
Salah seorang petugas medis menyuntikan vaksin ke anak-anak untuk meningkatkan kekebalan tubuh terhadap penyakit pasca kematian puluhan anak di Deiyai dalam beberapa bulan terakhir.
JawaPos.com - Meninggalnya puluhan anak-anak di Kabupaten Deiyei, Papua dipastikan bukan karena virus aneh atau sarampa. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengklaim anak-anak di ujung timur Indonesia itu ada 27 anak meninggal dalam tempo tiga bulan terakhir. Bukan 40 orang.
Direktur Surveilans dan Karantina Kesehatan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Elizabeth Jane Soepardi menyebutkan bahwa 25 balita lainnya meninggal karena diare, radang paru-paru, disentri, gizi buruk, gigitan serangga, dan alergi. Paling banyak justru radang paru-paru yang mencapai sembilan balita. Terbanyak lainnya adalah diare yang diderita enam anak.
Namun, Jane mengakui bahwa cakupan imunisasi di Kabupaten Deiyai tiga tahun terakhir sangat rendah. "Tahun 2016 hanya 5,5 persen," ucapnya. Malah, pada 2014 tidak ada laporan sama sekali.
Jane mengungkapkan, masalah akses memang menjadi kendala utama di Papua. Akibatnya, beberapa program seperti imunisasi tidak bisa berjalan dengan baik. "Jalan trans-Papua yang baru sedang dibangun dan melintasi Kabupaten Deiyai. Ini membantu untuk membawa infrastruktur kesehatan," bebernya.
Ahli tropik-infeksi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia dr Erni Juwita Nelwan SpPD menyatakan, pihak terkait harus mengupayakan pencegahan penularan sarampa lebih lanjut. Meski, hanya ditemukan dua anak untuk kasus sarampa.
"Caranya dengan merawat anak yang sakit secara terpisah di ruang isolasi. Selain itu, pastikan vaksinasi sudah diberikan kepada orang sekitar anak yang sakit," sarannya.
Erni memang menyoroti pentingnya vaksinasi. Sebab, virus sarampa atau dikenal juga sebagai rubeola bisa dicegah dengan vaksin. "Penyakit tersebut bisa terlihat ringan, tetapi juga bisa menjadi serius," ucapnya.
Orang sekitar pun butuh divaksin lantaran mudahnya penularan penyakit tersebut. Hanya dari batuk, bersin, bahkan berbicara pun bisa menularkan virus itu. Penularan dapat terjadi bahkan sejak masa inkubasi atau belum bergejala sama sekali hingga empat hari setelah gejala muncul.
Masa inkubasi virus sarampa memang panjang, bisa mencapai dua minggu sebelum gejala muncul. Bahkan, orang sering mengabaikan karena gejala yang timbul begitu sepele. "Demam, batuk kering, sakit saat menelan, mata dan kulit memerah," ujar Erni. (lyn/yan/ade/tri/c17/ami)
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Fenerbahce vs Lyon di Kualifikasi Liga Champions 2026/2027, Tuan Rumah Dilarang Kalah!
Prediksi Skor Dinamo Zagreb vs Viking di Liga Champions: Skuad Modri Datang dengan Modal Bagus!
Prediksi Levski Sofia vs AEK Athens: Misi Besar Tuan Rumah Kembali ke UCL Usai Absen 2 Dekade
Prediksi Skor Vietnam vs Malaysia Leg 2 Semifinal AFF 2026: The Golden Star Warriors Menuju Final!
Profil Putri Juficha, Miss Earth Indonesia 2025 yang Meninggal di Usia Muda
Prediksi Skor Deportivo La Coruna vs Elche: Comeback The Blue and Whites di La Liga Bakal Sengit!
BEM UI dan Puluhan Aliansi Mahasiswa Bakal Gelar Demo Besar di Bundaran HI Besok, Ini 8 Tuntutannya
Ada Andik Vermansah Hingga Leo Lelis, 6 Mantan Pemain Persebaya Memperkuat Tim Promosi
Prediksi Skor Thailand vs Singapura: Gajah Perang Selangkah Lagi ke Final Piala AFF 2026!
Prediksi Skor Slovan Bratislava vs Celje di Kualifikasi Liga Champions 2026/2027
