Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 16 Juni 2017 | 17.53 WIB

Cetak Hafiz dan Hafizzah, SDIT Insan Mulia Perkenalkan Metode Talqin

Ilustrasi - Image

Ilustrasi

JawaPos.com- Jika umumnya sekolah dasar memusatkan pembelajaran pada baca, tulis, dan menghitung. Maka sekolah dasar islam terpadu (SDIT) Insan Mulia di Kediri, Lombok Barat ini  memusatkan pembelajarannya pada menghafal Alquran. Hal itu membuat sekolah ini terasa unik dan berbeda dengan lembaga pendidikan lain.


Empat tahun sudah SDIT Insan Mulia Kediri beroperasi. Meski tergolong sekolah baru, nama sekolah ini  sudah diperhitungkan dalam pendidikan di Lombok Barat. Bahkan, terobosan pola pendidikan di  bidang agama  mendapat apresiasi dari Kepala Dikbud Lobar M Hendrayadi. 


Saat ini, SDIT Insan Mulia merupakan satu  dari beberapa sekolah  pencetak generasi Quraan.  Eksistensi mencentak hafiz dan hafizah cilik tak perlu diragukan. Dengan keikhlasan dan ketekunan dalam mendidik, para ustaz dan uztazah SDIT Insan Mulia “menyulap” anak-anak ingusan yang mungkin sebagian orang sulit menghafal menjadi hafiz dan hafizah. 


Jumlah hafalan setiap siswa pun berbeda. Sesuai dengan umurnya, mulai dari satu juz hingga terbanyak delapan juz. Cukup tak lazim untuk anak-anak seusia mereka menjadi hafiz dan hafizan Alquran. Lalu apa rahasianya?.


Kepala Sekolah SDIT Insan Mulia, Indra Suryani menerangkan, dalam proses pembelajaran Alquran, sekolah yang dipimpinya ini menggunakan metode talqin. Sebuah metode menghafal yang bacaannya terus diulang-ulang.


Mengajar dengan cara talqin dibacakan, kemudian siswa diminta menirukan. Kadang juga dibantu dengan memutar kaset yang berisi tilawah Alquran. 


Dalam metode ini, jelas lulusan Universitas Gajah Mada (UGM) sangat bergantung pada ustaz dan ustazah yang membimbing. Makanya guru di SDIT Insan Mulia diharuskan memiliki standar bacaan Alquran. Karena anak akan meniru bacaan gurunya. 


Makanya kualifikasi guru di SDIT Insan Mulia sangat ketat. Selain dituntut bisa mengajar pendidikan formal, paling wajib bisa membaca Alquran dengan baik. ”Jumlah ustaz dan ustazah masing-masing 16 orang,” terang Indra Suryani sebagaimana dilansir Lombok Post (Jawa Pos Group), Jumat (16/6).


Dalam metode talqin ini, guru akan membacakan per ayat yang akan terus diulang dan diperdengarkan kepada siswa. Bacaan itu bisa diulang sampai 20 kali. Ketika ayat tersebut sudah diperdengarkan, maka siswa akan mengulang sampai hafal, barulah setelah hafal melanjutkan ke ayat yang lain. 


”Nanti masing-masing menyetor sendiri bacaannya,” kata perempuan asal Karang Bagu Mataram ini.


Indra Suryani menyatakan yang perlu diketahui, di SDIT tidak ada unsur paksaan dalam menghafal. Tergantung dari tingkat kemapuan siswa.  Kemampuan siswa menghafal akan diketahui dari daya cerna masing-masing anak didik. Ibaratnya, masing-masing anak berbeda suapan makannya. Ada yang lebih banyak porsinya ada pula sedikit.


”Tapi tetap tidak dibeda-bedakan dalam kelompoknya,” jelasnya.


Apabila ada siswa yang jenuh menghafal, maka akan dibiarkan bermain laiknya anak seusianya. 


Diakuinya, hampir rata-rata siswa di SDIT Insan Mulia belum bisa membaca Alquran. Walapun ada, namun belum fasih. Tapi masalah hafalan tidak diragukan lagi. ”Disitulah, kita temukan kecepatan anak manghafal lebih cepat dari dia belajar mengaji,” ujarnya. 


Anak seusia mereka memang lebih cepat menghafal dari belajar membaca Alquran. Anak yang awalnya manja, akan menjadi manut ketika diberikan hafalan Alquran. Karena Alquran sudah memperlembut hati mereka. Apalagi dengan sudah terbiasa dengan kondisi lingkungan, tingkat hafalan mereka akan semakin cepat.

Editor: Mohamad Nur Asikin
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore