Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 27 Juni 2017 | 18.02 WIB

Penertiban Bangli di Sempadan Kali Buntung Lanjut Door-to-Door

Bangli Hilang, Normalisasi Berjalan - Image

Bangli Hilang, Normalisasi Berjalan

JawaPos.com – Sosialisasi penertiban Kali Buntung di empat desa di Waru, yakni Bungurasih, Medaeng, Waru, dan Kedungrejo, telah tuntas. Pascalebaran ini, Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Sidoarjo akan melanjutkan agenda sosialisasi ke sepuluh desa lain di arah timur yang masih masuk wilayah Waru.


Dua desa yang akan didahulukan untuk mendapatkan sosialisasi lanjutan adalah Ngingas dan Kureksari. Bila sebelumnya warga dikumpulkan di balai desa, kali ini petugas akan door-to-door ke rumah warga pemilik bangunan liar (bangli).


Camat Waru Fredik Suharto menjelaskan, rencana turun langsung ke lapangan itu digagas setelah pihaknya berdiskusi dengan para kepala desa di Waru. Sosialisasi dari pintu ke pintu itu diharapkan dapat mendatangkan hasil yang lebih cepat dan optimal. "Warga yang rumahnya melanggar sempadan kami datangi satu per satu," katanya Senin (26/6).


Mereka diharapkan bisa segera merobohkan sendiri bangunannya yang melanggar batas sempadan. "Sehingga kayu dan barang-barang lain yang masih bisa dimanfaatkan tidak ikut diangkut," jelasnya.


Kepala Bidang Bina Manfaat Dinas PUPR Sidoarjo Bambang Tjatur menyampaikan, saat ini timnya masih mengumpulkan data-data lapangan dari empat desa yang telah menerima sosialisasi. Mulai lebar sempadan sampai lebar dan alur sungai. Patokannya adalah sertifikat tanah milik warga.


"Sebagai pedoman, kami gunakan data sertifikat Desa Waru," jelasnya. Bambang menjelaskan, untuk mendata lebar sempadan di sepanjang aliran sungai, tim menggunakan cara manual. Mereka membuat gambar Kali Buntung. Setelah itu, menggambar posisi rumah warga.


Dari bibir sungai, ditarik 10 meter ke arah rumah. Sepuluh meter merupakan lebar sempadan Kali Buntung yang menjadi patokan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Brantas. Lebar sungainya sendiri telah ditetapkan 15 meter.


Ukuran lebar sungai dan sempadan di Desa Waru itu menjadikan patokan untuk tiga desa lainnya. Cara penentuan sempadan dan alur sungai di tiga desa yang lain sama. Saat ini gambar alur sungai dan lebar sempadan di empat desa tersebut sudah tuntas. "Tinggal kami umumkan kepada warga. Setelah Lebaran kami kumpulkan warga," kata Bambang.


Normalisasi Kali Buntung sendiri diperkirakan tidak bisa tuntas dalam tahun ini. Sebab, sekarang sudah akhir Juni, waktu pengerjaannya sangat minim. Hanya tersisa enam bulan ganti tahun anggaran.


Kepala Bidang Operasional Dinas PUPR Agus Hidayat mengatakan, ada enam anak sungai di aliran Kali Buntung yang bakal dikeruk. Diangkut sedimen yang mengendap di dasarnya. Yakni, afvoer Bulubendo, Bono, Buntung, Cantel, Pranti, dan Mangetan Kanal. "Tidak bisa semuanya jika satu tahun," ujarnya.



Mau tidak mau dinas PUPR akan memprioritaskan saluran-saluran yang kritis. Di Kali Buntung, misalnya. Ada empat lokasi yang didahulukan. Yakni, daerah Medaeng, Kedungrejo, Waru, dan Bungurasih. (aph/c10/pri)

Editor: Suryo Eko Prasetyo
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore