
Bupati Siak Syamsuar ikut memainkan Meriam Buluh, pada saat menyemarakkan penyambutan Idul Fitri di Kabupaten Siak.
JawaPos.com - Setiap daerah di Indonesia tentunya memiliki permainan rakyat yang menjadi ciri khasnya. Akan tetapi perkembangan zaman yang pesat membuat permainan itu tergerus zaman.
Menyadari bakal punahnya permainan meriah buluh (bambu), Bupati Siak, Provinsi Riau, Syamsuar menghidupkan lagi permainan itu. Bahkan sang bupati tak segan untuk turun tangan meletupkan meriam tersebut.
Letupan meriam buluh yang dilakukan Syamsuar itu berlangsung pada pembukaan Festival Meriam Buluh pada pengujung Ramadan lalu. "Meriam buluh ini dulu adalah permainan budak-budak melayu saat menunggu beduk magrib. Hari ini saya meletupkanya kembali, " tulis Syamsuar di akun Fanpage Facebook miliknya, Sabtu (24/5) malam.
Bertempat di Tepian Bandar Sungai Jantan, Bupati Siak Syamsuar meletupkan meriam buluh memecah keheningan tepian Sungai Terdalam di Indonesia itu. Kehadiran Syamsuar dalam festival itu membuat tidak ada lagi sekat antara Bupati dan rakyatnya malam itu. Semuanya berbaur penuh sukacita merayakan kemenangan.
Syam demikian sapaan akrabnya larut memainkan tradisi yang sudah hampir punah itu. Kain sarung yang tadinya dipakai bersama baju teluk belanga itu, kini berpindah posisinya menyamping di pundak. Dengan posisi jongkok dia membunyikan meriam itu berkali kali.
Dia menuturkan, Pemkab Siak berkomitmen untuk terus menggali khasanah Melayu. Permainan rakyat semacam itu adalah identitas masyarakat Melayu. Ke depan acara semacam itu tidak hanya diselenggarakan saat Ramadan. Tetapi juga pada momen lainnya seperti HUT Siak, Festival Siak Bermadah.
Selain agar terus lestari, ini juga dapat menjadi daya pikat wisatawan lokal. "Ini akan terus kita lestarikan sebagi orang Melayu yang tinggal di negeri melayu. Kita wajib melestarikan tradisi telah hilang," ujarnya.
Bahkan politikus Golkar ini bercita-cita, di kemudian hari dapat memecahkan rekor MURI dengan menyalakan 1.000 meriam buluh.
Said Muzani, salah seorang tokoh Siak menceritakan, sejarah kenapa meriam buluh ini dimunculkan lagi. Tradisi membunyikan meriam ini sudah ada sejak zaman kerajaan.
Semasa itu untuk membangunkan masyarakat yang hendak sahur di bulan ramadan, anak-anak bujang di rumahnya masing-masing menghidupkan meriam buluh. Saat sore pun demikian meriam kembali dihidupkan sebelum waktu berbuka puasa tiba.
"Sejak zaman kerajaan dulu sudah ada. Anak-anak bujang yang memainkan biasanya. Suaranya bersaut-sautan dari sini dan seberang sana," kata Said.
Lebih lanjut dikisahkannya, pada tahun 80-an hingga era 90-an tradisi meriam ini masih terjaga di kalangan masyarakat Siak. Bahkan saat itu pembuat meriam masih mudah untuk dicari. Namun seiring perkembangan zaman dentuman meriam buluh sudah jarang terdengar lagi karena sudah diganti dengan mercun, dan petas-petasan yang bahannya dari karbit. (dik/iil/JPG)

Santriwati di Pekalongan Diklaim Keluarga Hamil Tanpa Berhubungan, Masa Iya?
14 Rekomendasi Gado-Gado Paling Recomended di Surabaya, Cita Rasa Klasik Autentik dan Harga Ramah di Kantong
Berburu Oleh-Oleh Khas Pasuruan? Ini 15 Buah Tangan yang Cocok untuk Keluarga di Rumah Berdasarkan yang Paling Dicari Wisatawan
10 Rekomendasi Mall Terlengkap di Surabaya, Surganya Liburan Anak Muda Buat Shopping
10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
13 Rekomendasi Tempat Liburan di Malang dengan Pilihan Wisata Alam, Hiburan, dan Spot Santai yang Membuat Pikiran Lebih Fresh
10 Tempat Makan Pempek Favorit di Bandung, Pilihan Menu Lengkap, Rasa Autentik, dan Perpaduan Cuko yang Kaya Rempah
Rekomendasi 13 Wisata Terbaik di Bandung untuk Liburan Santai, Healing, dan Quality Time Bersama Orang Tersayang
16 Tempat Wisata Terbaik di Pandaan Pasuruan yang Buat Liburan Penuh Panorama Alam, Pegunungan dan Ketenangan
Tak Perlu lagi Pusing Parkir, Ini Rute Transjakarta Paling Pas ke Indonesia Arena GBK
