe anak yang suka bercerita kepada orang tuanya.



"Anak yang memiliki karakteristik seperti Farhan ini rentan di-bully. Sering sekali karena pelaku memilih anak yang lemah dan pendiam. Farhan bukan autis atau ABK namun dia tetap korban bully," ungkapnya di rumah Farhan di kawasan Ciganjur, Jakarta Selatan, Rabu (18/7).



Sebagai anak bungsu, Elizabeth menilai Farhan lebih sensitif dan tidak mau merepotkan orang tuanya. Selama satu tahun kuliah, Farhan memang sudah sejak awal selalu di-bully.



"Dari kecil sampai SMA Farhan tak pernah di-bully. Namun, mungkin masuk ke dunia kampus ini kan berbeda ya. Dan bukan 1-2 kali saja dia di-bully," kata Elizabeth.



Secara umum, Elizabeth meminta orang tua untuk lebih pandai mendidik anak agar mau berkomunikasi secara terbuka dengan orang tuanya sejak kecil. Pelaku bullying, kata dia, biasanya juga berasal dari orang tua yang tidak harmonis atau tak ada komunikasi yang baik di dalam keluarga.



"Jangan sampai anak kita menjadi seseorang yang penakut. Bully itu dari zaman dulu sudah ada namun semakin modern, supervisi orang tua sangat rendah dan pola asuh mengendur. Dan ini pukulan keras buat orang tua," katanya.


e


Pihak kampus disarankan untuk membenahi sistem dalam setiap paparan semester mengenai batasan-batasan bullying. Pasalnya mengeluarkan pelaku bully dinilai tak efektif dan bukan jalan keluar terbaik karena akan tetap menularkan pelaku bully yang baru. 

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore