Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 28 Juni 2017 | 03.09 WIB

Ihwal Halalbihalal

A. Helmy Faishal Zaini - Image

A. Helmy Faishal Zaini


MANTAN Duta Besar Belanda untuk Indonesia Nikolas van Dam (2007) menyatakan bahwa tradisi halalbihalal dan bermaaf-maafan bukanlah tradisi Islam yang datang dari Arab. Ia asli kreasi dan tradisi Islam Indonesia. Pernyataan itu, bagi saya, memiliki makna yang sangat dalam. Bahwa corak dan pola beragama ala Islam Nusantara penuh baluran kearifan lokal yang cenderung kompromistis, akomodatif, dan penuh pesan perdamaian.



Nikolas yang juga ahli sastra Arab terang-terangan menyatakan bahwa istilah halalbihalal bukanlah istilah asli dari bahasa Arab. Dari penelitian panjangnya, frasa halalbihalal tidak ditemukan dalam bahasa Arab. Halalbihalal merupakan rekaan atau rekayasa sosial yang lahir dari pemikiran arif ulama-ulama Nusantara.



Saya melacak pelbagai sumber rujukan untuk menelaah sejarah bagaimana halalbihalal itu bisa terjadi. Hasilnya, ada sebuah sumber yang menyatakan bahwa tradisi halalbihalal bermula dari peristiwa pada 1948. Saat ini kita tahu, bangsa Indonesia sedang dalam ancaman disintegrasi. Pertikaian antarelite politik sedang terjadi. Istilah Jawanya pitik tarung sak kandang (ayam bertengkar dalam kandang sendiri).



Kala itu kita juga ingat bahwa ancaman pemberontakan sedang gencar-gencarnya. Salah satunya datang dari mereka yang ingin membentuk Negara Islam Indonesia (DI/TII) pimpinan Sekarmadji Marijan Kartosowirjo.



Di tengah situasi sosial dan kebangsaan yang demikian itulah, Presiden Soekarno memanggil Rais Am PB NU KH Abdul Wahab Hasbullah. Bung Karno memohon saran kepada Kiai Wahab soal langkah apa yang harus ditempuh untuk mendinginkan keadaan. Kiai Wahab menyarankan kepada Bung Karno untuk menghelat acara silaturahmi. Menurut Kiai Wahab, cara ampuh untuk mengakhiri pertikaian adalah silaturahmi.



Bung Karno sependapat dengan Kiai Wahab. Hanya, dia tidak setuju dengan penggunaan istilah silaturahmi. Bung Karno menilainya terlalu biasa. Padahal, forum yang akan dihelat itu bersifat sangat luar biasa. Kiai Wahab dengan cerdas akhirnya menjawab, ’’Itu gampang. Kita pakai istilah halalbihalal saja. Masing masing kita akan menghalalkan (memaafkan) kesalahan yang telah kita perbuat.’’



Dari situlah istilah halalbihalal muncul dan kemudian menjadi tradisi yang selalu dilakukan umat Islam Indonesia saat Idul Fitri. Tradisi itu, dalam hemat saya, merupakan bukti empiris bahwa kearifan lokal bisa berbalur dengan ajaran agama Islam. Simbiosis antara kearifan lokal dan ajaran Islam menjadi roh serta nadi aktivitas keagamaan model Islam Nusantara. Pada gilirannya, meminjam istilah Said Aqil Siroj, kebudayaan bisa dijadikan infrastruktur penyokong paham keagamaan.



Dalam konteks berbangsa dan bernegara, saya ingin mengingatkan kembali pentingnya upaya saling memaafkan antarelemen bangsa. Dalam Islam kita mengenal dua dimensi ibadah: dimensi ritual atau yang biasa disebut kesalehan ritual dan dimensi sosial yang acap disebut kesalehan ritual.



Dua dimensi tersebut juga sering dikenal dengan istilah hablum minallah (hubungan vertikal dengan Allah) dan hablum minannãs (hubungan dengan sesama manusia). Keduanya tidak boleh terputus sama sekali. Keduanya harus berkelindan satu dengan yang lain. Saleh ritual saja tidak cukup. Manusia yang beragama itu juga harus saleh sosial. Sebaliknya, saleh sosial saja juga tidak memenuhi pas. Sebab, manusia harus memelihara hubungan dengan Tuhannya secara privat.



Problemnya, konsep hablum minallah dan hablum minannãs itu pada praktiknya kerap cenderung diputus. Artinya, ada ketidaksinkronan antara ritus keagamaan dan ibadah sosial. Ada yang seolah terputus sehingga kita kerap menemukan profil seseorang yang ibadahnya rajin, tetapi masih suka menghina, mencaci, dan menyakiti pihak lain. Ada yang terputus antara dimensi ritual dan dimensi sosial.



Saya teringat catatan sejarawan Ibnu Khordabeh (1987) dalam catatan perjalanannya yang sangat terkenal bertajuk Al-Masãlik Wal Mamãlik bahwa karakter bangsa Nusantara adalah karakter kosmopolit. Kosmopolitanisme bangsa Nusantara tecermin dari sikapnya yang terbuka, egaliter, dan blak-blakan. Dalam catatan Khordabeh, bandar-bandar di sepanjang pesisir laut Jawa adalah bandar-bandar yang ramai dengan aktivitas perdagangan yang hilir mudik. Mereka yang pendatang diterima dengan suka cita dan dijadikan bagian dari diri mereka.



Paradigma untuk memandang orang di luar diri bukanlah paradigma yang menempatkan mereka sebagai orang lain yang asing dan berbeda dengan dirinya, tetapi justru sebaliknya, sebagai bagian yang ’’membentuk’’ dirinya. Dari paradigma itu, bangsa Nusantara sesungguhnya pada dasarnya tidak mengenal kosakata liyan dan the others.



Paradigma yang menempatkan orang lain sebagai bukan dari dirinya sesungguhnya lahir dan, dalam hemat saya, merupakan warisan kolonialisme. Mereka mengajarkan kepada kita bagaimana memandang orang di luar diri kira sebagai bukan bagian dari kita sehingga mereka harus dimusuhi, dimusnahkan, dan dibumihanguskan. Itulah akar penjajahan dan kolonialisme yang sejatinya lahir dari sifat eksklusivisme yang cenderung barbarian.



Paradigama yang seperti itu lahir dari mereka yang memiliki watak tertutup dan jumud. Sementara itu, kita tahu, watak tersebut sejatinya bukanlah watak asli bangsa Indonesia yang lahir dari bangsa Nusantara, yang dalam pandangan Ibnu Khordabeh sebagaimana saya ungkapkan di atas merupakan bangsa yang kosmopolit dan terbuka.



Ala kulli hal, dalam momen Idul Fitri ini, saya mengajak masing-masing di antara kita untuk saling membuka pintu maaf yang sebesar-besarnya bagi siapa pun yang telah berbuat kesalahan, baik disengaja maupun tidak. Tidak ada kemuliaan yang lebih tinggi daripada memberi maaf kepada sesama. Selamat Hari Raya Idul Fitri 1438 H. Wallahu a’lam bishhawab.

Editor: Suryo Eko Prasetyo
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore