Jumat, 23 Jun 2017
Internasional

Berbagai Spekulasi Muncul dari Drama Keluarga Nomor Satu Singapura

Senin, 19 Jun 2017 17:09 | editor : Dwi Shintia

MENDIANG: Prosesi penghormatan kepada jenazah pendiri Singapura Lee Kuan Yew pada Maret 2015.

MENDIANG: Prosesi penghormatan kepada jenazah pendiri Singapura Lee Kuan Yew pada Maret 2015. (AFP)

JawaPos.com -  Akhir pekan ini, warga Singapura disuguhi drama yang terjadi di keluarga terpandang di negara kota tersebut. Tiga anak mendiang Lee Kuan Yew, sang bapak bangsa, berseteru secara terbuka. Belum ada titik temu tentang pelaksanaan keinginan terakhir sang ayah.

-------------------

Surat wasiat Perdana Menteri (PM) Pertama Singapura Lee Kuan Yew yang dibacakan pada April 2015 atau sebulan setelah kematiannya terdiri atas empat halaman. Tetapi, yang menjadi sorotan adalah poin ketujuh. Yaitu, tentang permintaan untuk merobohkan rumah di Oxley Road Nomor 38 jika Lee Wei Ling sudah tidak lagi menempatinya. Putrinya itu tidak menikah dan selama ini tinggal bersama Lee Kuan Yew.

Dalam wasiat tersebut, Lee Kuan Yew menyatakan bahwa merobohkan rumah bersejarah itu adalah keinginan dirinya dan istri, Kwa Geok Choo. Jika rumah tersebut akhirnya tidak bisa dihancurkan karena ada perubahan hukum, dia memiliki permintaan lain. ’’Saya ingin rumah itu tidak pernah dibuka kecuali untuk anak-anak saya, keluarganya, dan keturunannya,’’ bunyi surat wasiat tersebut.

Friksi terjadi karena anak nomor 2 dan 3 menemukan fakta bahwa kakak mereka, si anak pertama, PM Lee Hsien Loong, tidak menyusun rencana perobohan rumah. Dia malah membentuk komite khusus untuk menjadikan rumah tersebut sebagai museum. Keduanya menuding ada agenda terselubung yang diusung Hsien Loong. Namun, sang perdana menteri balik menggugat. Dia merasa ada yang janggal dengan wasiat terakhir sang ayah.

Saat wasiat terakhir ditulis, pengacara Kwa Kim Li dari Firma Hukum Lee & Lee yang menangani enam wasiat sebelumnya tidak berada di lokasi. Hsien Loong merasa bahwa penandatanganan surat wasiat tersebut pada 17 Desember 2013 terlalu tergesa-gesa. Bahkan, dia menduga ada campur tangan dari saudara iparnya, Lim Suet Fern. Istri Hsien Yang itu bekerja di Morgan Lewis Stamford LLC.

Hsien Loong mempertanyakan apakah ayahnya benar-benar tahu dan sadar bahwa klausul penghancuran rumah itu kembali ada. Hsien Yang langsung mengunggah bantahan disertai dengan foto poin ketujuh dalam wasiat tersebut. ’’Bagaimana bisa Lee Kuan Yew tidak tahu ketika inisial namanya tepat di bawah klausul penghancuran rumah dan Lee Hsien Loong memiliki surat wasiat itu?’’ bunyi unggahan di Facebook milik Lee Hsien Yang.

Putra bungsu Lee Kuan Yew tersebut mengklaim bahwa Kwa Kim Li yang menulis surat wasiat itu bukan istrinya. Tapi, Jumat malam (16/6) Kwa Kim Li mengaku tidak tahu-menahu soal surat wasiat terakhir itu. ’’Wasiat terakhir Lee Kuan Yew adalah wasiat pertama Lee Kuan Yew yang ditulis pada 20 Agustus 2011 dan dipakai lagi atas instruksinya,’’ tulis Hsien Yang di akunnya. Hsien Yang menyatakan bahwa dirinya mengambil surat wasiat pertama yang sudah final.

Tidak diketahui apa alasannya, tetapi Lee Kuan Yew sendiri yang meminta agar penandatanganan dilakukan secepatnya. ’’Lee Kuan Yew membaca setiap baris di wasiatnya dan tanpa paksaan menandatangani maupun memberikan inisialnya di setiap halaman, kami hadir saat dia melakukannya,’’ ujar Hsien Yang. Kantor PM belum memberikan klarifikasi atas pernyataan Hsien Yang tersebut.

Berbagai spekulasi muncul atas perseteruan tiga bersaudara tersebut. Apakah itu hanya masalah menunaikan wasiat ayah ataukah ada motif di baliknya. Rumah sederhana di Oxley Road tersebut diperkirakan laku SGD 24 juta atau setara dengan Rp 230,6 miliar. Nilainya bisa melambung jika penjualan dilakukan dengan metode lelang. Nilai sejarah rumah tersebut akan membuat harganya naik tajam.

Pada Desember 2015, kakak beradik itu sepakat untuk mendonasikan separo dari nilai penjualan rumah ke delapan lembaga yang ditunjuk Lee Kuan Yew. Donasi nanti atas namanya. Kini opsi untuk menjual rumah tersebut kembali mencuat. PM Lee Hsien Loong menawarkan agar rumah itu dijual untuk menyelesaikan konflik. Hsien Loong menawarkan untuk mentransfer uang SGD 1 juta (Rp 7,6 miliar) ke Wei Ling. Selanjutnya, rumah tersebut dijual dan seluruh uangnya didonasikan.

Tawaran itu belum ditanggapi oleh Wei Ling maupun Hsien Yang. Belum diketahui apakah syarat membeli rumah tersebut adalah harus dihancurkan setelah dibeli ataukah boleh membiarkannya begitu saja.

Sementara itu, mantan PM Singapura Goh Chok Tong menegaskan, perseteruan di keluarga Lee Kuan Yew tidak akan berpengaruh terhadap pemerintahan di Singapura. Alasannya, negara tersebut sudah kuat karena telah melalui banyak hal. ’’Apa yang terjadi di publik antara anak-anak Lee Kuan Yew bukanlah apa yang terjadi pada kita (rakyat Singapura) dan jangan sampai itu menentukan siapa kita,’’ tulis Goh Chok Tong di akun Facebook-nya. (Reuters/The StraitTimes/CNA/sha/c7/any)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia