Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 27 Juni 2017 | 17.56 WIB

Faza Amaly Sulthon, Compositor Surabaya di Film Box Office Hollywood

POLESAN DIGITAL: Faza Amaly Sulthon memoles adegan animasi film. Kiprahnya mendunia. - Image

POLESAN DIGITAL: Faza Amaly Sulthon memoles adegan animasi film. Kiprahnya mendunia.

Terpukau dengan efek visual Pirates of the Caribbean: Dead Men Tell No Tales? Semua pasti tahu, ada kerja keras para compositor visual effects di balik efek film yang ciamik itu. Tapi, yang banyak orang tidak tahu, ada nama compositor muda asli Surabaya dalam film box office tersebut. Dialah Faza Amaly Sulthon.



ANTIN IRSANTI 

FAZA Amaly Sulthon baru tiga pekan berada di Indonesia. Di tanah kelahirannya, Surabaya, dia menyibukkan diri di Studio Hompimpa di Jalan Dharmawangsa. Sehari-hari dia memantau dan membantu pengerjaan animasi yang menjadi proyeknya saat ini.


Di antara sekian banyak orang, Faza tampak paling muda. Umurnya baru 24 tahun. Rambutnya pendek sebahu. Dia juga mengenakan kacamata dengan frame ukuran sedang. Tak ubahnya gadis kebanyakan.


Namun, jangan ditanya soal pengalaman. Di usia yang masih belia, Faza sudah berkesempatan bekerja langsung dengan rumah produksi yang menghasilkan film-film box office.


Sebut saja Twentieth Century Fox Film Corporation, Marvel Entertainment, Walt Disney Picture, Paramount Picture, dan DreamWorks. Kesempatan itu berhasil diraihnya saat bekerja di Moving Picture Company (MPC).


Yakni, perusahaan bergengsi yang salah satu bidangnya berfokus pada visual effects film. Lokasinya di Vancouver, Kanada. "Rasanya kayak dream come true," ujar Faza.


Kesempatan itu berhasil dia dapatkan setelah menyelesaikan pendidikan satu tahun di Vancouver Film School pada 2014.


Jurusan yang dipilihnya adalah 3D animation and visual effect. Rupanya, pada tahun yang sama, MPC membuka kesempatan bagi para fresh graduate untuk magang di tempatnya. Tak disangka, Faza berhasil lolos seleksi.


Di MPC, Faza mendapatkan training membuat efek visual pada film selama tiga bulan. Setelah itu, baru dia terjun langsung ke film. Proyek pertamanya adalah The Revenant yang dibintangi Leonardo DiCaprio. Pemeran Hugh Grass itu akhirnya menyabet Oscar sebagai aktor terbaik. "Dulu masih junior. Jadi, saya ngerjain tugas untuk bantu-bantu senior," tuturnya.


Proyek The Revenant tidak lama dikerjakannya. Saat itu, Faza memang belum mendapat tugas banyak. Meski demikian, namanya berhasil masuk daftar compositor visual effects pada film itu. Compositor visual effect bertugas menyusun adegan-adegan yang sebelumnya terserak dalam berbagai penggalan efek visual.


Setelah selesai proyek The Revenant, anak keempat di antara lima bersaudara itu dipindahkan ke proyek The Finest Hour. Faza menyelesaikan proyek efek visual film tersebut dalam waktu empat bulan. Saat itu, posisinya juga masih junior. Namun, namanya kembali muncul dalam credit film. ''Satu film biasanya dikerjakan oleh ratusan compositor. Sedangkan yang masuk ke credit hanya sebagian. Kalau bisa masuk, rasanya tuh kerja kita lebih dihargai," terangnya.


Karir Faza semakin cemerlang ketika ditugaskan dalam film X-Men: Apocalypse. Proyek film tentang mutan-mutan super itu adalah pengalaman yang paling berkesan bagi Faza. Sebab, dia mengikuti proses awal hingga akhir. Kepercayaan supervisor terhadapnya juga semakin tinggi. Putri pasangan Sulthon Amin dan Enny Sulthon tersebut mendapat tugas lebih banyak.


Meski berkesan, bukan karya di X-Men yang paling disukai Faza. Perempuan yang pernah mengenyam pendidikan satu tahun di Sheridan College jurusan art fundamental itu paling puas dengan pekerjaannya di Pirates of the Caribbean 5.


Dalam pengerjaan proyek film yang dibintangi Johnny Depp itu, Faza benar-benar berupaya mengeluarkan seluruh kemampuannya. Dia memang menginginkan hasil yang terbaik untuk setiap pekerjaannya. Apalagi, deadline film Disney tersebut cukup lama. Karena itu, Faza bisa benar-benar mengerjakannya dengan optimal.


Hasilnya pun memuaskan. Supervisor menyukai hasil karyanya. Untuk itu, sang supervisor memberinya "bonus". Yakni, mengerjakan sequence (tata adegan) yang paling sulit dalam film tersebut.

Editor: Suryo Eko Prasetyo
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore