
Sala satu objek wisata di Purbalingga.
JawaPos.com - Biasanya setelah salat Id, umat muslim pada Idul Fitri berkunjung ke rumah kerabat dan handai taulan untuk bersilaturahmi. Setelah itu tidak sedikit pergi berliburan ke sejumlah objek wisata.
Bagi para pengunjung yang mendatangi objek wisata perlu memerhatikan destinasi yang dituju. Ketua Pengurus Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Tulus Abadi mengatakan, pada setiap lebaran hampir semua destinasi wisata penuh sesak oleh wisatatawan nusantara. "Biasanya mulai hari ketiga setelah lebaran," ujar Tulus dalam pesan singkatnya yang diterima JawaPos.com, Jumat (23/6).
Menurutnya Idul Fitri ada sebuah fenomena positif. Ekonomi lokal tumbuh. Objek wisata pun bergairah. Namun di saat pengunjung mengalami lonjakan tajam, tak jarang ada pihak tertentu yang mencoba mengambil keuntungan secara tidak wajar. Akibatnya pengunjung yang dirugikan.
Guna menghindari hal-hal tersebut, YLKI mengimbau kepada Dinas Pariwisata di setiap daerah melakukan audit teknis terhadap objek wisata di wilayahnya. Terutama untuk kelengkapan sarana prasana di lokasi wisata tersebut, apakah masih layak atau tidak.
Pengelola wisata harus punya standar kapasitas maksimum untuk pengunjung. Jangan memaksakan menjual tiket masuk, padahal lokasi wisata sudah over kapasitas. "Karena over capacity bukan hanya mengganggu kenyamanan, tapi juga keamanan dan keselamatan konsumen sebagai pengguna jasa wisata," katanya.
Untuk objek wisata air yang memiliki risiko tinggi, pengelolanya wajib menyediakan alat-alat penunjang keselamatan seperti pelampung atau jaket keselamatan. Sehingga ketika terjadi accident konsumen korban bisa cepat dievakuasi dan diselamatkan.
Selain itu, sambung Tulus, Dinas Pariwisata dan juga pengelola wisata harus memonitor harga-harga makanan dan minuman agar tidak "nggetok" konsumen. Pengelola warung, restoran harus mencantumkan daftar menu sekaligus dengan daftar harga yang transparan. "Pengunjung wisata jangan dieksploitasi dengan harga makanan dan minuman yang ugal-ugalan," teganya.
Lebih lanjut ungkap Tulus, konsumen jangan memaksakan diri memasuki area destinasi wisata, jika sekiranya sudah over capacity, dan tidak menggunakan sarana prasarana di lokasi wisata jika terlihat sudah keropos dan tidak dirawat, atau tidak dilengkapi dengan sarana penunjang keselamatan.
Pengelola tempat wisata juga diharapkan dapat menambah fasilitas toilet dengan toilet portable dan menjamin ketersediaan air. Adanya jumlah antrean di toilet, khususnya toilet perempuan, menunjukkan kurangnya fasilitas. "Jumlah toilet perempuan seharusnya lebih banyak daripada toilet laki-laki," ungkapnya.
Lokasi wisata juga seharusnya dilengkapi dengan klinik kesehatan dan petugas medis yang stand by selama lokasi wisata beroperasi. "Ini sangat penting untuk melakukan pertolongan pertama dan bahkan menyelamatkan korban," pungkasnya. (cr2/JPG)

Pemerintah Perkuat Pengawasan Tata Niaga Minyak Goreng, Mafia Pangan Bakal Disikat Habis
Bocor! Ini Alasan Yuran Fernandes Terima Pinangan Bernardo Tavares untuk Perkuat Persebaya Surabaya
Prediksi Skor PSG vs Arsenal di Final Liga Champions 2025/2026! Les Parisiens Unggul Tipis
11 Barang yang Secara Psikologi Jadi Pemborosan Orang Miskin tapi Tak Pernah Dibeli Orang Kaya
Prediksi Line Up PSG Menghadapi Arsenal di Final Liga Champions
Suasana di Dalam Tenda Glamping Tempat Satu Keluarga Tewas di Temanggung
Harga Pasaran 4 Pemain Lokal Ini Bikin Kaget! Meroket usai Bawa Persebaya Surabaya Finis Papan Atas
Breaking News! Persebaya Surabaya Deal Rekrut Ramadhan Sananta, Mesin Gol Baru Era Bernardo Tavares
20 Cafe Paling Instagramable di Surabaya, Tempat Ngopi yang Bukan Hanya Kuliner Enak tapi Juga Estetik
Cek Warna Keberuntungan Menurut Hari dan Pasaran Jawa: Rahasia Menarik Energi Positif dan Kesuksesan Setiap Hari!
