Kamis, 24 Aug 2017
Metropolis

Mengenal Dirut Baru PDAM Surya Sembada, Gagal Siap Terima Konsekuensi

| editor : 

Direktur Utama PDAM Surya Sembada Mujiaman Sukirno

Direktur Utama PDAM Surya Sembada Mujiaman Sukirno (Salman Muhiddin/Jawa Pos/JawaPos.com)

Wali Kota Tri Rismaharini melantik Mujiaman Sukirno sebagai Dirut PDAM Surya Sembada pada Jumat (16/6). Dia menjanjikan memanfaatkan ilmu yang didapat selama bekerja bertahun-tahun di perusahaan asing. Alumnus Institut Teknologi Sepuluh Nopember itu juga ingin mengubah PDAM lebih efisien. Berikut petikan wawancaranya.

Apa yang membuat Anda tertarik bergabung dengan PDAM?

Saya bergabung di perusahaaan asing selama 25 tahun. Lima tahun di perusahaan milik Jepang Asahi Chemical dan 20 tahun di Eco Lab milik Bill Gates. Itu perusahaan pengelola air terbesar di dunia. Sekarang value perusahaannya mencapai 39 billion US dolar. Banyak ilmu yang saya dapat di sana. Standar asing, kelas dunia. Nah, mengapa saya tertarik ke PDAM? Sudah waktunya saya memberikan manfaat bagi orang banyak di Surabaya. Ada 3 juta orang yang menggantungkan hidupnya dari air PDAM kan?

Bagaimana tanggapan Anda setelah dipercaya wali kota memimpin PDAM?

Tentunya, ini jadi tantangan bagi saya. Saat bertemu Bu Risma kemarin, ternyata orangnya sederhana, humble, dan apa ya.. simpel lah orangnya. Saya diberi kepercayaan untuk berprestasi lewat PDAM. Beliau berjanji tidak cawe-cawe. Ini membuat saya lebih percaya diri.

Apa program unggulan yang Anda rencanakan di tahun pertama?

Cluster prima air minum. Jadi, kepanjangannya PDAM kan perusahaan daerah air minum. Airnya harus siap minum. Program ini bakal dikerjakan dalam satu tahun ke depan. Kita coba di area tertentu, mungkin pengembangan perumahan baru. Ada yang bilang itu sulit terwujud. Tidak, saya katakan, program ini harus dimulai sejak sekarang. Kalau enggak mulai, ya kita tidak belajar-belajar.

Sebagai pelanggan PDAM, bagaimana kualitas layanan selama ini?

Nah ini, kualitas airnya bagus, tetapi tekanannya kurang. Saya harus pakai pompa, kontrol stok, kontrol level, timer listrik, filter, dan beli tandon. Saya punya tiga tandon karena orangnya banyak. Sama harus bikin roof biar tidak cepat rusak. Bayangkan berapa biaya yang harus dikeluarkan.

Saya perkirakan ada 30 persen masyarakat yang pakai pompa dan tandon. Itu pemborosan yang seharusnya tidak terjadi. Berapa investasi untuk membangun itu semua? Berapa beban listrik yang harus dikeluarkan? Apalagi, tarif listrik sekarang lagi naik. Dampaknya, inflasi.

Saya sudah pakai alat ini semua selama 20 tahun. Pompa juga harus gonta-ganti kan. Berapa sih usia pompa itu? Paling, enggak sampai satu setengah tahun. Keluar uang lagi Rp 500 ribu.

Bagaimana solusinya?

Efisiensi harus dilakukan oleh PDAM. Tentunya, tekanan dari PDAM harus ditambah. Sekarang kalau tidak salah, rata-rata tekanan air PDAM itu 0,3 bar. Gampangnya, kalau pipanya naik 3 meter, air masih keluar. Nah, ada juga yang nol kayak daerah yang airnya tidak keluar. Itu semua akan kami bicarakan.

Selama dua tahun terakhir promosi dan rotasi pegawai tidak dilakukan. Bagaimana menanggapi hal itu?

Kami lakukan rekrutmen. Prosesnya ternyata sudah berjalan. Tentunya, kalau banyak yang rangkap jabatan, proyek yang kita kerjakan tidak akan bisa tercapai. SDM yang tidak bisa nantinya harus diajari. Kalau sudah bisa, tapi belum punya keberanian diberi motivasi. Kalau sudah semuanya, kita beri otoritas.

Apa Anda siap dipecat apabila dinilai gagal dalam memimpin PDAM?

Pertanyaan itu juga ditanyakan penguji. Harus gentle, saya siap menerima konsekuensi tersebut. Kewenangan itu 100 persen berada di wali kota. (sal/c20/git)

Sponsored Content

loading...
 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia