Kamis, 24 Aug 2017
Hijrah Ramadan

Ekspedisi Cheng Ho

Di Natuna Cari Air Bersih dan Hindari Badai

| editor : 

Pengerjaan Masjid Muhammad Cheng Hoo di Batam hampir selesai. Sudah bisa dipakai salat berjamaah.

Pengerjaan Masjid Muhammad Cheng Hoo di Batam hampir selesai. Sudah bisa dipakai salat berjamaah. (AULIA RAHMAN/BATAM POS)

Selain Malaka, Pulau Natuna tercatat sebagai depo logistik armada Cheng Ho. Meski dalam skala yang lebih kecil. Pulau di Laut China Selatan itu diandalkan untuk memenuhi kebutuhan air bersih dan menghindari badai.

Laporan AULIA RAHMAN , FEBBY ANGGIETA dari Natuna-Batam

---

BANYAK catatan yang menyebut Pulau Natuna di Kepulauan Riau menjadi salah satu tempat persinggahan Cheng Ho. Tak heran bila banyak peninggalan sang laksamana di pulau ini dan perairan sekitarnya. Terutama berupa guci dan sejenisnya.

Guci-guci antik itu hingga kini masih diburu. Seorang nelayan bernama La Andi mengaku pernah mendapatnya. Akhir Agustus 2013, dia menyelam di Pantai Tanjung, Ranai, Natuna. Lelaki berbadan kekar itu masuk ke dasar laut berkedalaman 10 meter. Di sela-sela karang, La Andi menemukan delapan guci berbahan keramik yang masih utuh, lengkap dengan penutupnya. Tak jauh dari guci itu, dia menemukan delapan botol wine (anggur). Isi botol masih utuh karena segel penutupnya tidak rusak sedikit pun. "Botol tak ada retak sama sekali," ujar La Andi. Di botol tertera buatan Inggris tahun 1882.  

Guci dan anggur itu kemudian dibawanya ke rumah Bupati Natuna (kala itu) Ilyas Sabli. Di sana anggur Inggris tersebut sempat dicicipi, termasuk oleh Sekretaris Daerah (kala itu) Syamsurizon. "Rasanya panas di dada," kata La Andi. Sepulang dari rumah bupati, La Andi diberi uang Rp 20 juta. "(Keramik, Red) itu untuk hiasan di rumah Pak Bupati," katanya.

Penemuan La Andi hanyalah satu di antara ribuan penemuan barang antik di Natuna. Sebagian barang yang ditemukan itu berhasil diselamatkan dan kini disimpan di Museum Sri Serindit, Ranai Darat, Kabupaten Natuna.

Salah satu barang temuan yang masih terawat baik di museum tersebut adalah keramik peninggalan Cheng Ho. Diah Ayu Nugrahaini, pegawai Museum Sri Serindit, mengatakan bahwa penemuan benda-benda itu menunjukkan posisi penting Natuna dalam jalur pelayaran dunia.

Kapal-kapal dari Tiongkok yang akan menuju barat seperti India, Arab, dan Eropa maupun sebaliknya akan singgah di Natuna untuk mengambil air dari sejumlah mata air di lereng Gunung Ranai. Pulau Natuna juga menjadi tempat persinggahan kapal saat menghindari badai.

Kepala Museum Sri Serindit Zaharudin mengungkapkan, rombongan Cheng Ho singgah di Pulau Natuna pada abad ke-15. Dia turun dari kapal untuk mendapatkan perbekalan sebelum melanjutkan pelayaran ke Pulau Jawa. "Meski keberadaannya di Natuna tidak lama, Laksamana Cheng Ho sempat menelusuri Gunung Ranai," kata Zaharudin. 

Ada beberapa alasan mengapa Cheng Ho mampir di Natuna. Di antaranya, pada abad ke-15 itu di Natuna sudah masuk ajaran Islam dari Samudra Pasai. Selain itu, pada abad ke-15 Laut China Selatan sedang tidak aman dari bajak laut yang dikenal ganas dan kanibal.

Jejak Cheng Ho di Natuna yang tersisa berupa keramik yang ditemukan masyarakat pada 2006 di Desa Sungai Ulu dan Desa Tanjung pada 2008. Tim Pusat Penelitian Badan Arkeologi Nasional yang turun ke Natuna sejak 2011 memastikan bahwa keramik yang ditemukan warga adalah peninggalan Cheng Ho.

Menurut Tim Pusat Penelitian Arkeologi Nasional, keramik peninggalan Cheng Ho yang ditemukan di Natuna adalah barang koleksi rombongan sang laksamana. Bukan barang dagangan. Zaharudin menyatakan, saat ditemukan, barang-barang tersebut disimpan di dalam tempayan, ditutupi piring besar, dilingkari serpihan besi, serta terdapat penunjuk arah. 

"Mengapa ini disimpan? Karena ini adalah barang koleksi. Agar aman dari ancaman bajak laut yang ganas di abad ke-15," ujarnya. "Pada Dinasti Ming, perjalanan Cheng Ho bukan misi perdagangan. Keramik yang ditemukan mungkin dijadikan alat barter dengan perbekalan sebelum melanjutkan perjalanan ke Pulau Jawa," kata Zaharudin. (*/c10/nw)

Keramik peninggalan Cheng Ho disimpan di Museum Sri Serindit, Pulau Natuna. Perburuan terhadap guci Tiongkok masih sering dilakukan nelayan.

Keramik peninggalan Cheng Ho disimpan di Museum Sri Serindit, Pulau Natuna. Perburuan terhadap guci Tiongkok masih sering dilakukan nelayan. (AULIA RAHMAN/BATAM POS)

Kebut Pembangunan Masjid Cheng Hoo

KEPULAUAN Riau (Kepri) tak mau kalah dengan daerah lain untuk mengabadikan jejak persinggahan Cheng Ho. Bila di daerah lain banyak berdiri Masjid Muhammad Cheng Hoo, Kepri tak mau kalah. Ya, Kepri kini tengah menyelesaikan pembangunan Masjid Cheng Hoo. Tempatnya di Pulau Batam. Persisnya di kawasan Golden City, Bengkong Laut.

Asiong, pemimpin proyek, mengatakan bahwa Masjid Cheng Hoo Batam dibuat persis dengan masjid Cheng Hoo Surabaya. Meski, ukurannya berbeda. Masjid Cheng Hoo Batam berdiri di lahan seluas 700 meter persegi. Luas bangunannya 10 x 20 meter dengan tinggi 11,5 meter.

Pengerjaan bangunan masjid ini tergolong dikebut. Asiong mengaku, timnya bekerja siang malam. Datang pukul 08.00, pulang pukul 00.00. "Karena bos (panitia, Red) minta cepat, ya harus cepat."

Meski belum selesai 100 persen, masjid tersebut sudah bisa digunakan untuk salat. Ruang utama mampu menampung 300 orang. Asrul Khaidir, pengurus Masjid Cheng Hoon Batam, mengungkapkan bahwa ketika Maghrib tiba, warga berdatangan untuk salat berjamaah. Jumlahnya memang belum banyak. Sebab, belum banyak yang tahu bahwa masjid itu sudah bisa digunakan. "Mereka (yang datang, Red) penasaran, kapan masjid ini bisa dipakai untuk salat Jumat," katanya.

Untuk menyempurnakan bangunan, pengurus masih menunggu kiriman ornamen kaligrafi dari Surabaya. Ornamen itu akan dipasang mengelilingi dinding luar masjid. Dengan demikian, masjid akan terlihat semakin indah. Ya, di Surabaya memang terlebih dulu berdiri Masjid Muhammad Cheng Hoo.

Bukan hanya dari Surabaya, kedutaan besar Tiongkok di Indonesia juga menyumbangkan ornamen. "Dubes mengirim papan nama itu ke Surabaya. Surabaya yang mengirimnya ke Batam," kata Tek Ho alias Abi, pemilik kawasan wisata Golden City Batam.

Beduk juga sudah ada. Ukurannya sedang. Terbuat dari kulit kambing dan kayu jati dicat merah. Asiong memesannya dari Padang. Sebuah kaligrafi Arab gundul tertulis di badan beduk. Tulisan dari cat warna kuning itu berbunyi Masjid Cheng Hoo.

Tek Ho mengaku mengambil tema Cheng Ho sebagai ikon wisata yang dikelolanya. Alasannya, Cheng Ho adalah orang yang berjasa. (*/c10/nw)

Sponsored Content

loading...
 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia