Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 8 Juli 2017 | 16.54 WIB

Payung, Pisau, Sendok, dan Korek Api di Perut Hendro Wijatmiko

MULAI STABIL: Hendro Wijatmiko terbaring di Ruang Mawar RSD dr Soebandi, Jember, Jumat (7/7). - Image

MULAI STABIL: Hendro Wijatmiko terbaring di Ruang Mawar RSD dr Soebandi, Jember, Jumat (7/7).


Baik dokter maupun keluarga menyebut berbagai benda tak lazim di perut Hendro Wijatmiko dimasukkan lewat mulut. Jadi, tak ada hubungannya dengan klenik. Mulai mengalami gangguan jiwa setelah bekerja di Batam.





KHAWAS AUSKARNI, Jember





ARIK Budi Hariyanto masih ingat ketika belum lama berselang sang adik, Hendro Wijatmiko, pernah bercerita tentang hobi ”ngemil”-nya yang sangat tidak lazim. Tiap kali perutnya terasa sakit, Hendro mengaku akan menelan berbagai benda tajam.



”Saya abaikan saja cerita itu karena saya nggak percaya,” katanya kepada Jawa Pos Radar Jember Jumat (7/7).



Tapi, hasil rontgen dokter di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Abdoer Rahem, Situbondo, Kamis lalu (6/7) membuat pria 37 tahun itu terbelalak. Betapa tidak, dalam perut Hendro ternyata ditemukan sejumlah paku payung ukuran besar, pinset (pisau kecil), sendok, bahkan korek api.



”Sekarang baru yakin, ternyata yang ditelan itu beneran. Apalagi, jumlahnya sudah banyak,” jelasnya.



Kemarin Hendro sudah dirawat tim dokter RSD dr Soebandi, Jember. Dia dirujuk ke sana dari RSUD Abdoer Rahem Kamis malam lalu, setelah mengeluh sakit perut.



”Pasien sudah berangsur membaik. Sudah dipindahkan dari IGD (instalasi gawat darurat, Red) menuju Ruang Mawar (ruang perawatan, Red),” ucap dr Justina Evy Tyaswati, kepala Humas RSD dr Soebandi, kemarin.



Pihak rumah sakit belum melakukan tindakan terhadap pria 30 tahun dari Dusun Pesisir, Desa Kilensari, Kecamatan Panarukan, Situbondo, itu. Termasuk operasi. Sebab, tim medis masih melakukan observasi secara menyeluruh.



Sejauh ini, pasien hanya diberi cairan untuk menjaga kondisinya tetap stabil. ”Jika observasi sudah klir, tindakan untuk mengeluarkan sejumlah benda tajam di tubuh pasien pasti dilakukan,” katanya.



Yang menggembirakan, papar Evy, sejauh ini kondisi pasien bagus. Juga, Hendromau meminum obat yang diberikan rumah sakit. Meski jika dilihat dari riwayat medisnya, dia pernah mengalami gangguan jiwa. ”Kondisi kejiwaan tidak mengganggu perawatan yang dilakukan,” jelasnya.



Menurut Arik, sebelum mengeluhkan sakit di perut, adiknya bekerja di laut (mencari ikan) dan di tambak milik orang lain. ”Adik saya masih bujang. Tinggal sama ibu saja. Sedang saya sudah rumah sendiri,” paparnya.



Sebelum jadi nelayan, sekitar tiga hingga empat tahun sebelumnya, Hendro sempat merantau ke Batam. Dia bekerja di galangan kapal. Sepulang dari perantauan itulah mulai muncul gelagat aneh pada diri Hendro.



Dia tampak seperti mengalami kelainan jiwa. Saat kambuh, Hendro kerap menyendiri tanpa komunikasi. ”Jika kumat, dia tidak marah-marah seperti orang gila. Dia hanya menyendiri,” kata Arik.



Kondisi kejiwaan itulah yang membuat Arik yakin bahwa bersarangnya berbagai benda tersebut di perut sang adik tak berhubungan dengan santet, teluh, atau hal klenik lain. ”Tapi memang dia masukkan sendiri ke dalam perut, entah sadar atau tidak,” tutur dia.

Editor: Miftakhul F.S
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore