Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 23 Juni 2017 | 21.29 WIB

Saran YLKI Ketika Destinasi Wisata Ramai Pengunjung Saat Lebaran

Sala satu objek wisata di Purbalingga. - Image

Sala satu objek wisata di Purbalingga.

JawaPos.com - Biasanya setelah salat Id, umat muslim pada Idul Fitri  berkunjung ke rumah kerabat dan handai taulan untuk bersilaturahmi. Setelah itu tidak sedikit pergi berliburan ke sejumlah objek wisata.


Bagi para pengunjung yang mendatangi objek wisata perlu memerhatikan destinasi yang dituju. Ketua Pengurus Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Tulus Abadi mengatakan, pada setiap lebaran hampir semua destinasi wisata penuh sesak oleh wisatatawan nusantara. "Biasanya mulai hari ketiga setelah lebaran," ujar Tulus dalam pesan singkatnya yang diterima JawaPos.com, Jumat (23/6).


Menurutnya Idul Fitri ada sebuah fenomena positif. Ekonomi lokal tumbuh. Objek wisata pun bergairah. Namun di saat pengunjung mengalami lonjakan tajam, tak jarang ada pihak tertentu yang mencoba mengambil keuntungan secara tidak wajar. Akibatnya pengunjung yang dirugikan.


Guna menghindari hal-hal tersebut, YLKI mengimbau kepada Dinas Pariwisata di setiap daerah melakukan audit teknis terhadap objek wisata di wilayahnya. Terutama untuk kelengkapan sarana prasana di lokasi wisata tersebut, apakah masih layak atau tidak.


Pengelola wisata harus punya standar kapasitas maksimum untuk pengunjung. Jangan memaksakan menjual tiket masuk, padahal lokasi wisata sudah over kapasitas. "Karena over capacity bukan hanya mengganggu kenyamanan, tapi juga keamanan dan keselamatan konsumen sebagai pengguna jasa wisata," katanya.


Untuk objek wisata air yang memiliki risiko tinggi, pengelolanya wajib menyediakan alat-alat penunjang keselamatan seperti pelampung atau jaket keselamatan. Sehingga  ketika terjadi accident konsumen korban bisa cepat dievakuasi dan diselamatkan.


Selain itu, sambung Tulus, Dinas Pariwisata dan juga pengelola wisata harus memonitor harga-harga makanan dan minuman agar tidak "nggetok" konsumen. Pengelola warung, restoran harus mencantumkan daftar menu sekaligus dengan daftar harga yang transparan. "Pengunjung wisata jangan dieksploitasi dengan harga makanan dan minuman yang ugal-ugalan," teganya.

Lebih lanjut ungkap Tulus, konsumen jangan memaksakan diri memasuki area destinasi wisata, jika sekiranya sudah over capacity, dan tidak menggunakan sarana prasarana di lokasi wisata jika terlihat sudah keropos dan tidak dirawat, atau tidak dilengkapi dengan sarana penunjang keselamatan.


Pengelola tempat wisata juga diharapkan dapat menambah fasilitas toilet dengan toilet  portable dan menjamin ketersediaan air. Adanya jumlah antrean di toilet, khususnya toilet perempuan, menunjukkan kurangnya fasilitas. "Jumlah toilet perempuan seharusnya lebih banyak daripada toilet laki-laki," ungkapnya.


Lokasi wisata juga seharusnya dilengkapi dengan klinik kesehatan dan petugas medis yang stand by selama lokasi wisata beroperasi. "Ini sangat penting untuk melakukan pertolongan pertama dan bahkan menyelamatkan korban," pungkasnya. (cr2/JPG)

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore