Jumat, 23 Jun 2017
Hukum & Kriminal

Jejak Teroris di Surabaya, Sejak 2014 Ada Enam yang Diringkus

Senin, 19 Jun 2017 23:57 | editor : Ilham Safutra

Anggota Densus 88 mengamankan rumah terduga teroris di Surabaya usai penangkapan. (Dida Tenola/JawaPos.com)

JawaPos.com - Penangkapan terduga teroris di Surabaya bukan yang pertama kalinya dilakukan jajaran Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Polri. Agus Trimulyono, yang diduga bergabung dengan jaringan Abu Jandal bukan orang pertama yang diamankan.

Berdasar data yang dihimpun JawaPos.com, setidaknya sudah ada enam orang, termasuk Agus, yang dibekuk di Surabaya. Mereka terafiliasi ke beberapa jaringan teroris internasional. Tahun 2014 silam ada dua kejadian penangkapan pelaku teror di ibu kota Jawa Timur tersebut. Yakni tanggal 20 Januari dan 14 Agustus.

Tanggal 20 Januari, dua orang yang merupakan jaringan Poso, yakni Isnaini alias Doni dan Abdul Majid ditangkap di dua tempat yang berbeda. Doni ditangkap di sekitar SPBU Kedung Cowek, sedangkan Abdul Majid digrebek di rumah kontrakannya di Jalan Tanah Merah Sayur I/ 17.

Kala itu, berdasar informasi yang diperoleh, keduanya berencana mengembom sejumlah target pusat keramaian. Antara lain pos polisi dekat mal di Surabaya Timur, tempat karoke dekat THR, kafe di Jalan kayoon dan Jalan Sumatera, hingga Mapolsek Wonocolo.

Beberapa bulan kemudian, Densus juga mengamankan Abu Fida di Jalan Sidotopo Sekolahan I. Dia ditangkap karena bergabung dengan kelompok dr. Azahari.

Anggota Densus 88 mengamankan rumah terduga teroris di Surabaya usai penangkapan.

Anggota Densus 88 mengamankan rumah terduga teroris di Surabaya usai penangkapan. (Dida Tenola/JawaPos.com)

Selanjutnya penangkapan terduga pelaku teror juga dilakukan di Surabaya pada tanggal 8 Juni 2016. Bertepatan dengan Ramadan, sama seperti sekarang, tiga orang yang bergabung dengan Jamaah Ansharut Tauhid (JAT) ditangkap di rumah kontrakan masing-masing. Meraka adalah Priyo Hadi Purnomo alias Pur yang ditangkap di Lebak Timur III D/18, Jefri yang ditangkap do Jalan Kalianak 55, dan Feri Novendi yang ditangkap di Lebo Agung III/ 88.

Kala itu, penangkapan mereka sempat membuat warga Surabaya was-was. Pasalnya jika saja Densus tidak mencium rencana dan jejak mereka, bisa saja mal di Surabaya Timur, tiga pos polisi dan sebuah Mapolsek bakal menjadi sasaran bom.

Yang terbaru tentu penangkapan Agus Trimulyono yang menggerkan warga Tanah Merah, Kenjeran Surabaya. Pria yang sehari-hari dikenal sebagai pedagang sayur itu diduga menjadi aktor dibalik video pria yang menenteng senjata AK-47 di Syria. "Video itu banyak beredar di YouTube," ujar Kabid Humas Polda Jatim Kombes Frans Barung Mangera.

Sebelum menangkap Agus Senin siang, Densus lebih dulu membekuk Syahrul Munif di Singosari, Malang. Saat ini polisi masih memeriksa alat komunikasi dan bukti-bukti lain yang diamankan dari TKP Surabaya dan Malang.

Soal penindakan pelaku teror di Jawa Timur, dan Surabaya, khususnya, Barung menegaskan bahwa hal itu menjadi bukti bahwa polisi tidak tinggal diam. Selama ini, Mabes Polri maupun Polda Jatim terus mengawasi pergerakan dan aktifitas-aktifitas yang mencurigakan. Polisi memastikan bahwa mereka selalu selangkah lebih awal untuk mendeteksi ancaman-ancaman teror yang akan ditebar para pelaku.

"Kami berkomitmen untuk menjaga kondusifitas Jawa Timur. Jadi ruang gerak pelaku (teroris) akan selalu kami persempit dan tidak kami biarkan untuk mengganggu ketentraman masyarakat," tegas alumnus Akademi Kepolisian (Akpol) 1992 tersebut. (did/JPG)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia