Jumat, 28 Jul 2017
Travelling

Dari Upacara Adat Pemakaman Toraja, Perayaan Kedukaan yang Megah

Senin, 17 Jul 2017 18:06 | editor : Dwi Shintia

MENEGANGKAN: Ritual ketika tempat tidur jenazah dinaikkan ke anjungan di lantai 3 Tongkonan bikin yang menyaksikan ikut deg-degan (kiri). Iring-iringan warga yang membawa kerbau melintasi jalan desa yang indah.

MENEGANGKAN: Ritual ketika tempat tidur jenazah dinaikkan ke anjungan di lantai 3 Tongkonan bikin yang menyaksikan ikut deg-degan (kiri). Iring-iringan warga yang membawa kerbau melintasi jalan desa yang indah. (FREDDY H. ISTANTO FOR JAWA POS)

JawaPos.com - Namanya memang upacara pemakaman. Namun, masyarakat Tana Toraja mengemas upacara tersebut menjadi sebuah festival akbar yang mewah, melibatkan ribuan orang, dan menarik wisatawan. Freddy H. Istanto Dosen Arsitektur-Interior  Universitas Ciputra Surabaya menjadi saksi digelarnya upacara Rambu Solo di Makale, Sulawesi Selatan, awal bulan lalu.

---

PUKUL 12.00 Wita ratusan orang berkumpul di ujung jalan desa, dekat jalur utama menuju Kota Makale. Anak-anak kecil berjajar membawa tiang bambu berhias. Puluhan kerbau besar tenang menunggu bersama pengawalnya.

BUDAYA ADILUHUNG: Puluhan ibu-ibu yang mengenakan pakaian adat berbaris menyambut tamu dan kerabat dalam upacara Rambu Solo.

BUDAYA ADILUHUNG: Puluhan ibu-ibu yang mengenakan pakaian adat berbaris menyambut tamu dan kerabat dalam upacara Rambu Solo. (FREDDY H. ISTANTO FOR JAWA POS)

Mereka menyambut datangnya jenazah bangsawan Puang Jusuf Kun Massora. Ibu-ibu berbusana hitam-hitam dengan ramah menyapa para tamu, bahkan yang bukan keluarga. Teman saya yang tidak sengaja berbaju hitam pun disapa dan diminta masuk ke formasi penyambutan.

Pertigaan itu menjadi titik perpindahan jenazah yang dibawa kendaraan untuk berganti diusung oleh para pemuda. Tepat pukul 13.00 Wita rombongan jenazah memulai prosesi arak-arakan menuju lokasi upacara. Jarak sekitar 1 kilometer ditempuh lebih dari sejam. Perangkat berbentuk Tongkonan dengan jenazah di dalamnya terlihat sangat berat.

Diiringi sorak penyemangat, prosesi melewati jalan desa yang indah berhias hijaunya sawah-sawah subur Tana Toraja. Memasuki gerbang kompleks upacara pemakaman, serombongan penari dengan peralatan perkusi modern menyambut meriah. Dua ekor kuda menari seiring dengan irama musik, dikendalikan gadis berbusana adat di punggungnya.

Kekaguman melihat arak-arakan panjang itu belum berhenti. Melewati gerbang, puluhan Tongkonan kecil berisi sekitar 25 keluarga dan tamu memagari kompleks upacara itu. Di tengah-tengah lapangan berukuran hampir sebesar lapangan sepak bola itu berdiri megah bangunan tinggi persemayaman jenazah.

Tongkonan terbuat dari kayu dan bambu. Tingginya dihitung sampai ujung atap yang menjulang mencapai 15 meter. Lantai 1 untuk keperluan servis. Lantai 2 untuk meletakkan patung mendiang. Lantai 3 merupakan persemayaman jenazah. Bangunan dihias dengan mewah, beberapa keris menjadi bagian dari dekorasi itu.

Saat-saat paling menegangkan dan dramatis adalah ketika jenazah dinaikkan ke anjungan di lantai 3. Sebelumnya, yang dinaikkan adalah tempat tidur jenazah. Ada kejadian menegangkan saat tempat tidur dinaikkan. Perabot tersebut terlalu tinggi sehingga tidak bisa masuk ke anjungan. Dengan kemiringan setinggi itu plus bobotnya yang berat, semua orang deg-degan menahan napas. Takut tempat tidurnya merosot jatuh.

Beberapa orang dengan sigap mengambil parang untuk menebas beberapa dekorasi di anjungan. Setelah itu, proses menaikkan jenazah relatif lebih lancar. Ribuan orang menyaksikan peristiwa itu, termasuk wisatawan mancanegara serta media dalam dan luar negeri.

Pada hari kedua, acara dilanjutkan dengan upacara penyambutan tamu keluarga dan kerabat. Namanya, Rambu Solo. Mereka mengenakan busana adat yang menarik. Prosesi penerimaan dan penyambutan tamu diawali dengan barisan kerbau atau babi yang merupakan tanda kasih para tamu. Dua ekor kuda menari mengikuti irama musik nanrancak mengantar rombongan.

Acara itu juga diikuti penyembelihan kerbau dan babi. Kabarnya, untuk acara ini ada sekitar 80 ekor kerbau dan 400 babi yang dikurbankan. Tidak hanya bikin ngeri, tapi bau anyirnya juga membuat sedikit mual. ’’Wah, abis ini gua bisa nggak doyan makan rawon, nih,’’ celetuk salah seorang teman saya.

Meski agak ngeri-ngeri sedap, acara Rambu Solo memang luar biasa. Arsitektur tongkonan yang pernah saya pelajari semasa kuliah dulu tampak semakin indah dan agung karena dilihat di lokasi aslinya. Namun, rumah tradisional yang megah tersebut mencapai puncak tampilannya karena sedang menjadi sebuah wadah peristiwa besar budaya setempat.

Arsitektur Nusantara, seperti juga tongkonan, tidak hanya bercerita tentang fungsi fisik untuk melayani aktivitas manusia. Tetapi, itu juga mengekspresikan makna-makna budaya, menjadi adiluhung ketika mampu berinteraksi puncak di peristiwa agung seperti Rambu Solo.

Rambu Solo merupakan acara yang megah dan adiluhung. Disiapkan berbulan-bulan sebelumnya dengan biaya yang sangat besar. Ratusan keluarga, warga, dan tamu terlibat dalam pergelaran akbar tersebut. Puluhan tongkonan dalam berbagai ukuran dibangun. Arena adu banteng dengan ukuran seperempat lapangan bola lengkap dengan tribun untuk penonton disiapkan.

Rambu Solo juga menyiapkan model-model busana adat yang membuktikan kekayaan busana orang Toraja. Di sana juga ada suguhan kuliner, atraksi tarian dan musik, serta ritual kerohanian yang khas. Meski titelnya adalah upacara pemakaman, rangkaian acara lebih seperti festival. Semua orang berpesta, juga mengirim doa.

Banyak acara adat besar di Indonesia, seperti Rambu Solo ini, bersifat individual. Pergelarannya bergantung kepada kesiapan pribadi (termasuk kesiapan finansial). Karena itu, pelaksanaannya sulit ditentukan secara pasti. Di sisi lain, peristiwa akbar berskala dunia tersebut layak ditawarkan sebagai destinasi budaya. Dampaknya tidak terbatas pada aspek ekonomi saja, tetapi juga pada pembangunan karakter kebangsaan. (*/c4/na)

Sponsored Content

loading...
 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia