Jumat, 28 Jul 2017
Features

Kisah-Kisah di Balik Beroperasinya Command Center (CC) 112 Surabaya

Kerap Kali Penelepon Cuma Ingin Kenalan

Senin, 17 Jul 2017 03:56 | editor : Suryo Eko Prasetyo

MENUNGGU KONTAK: Dari kiri, Muhammad Ardiansyah Putra Panjaitan, Dimas Andrianto, dan Bambang Bastiawan sedang bekerja di ruang Command Center 112 gedung Siola.

MENUNGGU KONTAK: Dari kiri, Muhammad Ardiansyah Putra Panjaitan, Dimas Andrianto, dan Bambang Bastiawan sedang bekerja di ruang Command Center 112 gedung Siola. (Zaim Armies/Jawa Pos/JawaPos.com)

Layanan tanggap darurat Command Center (CC) 112 diresmikan Pemkot Surabaya pada 26 Juli 2016. Setelah setahun beroperasi, beragam cerita mengiringi. Mulai penyelamatan binatang, penelepon yang menggoda petugas, hingga warga yang memprotes karena paket internetnya tidak bisa dipakai.

SALMAN MUHIDDIN, Surabaya

KOORDINATOR Regu 1 CC 112 Muhammad Ardiansyah Putra Panjaitan bertugas sejak hari pertama CC 112 beroperasi. Dia bergabung di tim perlindungan masyarakat (linmas). Tugasnya adalah mengamati layar komputer sambil menunggu laporan masyarakat masuk. Headphone di telinganya tidak boleh terlepas saat bertugas. Sebab, sebagai petugas, dia harus senantiasa berjaga. Siapa tahu ada pengaduan darurat yang masuk. Agar tidak lengah, sesekali dia juga memandangi puluhan monitor yang menempel di dinding ruangan serbaputih itu. Layar tersebut menampilkan rekaman closed circuit television (CCTV) yang terpasang di berbagai titik jalanan Surabaya.

Ya, itulah gambaran suasana CC room. Letaknya di lantai 2 gedung Siola. Jawa Pos menemui Ardi pada Kamis (13/7). Selain linmas, ada petugas dishub, dinkes, PMK, DKP, satpol PP, PMI, basarnas, dan kepolisian yang ditugaskan di sana. Mereka tampak sibuk menerima aduan. ’’Sedang ada kebakaran alang-alang,” ujar pemuda 24 tahun tersebut.

Di ruangan itu, suara riuh petugas bersahut-sahutan. Maklum, penanganan kebakaran tidak semata merupakan tugas PMK. Petugas linmas di CC room pun menghubungi linmas yang ada di lapangan. Mereka harus bergerak cepat untuk menangani kebakaran. Jangan sampai penanganan terhambat kerumunan warga. Petugas PMI dan dinkes juga disiagakan. Siapa tahu ada korban dalam peristiwa itu.

Begitulah keseharian di CC room. Petugas menghadapi beragam pengaduan. Apa pun jenisnya. ”Saya pernah dikerjai bocah,” kata Ardi yang membuka perbincangan. Sambil bercerita, Ardi tetap memantau layar smartphone-nya. Cerita tentang bocah tersebut agak terputus. Sebab, sebagai koordinator regu, dia juga harus memantau situasi kebakaran. Sebentar kemudian, informasi masuk ke ponsel pintarnya. Kebakaran ternyata tidak terlalu besar. Dia melanjutkan cerita.

Menurut Ardi, peristiwa tersebut terjadi saat awal-awal CC room berdiri. Seorang bocah laki-laki meneleponnya. Ketika itu dia mengira ada situasi darurat. Dalam benaknya, bocah tersebut diculik atau ada kejadian darurat lainnya.

Namun, kekhawatiran itu hilang setelah bocah tersebut mengutarakan maksudnya. Dia menelepon hanya untuk meminta akun clash of clans (COC). Itu adalah game strategi yang bisa dimainkan di smartphone. Game tersebut bercerita tenang pertarungan antar-clan pada masa lalu. ”Pak minta akun COC ada nggak? Maaf adik, ini khusus layanan darurat. Jangan telepon lagi ya,” kata Ardi.

Telepon pun ditutup. Tak lama kemudian, ada panggilan masuk lagi. Ternyata bocah yang sama menelepon. Kendati begitu, petugas tetap tidak bisa menolaknya. Sebab, panggilan terangkat secara otomatis setelah tiga kali deringan.

Menurut Ardi, bocah tersebut menelepon lebih dari 10 kali. Pada kondisi itu, petugas CC 112 tidak boleh emosional. Harus sabar. Ardi hanya bisa mengelus dada. Si bocah masih ngeyel. Pokoknya, dia tetep menelepon sampai diberi akun COC.

Kesabaran Ardi akhirnya berhasil dijebol si bocah. Namun, kejengkelannya tidak bisa disalurkan lewat sambungan telepon CC 112. Dia mencatat nomor telepon anak tersebut, lalu menelepon balik dengan memakai ponsel pribadinya. Diangkat. ’’Dik, mamamu endi (mana, Red)?” ujarnya tanpa basa-basi.

Si bocah pun ketakutan. Ponsel tersebut akhirnya diberikan ke ibunya. Kepada petugas, ibu bocah tadi meminta maaf karena keusilan anaknya. Untung, hingga kini bocah itu tidak menghubungi 112 lagi.

Yang dewasa juga sama saja. Petugas CC sering digoda penelepon. Tujuan mereka hanya meminta kenalan. Penelepon menganggap bahwa layanan telepon 112 itu biro jodoh. Yang ini macam-macam orang. Ada yang masih remaja. Ada yang sudah beranak dua.

Ada pula yang curhat baru diputus pacar. Sama dengan bocah tadi, mereka tetap menelepon meski sambungan diputus. Yang seperti itu dianggap mengganggu. Kalau ditanggapi, bisa-bisa telepon yang benar-benar darurat tidak terlayani. Karena itu, petugas harus bersabar menanggapi orang-orang usil.

Ardi juga sering menerima telepon salah sambung. Tiba-tiba dia dimarahi. Kebanyakan penelepon mengomel karena pulsa dan paket internet yang dibeli tidak bisa dipakai. Bahkan, saking marahnya penelepon, sampai-sampai petugas CC 112 tidak bisa memotong pembicaraan. Mereka harus menunggu penelepon yang marah-marah itu berhenti mengomel. ”Maaf, Ibu. Ini layanan darurat Pemkot Surabaya. Bukan aduan provider,” jelasnya.

Masih ada lagi. CC 112 juga sering mendapat laporan tentang penyelamatan binatang. Padahal, laporan itu sebenarnya tidak menjadi tugas CC 112. Namun, segala sesuatu pasti ada yang mengawali.

Pada Agustus 2016 ada laporan penyelamatan binatang di dekat Rumah Hantu Darmo. Saat itu CC 112 masih berumur sebulan. Petugas juga belum terlalu pengalaman. Rata-rata masih orientasi.

Laporan itu cukup membingungkan petugas. Setidaknya menimbulkan kegamangan. Direspons ataukah tidak. Seorang warga meminta pertolongan mengevakuasi sapi yang terperosok saluran.

Warga melaporkan, sapi tersebut berkeliaran di jalanan. Pengendara mobil yang melintas membunyikan klakson agar sapi menepi. Tapi, sapi itu kaget. Lompat. Lalu, mencebur ke saluran.

Petugas yang bingung meminta arahan ke kepala linmas yang saat itu dijabat Sumarno. Marno yang kini menjadi staf khusus wali kota akhirnya menjawab pada sore harinya. Dia memerintah petugas untuk terjun ke saluran. Katanya, semua makhluk hidup harus ditolong. Termasuk binatang. Itu adalah momen kali pertama petugas CC 112 terlibat dalam penyelamatan binatang.

Pukul 16.00 petugas sudah ada di tempat. Menurut Ardi, itu adalah evakuasi paling memakan tenaga. Bahkan, bisa dibilang melibatkan paling banyak aparat. Layaknya pembongkaran pedagang kaki lima (PKL). Ada PMK, linmas, dishub, dan satpol PP. Mereka sulit melakukan evakuasi karena sapi itu sudah menjadi tontonan warga.

Khusus kisah tersebut, Ardi memanggil petugas PMK Bambang Prawito untuk bercerita. Saat itu Bambang masih bertugas di lapangan. Kebetulan, dia juga yang menangani sapi itu.

Bambang berkisah bahwa saat ke tempat kejadian perkara (TKP), dia agak terkejut. Maklum, sapinya gemuk. Kulit putih sapi tersebut berubah abu-abu kehitaman karena tertutupi lumpur. Sapi itu memberontak sejadi-jadinya saat hendak diselamatkan pemiliknya. Untung, pemilik berhasil mengikat tali yang terhubung ke hidung sapi. Jadi, calon hewan kurban tersebut tidak bisa kabur jauh.

Bambang menuruni tangga untuk menjangkau dasar saluran. Tiga meter dalamnya. Tapi, sapi masih beringas. Masih setengah jalan, sapi sudah menyeruduk tangga.

Niat turun ke saluran diurungkan. Bambang menyeletuk, sapi tersebut harus ditangani pawangnya. Seorang pria di sampingnya langsung menyahut. Kebetulan, dia terbiasa menangani sapi. Pria asal Tubanan, Kecamatan Tandes, itu datang bersama putranya.

Dua jam evakuasi tidak membuahkan hasil. Warga yang menonton semakin banyak. Bak aksi matador menaklukkan banteng. Dua jam berkutat dengan lumpur, sapi itu akhirnya kelelahan. Melihat kesempatan tersebut, sang pawang turun. Dia mengikatkan tali pipih yang tersambung dengan crane. Tali itu mengikat bagian tubuh sapi. Setelah dievakuasi ke darat, sapi masih memberontak. Bambang khawatir warga yang menonton menjadi sasaran amuk sapi. Begitu berhasil mengevakuasi, pria yang terbiasa menangani sapi tersebut cukup menepuk badan sapi. ”Le, muliho, Le (Nak, pulanglah, Nak, Red). Setelah ngomong gitu, sapinya tenang!” jelasnya geleng-geleng.

Kemudian, sapi tersebut berjalan sendiri menuju rumah. Memang, sehari-hari sapi itu dilepas sehingga mengetahui jalan pulang. Namun, Bambang dan petugas lain tetap membuntuti sapi itu. Siapa tahu ada yang mengklakson. Lompat, lalu masuk saluran lagi. Jangan sampai kerja dua kali.

Setelah penyelamatan sapi, petugas tidak lagi kebingungan saat ada laporan penyelamatan binatang. Selama setahun ini, ada tiga penyelamatan binatang yang dilakukan. Yakni, kucing, anjing, dan ular yang masuk kampung. Ular itu terlepas dari kandangnya. Karena pemiliknya tidak diketahui, ular tersebut diserahkan ke Kebun Binatang Surabaya (KBS).

Selain Surabaya, ada 11 daerah lain yang mengoperasikan 112. Yakni, DKI Jakarta, Batam, Tangerang, Depok, Bogor, Bandung, Surakarta, Balikpapan, Denpasar, Mataram, dan Makassar.

Sejatinya layanan panggilan darurat dibutuhkan di semua kota di Indonesia. Semakin cepat ditangani, dampak kejadian darurat bisa diminimalkan. Masyarakat juga perlu diedukasi agar tidak menyalahgunakan panggilan darurat tersebut. (*/c7/git)

Sponsored Content

loading...
 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia