Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 16 Juni 2017 | 04.59 WIB

Tembok Sel Penjara Kalisosok Tak Tertembus Paku

KENANGAN: M. Sholeh (tengah) berfoto di dalam Penjara Kalisosok. Dia pernah ditahan di sana selama 1 tahun 3 bulan pada kurun waktu 1997–1998. - Image

KENANGAN: M. Sholeh (tengah) berfoto di dalam Penjara Kalisosok. Dia pernah ditahan di sana selama 1 tahun 3 bulan pada kurun waktu 1997–1998.


JawaPos.com – Sebagai aktivis, Muhammad Sholeh pernah ditahan di Rutan Medaeng sebelum dipindahkan ke Kalisosok. Karena menjadi seorang tahanan politik (tapol), Sholeh ditempatkan di ruang isolasi bersama para tahanan kelas berat dan waria. ’’Awalnya senang. Kan bisa eksis, paling dipenjara dua atau tiga bulan. Ee.. lha kok malah jadinya divonis empat tahun,’’ kata Sholeh mengenang.



Ketika itu, pada 1996, dia bersama rekan-rekannya melakukan demo dan dianggap melawan pemerintah. Sebelum menjalani sidang, lelaki asli Krian, Sidoarjo, tersebut dipenjara di polrestabes selama 42 hari. ’’Lalu, dipindahkan ke Medaeng. Di sana 10 bulan sebelum akhirnya di Kalisosok,’’ ujarnya.



Di Kalisosok, pria yang kini berprofesi pengacara itu ’’nginep’’ lama. Lebih dari setahun. ’’Saya dibebaskan dari sana pada 1998,’’ jelasnya.



Sejak pindah ke penjara peninggalan Belanda tersebut, dia menghuni sel isolasi. ’’Di blok E. Ada tiga baris sel di sana,’’ ungkapnya. Barisan paling depan adalah sel tapol. Barisan tengah menjadi sel bagi tahanan berat yang bersalah karena kasus pembunuhan atau penjahat kelas kakap. ’’Lalu, yang paling belakang dihuni waria,’’ terang ayah enam anak tersebut.



Di blok itu, setiap tahanan mendapatkan satu kamar lengkap dengan WC di dalam. Namun, jangan bayangkan ruangannya bersekat seperti kamar kos. WC dan tempat tidur yang terbuat dari cor semen hanya dipisahkan ruang kosong selebar setengah meter.



Pengalaman buruk pun sempat dia rasakan karena lupa tidak menutup lubang WC. ’’Gara-gara itu, pernah tidur dalam kondisi dikerubungi kecoak,’’ ucapnya.



Sempat merasa seram dengan Penjara Kalisosok, pikiran Sholeh berubah setelah tinggal di dalamnya. Ternyata kondisi bangunan di Jalan Kasuari Nomor 5 Surabay tersebut tidak seseram itu.



Setiap pukul 06.00 pintu di setiap blok dibuka. Para penghuninya bebas berkeliaran di dalam penjara yang memiliki halaman luas tersebut. Tidak ada batasan tentang apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan. Yang penting, tidak berbuat ulah. Ada masjid besar, taman luas, hingga fasilitas olahraga.



Meski banyak kegiatan yang bisa dilakukan, favorit Sholeh selama mendekam di sana adalah mengganggu orang-orang di sekitar Kalisosok. ’’Biasanya aku manjat pohon, lalu manggil-manggil orang yang lagi duduk di balkon. Mereka pasti langsung masuk rumah. Ketakutan,’’ kenangnya, lalu tertawa.



Hal lain yang paling dia ingat dari Kalisosok adalah masakannya yang tidak pernah enak. Makanan yang mereka makan biasanya hanya diberi bumbu garam, lalu direbus. Karena itulah, para napi sering kali masak sendiri.



Peralatan masak, termasuk bumbu, didapat ketika ada keluarga yang menjenguk. Mereka nitip minta dibawakan bumbu dan alat masak. Bahan utama seperti beras dan bahan lain mereka beli dari petugas di dapur. Kamar penjara terdiri atas dua lapis. ’’Yang belakang untuk tidur. Yang depan ini berbentuk ruang kosong dengan atap teralis. Itu yang dipakai buat masak,’’ papar Sholeh.



Di dalam kawasan penjara, terdapat sebuah sumur peninggalan Belanda yang sangat besar. Di sanalah para napi biasanya beramai-ramai membersihkan tubuh. Sumur itu ditutup semen dan disisakan lubang kecil yang hanya cukup untuk keluar masuk ember.



Lalu, tembok kamar para narapidana di sana sangat kuat. Meski hanya memiliki tebal 10 cm, rupanya tembok tersebut tidak bisa ditembus paku. ’’Kalau mau bikin gantungan baju, ya, harus nempel kayu di tembok baru diberi paku,’’ tutur lulusan Universitas Wijaya Kusuma tersebut. Sholeh bebas pada 23 Juli 1998, tepat pukul 00.00.



Kini bagian luar Penjara Kalisosok bercat warna-warni. Dinding luarnya berhias mural. Dari luar, menara pemantau di setiap sudut tampak lusuh. Beberapa atapnya malah sudah rusak. Cagar budaya tersebut telah dimiliki pihak swasta. Poernawan berharap Penjara Kalisosok yang memiliki banyak cerita sejarah itu tetap mendapat perhatian. ”Setidaknya tidak rusak,” ujarnya. (dwi/lyn/c14/c16/jan)


Editor: Suryo Eko Prasetyo
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore