
Kepala BNN, Komjen Budi Waseso
JawaPos.com - Pesatnya dunia digital rupanya berdampak besar terhadap peredaran narkoba. Terutama terkait kemudahan para bandar dan pengguna melakukan transaksi melalui internet.
Saban hari, intensitas mereka bertransaksi barang haram tersebut kian meningkat.
"Penggunaan teknologi internet untuk perdagangan dan peredaran gelap narkotika dan prekursor narkotika terus meningkat," terang Kepala Badan Narkotika (BNN), Komjen Polisi Budi Waseso (Buwas) di Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta Timur, Kamis (13/7).
Hal itu disampaikan Buwas di depan ribuan undangan acara Hari Anti Narkotika Internasional (HANI) 2017.
Mantan Kabareskrim Polri itu menambahkan, peredaran narkoba via internet tidak hanya meningkatkan nilai transaksi. Namun, ikut memicu produsen untuk mengembangkan varian baru narkotika yang digemari pasar.
"Belum lagi jenis-jenis baru New Psychoactive Substance (NPS) yang turut menambah tantangan dan hambatan dalam upaya menanggulangi permasalahan narkotika," ungkap alumni Akpol 1984 itu.
Sejak tahun 2008-2015, lanjutnya, telah terdeteksi sebanyak 664 total NPS yang dilaporkan oleh 102 negara. Dari jumlah tersebut, 65 jenis baru telah masuk ke Indonesia.
Data tersebut dikeluarkan oleh United Nation Office of Drugs and Crime (UNODC) dalam laporan World Drug Reports tahun 2016.
Namun, baru 43 jenis narkotika yang sudah dimasukkan ke dalam Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes) RI Nomor. 2 tahun 2017 tentang perubahan penggolongan narkotika.
"Sedangkan sisanya yang 22 jenis belum masuk Permenkes," ungkap jenderal kelahiran Pati, Jawa Tengah itu.
Selain itu, kondisi geografis Indonesia yang terbuka juga kerap dimanfaatkan oleh sindikat internasional. Khususnya, peluang untuk menjadikan Indonesia sebagai pangsa pasar peredaran gelap narkotika dan prekursor narkotika.
"Mereka (sindikat internasional) bisa masuk Indonesia karena banyak pintu masuk melalui jalur ilegal. Bonus demografi Indonesia yang besar. Terutama di usia produktif menjadi target pasar peredaran gelap narkotika dan prekursor narkotika di Asia Tenggara," papar mantan Kapolda Gorontalo itu.
Peredaan narkotika, tururnya, tidak hanya bisa dilakukan oleh perseorangan. Melainkan melibatkan banyak orang secara bersama-sama. Dengan jaringan yang tersebar secara nasional dan internasional menembus sekat-sekat perbatasan wilayah serta negara.
"Jaringan tersebut merupakan sindikat terorganisir dengan cakupan yang luas dan bekerja secara rapi dan sangat rahasia. Sehingga, penindakan peredaran gelap narkotika tidak boleh dilakukan setengah-setengah dan harus dilakukan komprehensif dengan melibatkan seluruh komponen bangsa," demikian Buwas. (gun/rmol/mam/JPG)
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Guruh Soekarnoputra Meninggal, Ini Daftar Anak Soekarno yang Masih Hidup dan Sudah Tiada
Prediksi Skor Hong Kong vs Laos di FIFA ASEAN Cup: Duel Seru Berpotensi Imbang di Kai Tak Stadium
Prediksi Skor Slovakia vs Moldova di Liga Nations UEFA: Sokoli Borong Gol di Futbal Tatran Aréna
Prediksi Skor Albania vs Belarus di Liga Nations UEFA: Kuq e Zinjtë Menang Tipis Hadapi Tim Tamu
Prediksi Skor Bulgaria vs Luksemburg: Duel Ketat, Tuan Rumah Diunggulkan
Prediksi Skor Kamboja vs Myanmar di FIFA ASEAN Cup: Singa Asia Berpeluang Menang Tipis
Prediksi Skor Kuwait vs Irak di Arabian Gulf Cup: Laga Sengit Rawan Berakhir Imbang
Prediksi Skor Makedonia Utara vs Swiss di Liga Nations UEFA: Nati Pesta Gol di Kandang Lawan
Prediksi Skor Lithuania vs Azerbaijan di UEFA Nations League: Duel Ketat Berpotensi Imbang
Prediksi Skor Slovenia vs Skotlandia: Sesko Absen, Era Baru Pocognoli Dimulai di Ljubljana

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022