Minggu, 23 Jul 2017
Metropolis

Tolak Rencana Pembatasan Armada Taksi Online, Driver Tunggu Kenaikan Tarif

Kamis, 13 Jul 2017 02:54 | editor : Suryo Eko Prasetyo

Problem Taksi Online

Problem Taksi Online (Grafis: Erie Dini/Jawa Pos/JawaPos.com)

JawaPos.com – Kekhawatiran pengemudi taksi online terhadap pemberlakuan kuota armada di wilayah Jatim terus berlanjut. Kini muncul penolakan dari pengemudi terhadap rencana tersebut. Pengemudi menganggap pembatasan justru menambah beban pemilik taksi online.

Pembatasan kuota itu terangkum dalam Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 32 Tahun 2016. Perincian pembatasan kuota akan ditetapkan dalam peraturan gubernur (pergub). Namun, hingga kini pergub belum dibahas. Dinas Perhubungan (Dishub) Jatim masih meminta rekomendasi kepada pemerintah pusat.

Kebijakan pembatasan kuota itu dipersoalkan pengemudi dan pemilik taksi online. Yudi Irawan, pengemudi taksi online asal Sidoarjo, menganggap kebijakan tersebut menambah beban pengemudi. Saat ini pendapatan taksi online sangat rendah. Kebijakan menaikkan tarif yang sudah ditunggu pengemudi taksi belum diterapkan. ’’Sekarang ditambah wacana pembatasan kuota,’’ ungkap dia.

Yudi membeli armada baru pada Desember lalu. Dia bergabung taksi online sejak Januari. Naiknya tarif diyakini bisa memperbaiki nasibnya. Namun, rencana pembatasan kuota berpotensi mengancam dirinya. Apalagi, kategori untuk menentukan armada yang masuk kuota masih belum jelas.

Menurut dia, apabila kategori didasarkan pada masa bergabung, sudah pasti dirinya terempas. Saat ini jumlah armada taksi online di Jatim mencapai 5.100 kendaraan. Di sisi lain, gubernur Jatim mengusulkan kuota untuk Jatim hanya 4.484 armada. Artinya, akan ada 600 kendaraan yang tidak masuk kuota. ’’Nah, saya terancam karena baru beberapa bulan bergabung,’’ ungkap Yudi.

Selain dia, masih banyak pengemudi yang bernasib sama. Karena itu, Yudi meminta pemerintah meninjau ulang rencana pembatasan kuota tersebut. Dia juga mengatakan, taksi online tidak bisa disamakan dengan taksi konvensional. ’’Semua orang bisa bergabung dengan online, tinggal mendaftar melalui aplikasi,’’ katanya.

Bahkan, banyak pengemudi online yang tergabung di dua aplikasi. Itu mereka lakukan untuk memaksimalkan pendapatan. Misalnya, operator A sepi pelanggan, mereka akan mengaktifkan akun di operator B. Selain itu, banyak pemilik akun berstatus ganda. ’’Mereka berstatus asli karyawan, pegawai, atau mahasiswa. Taksi online hanya untuk sampingan,’’ jelas Yudi.

Budi Santoso, koordinator Koperasi Wiratama Mandiri Sejahtera (operator taksi Uber), mengungkapkan, parameter untuk menentukan kuota harus jelas. Saat ini parameter dan kriteria itu belum jelas. Wajar saja banyak pengemudi taksi online yang khawatir. ’’Kondisi mereka sudah terjepit dengan tarif, ditambah lagi muncul wacana pembatasan,’’ ungkapnya. Idealnya, yang dilakukan pemerintah saat ini memastikan penerapan kebijakan kenaikan tarif. Permasalahan pembatasan kuota bisa dibahas di kemudian hari. (riq/c7/oni)

Sponsored Content

loading...
 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia