Minggu, 23 Jul 2017
Bisnis

Terobosan BP Batam Selamatkan Industri Galangan Kapal

Kamis, 06 Jul 2017 15:39 | editor : Ilham Safutra

Suasana di kawasan industri galangan kapal yang berlokasi di Tanjunguncang, Batuaji, Batam,

Suasana di kawasan industri galangan kapal yang berlokasi di Tanjunguncang, Batuaji, Batam, (Dok. Batam Pos/JawaPos.com)

JawaPos.com - Industri galangan kapal (shipyard) selama ini menjadi tulang punggung perekonomian Kota Batam selama ini. Namun akibat lesunya ekonomi global membuat perusahaan shipyard sepi orderan. Satu persat perusahaan terpaksa gulung tikar.

Kepala BP Batam, Hatanto Reksodipoetro menyebut, faktor penyebab jatuhnya industri shipyard di Batam bukan hanya pengaruh ekonomi global saja, tapi juga faktor teknologi. "Semua orang tahu sebagian besar teknologi shipyard di Batam masih rendah," jelasnya seperti dilansir Batam Pos (Jawa Pos Group), Kamis (6/7).

Hingga saat ini, ratusan shipyard di Batam hanya membuat kapal tongkang untuk keperluan eksplorasi minyak dan gas (migas). "Shipyard kita menggantungkan pasarnya dari tambang minyak dan batubara. Sehingga begitu tambang jatuh, pesanan tongkang berkurang," sambungnya.

Industri galangan kapal di Batam sejak tahun lalu lesu.

Industri galangan kapal di Batam sejak tahun lalu lesu. (Dalil Harahap/Batam Pos/JawaPos.com)

Agar industri ini dapat diselamatkan, maka BP Batam berkeras ingin memasukkan industri berteknologi tinggi ke dalam shipyard yang mau membangun kapal-kapal kelas tinggi.

Dia berharap shipyard berteknologi tinggi bisa mentransfer ilmunya kepada shipyard-shipyard yang sudah lama bermukim di Batam. "Kita cari investor berteknologi tinggi sehingga potensi yang lebih tinggi bisa dilihat. Harapannya shipyard yang ada nanti tidak hanya buat tongkang saja, tapi juga buat kapal militer atau lainnya," ungkapnya.

Hatanto mengungkapkan, pemikirannya bagaimana jika shipyard menggabungkan asetnya, baik itu lahan maupun modalnya. Karena seperti yang telah diketahui, lahan tepi pantai yang bisa dialokasikan untuk shipyard sudah tidak ada lagi. "Sehingga mereka bisa kerjasama. Investor pun jadi tertarik. Shipyard itu sangat penting," tegasnya.

Seperti diketahui, Batam Shipyard Offshore Association (BSOA) mencatat, sejauh ini sudah ada 20 galangan kapal yang tutup karena sepinya pesanan. “Anggota BSOA itu ada 50, dan 20 perusahaan sudah berhenti produksi,” kata Sekretaris BSOA, Suri Teo, beberapa waktu lalu.

Sementara 30 perusahaan lainnya mencoba bertahan karena masih menyelesaikan pesanan kapal di tahun lalu. Sebagian lainnya hanya melakukan perbaikan kapal-kapal kecil. Sedangkan mengenai jumlah karyawan, saat ini tinggal tersisa 2.500 orang. Sebelumnya, pekerja galangan kapal di Batam sempat menembus angka 250 ribu pekerja. (**/iil/JPG)

Sponsored Content

loading...
 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia