Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 16 Juni 2017 | 04.38 WIB

Bekuk Preman Bersilet yang Meresahkan, Juga Incar Penggendam

KENA DEH: Kapolrestabes Surabaya Kombespol M. Iqbal menanyai Suwardi (kanan), pelaku premanisme dengan menggunakan silet. Melalui Operasi Sutera 2017, polisi melakukan razia dan sidak di kawasan rawan premanisme. - Image

KENA DEH: Kapolrestabes Surabaya Kombespol M. Iqbal menanyai Suwardi (kanan), pelaku premanisme dengan menggunakan silet. Melalui Operasi Sutera 2017, polisi melakukan razia dan sidak di kawasan rawan premanisme.


JawaPos.com – Tidak ada kata kejahatan kecil dalam kamus polisi. Semuanya diselidiki, disidik, dan ditindak secara sungguh-sungguh. Itu janji Polrestabes Surabaya soal kejahatan jalanan di metropolis selama Ramadan.



Melalui Operasi Surabaya Tertib Ramadan (Sutera) 2017, polisi memerangi beberapa penyakit masyarakat. Termasuk premanisme. Pada Rabu (14/6), misalnya, Korps Bhayangkara tersebut merilis tangkapan satu komplotan juru tagih (debt collector) dan preman yang bermodel silet.



Menurut Kapolrestabes Surabaya Kombespol M. Iqbal, premanisme saat ini terbilang rawan. Terutama di pusat-pusat keramaian. Misalnya, di stasiun, terminal, dan pusat perbelanjaan yang memang ramai sejak awal puasa.



”Ini negara hukum. Bukan negara barbar. Jadi, jika ada premanisme seperti itu, jelas akan kami tindak,” ujar Iqbal. Hingga hampir tiga pekan puasa ini, ada 166 pelaku premanisme yang dicokok. ”Ini merupakan hasil tangkapan semua polsek yang ada di wilayah hukum kami,” imbuh Iqbal.



Para pelaku memiliki berbagai macam modus operandi. Ada beberapa yang mengatasnamakan dirinya debt collector. Dengan sok kuasa, mereka memaksa dan memeras seseorang.



Komplotan juru tagih itu punya tujuh anggota. Tiga di antaranya diringkus oleh polisi pada Sabtu (10/6). Sisanya masih dikejar. Pelaku yang ditangkap adalah Jumari, Toyyib, dan Romli. Mereka dicokok saat beraksi di Jalan Rajawali.



Kepada korban, para juru tagih itu mengaku diutus sebuah lembaga pembiayaan. Pelaku kemudian menyatakan bahwa sepeda motor yang dikendarai korban sudah menunggak. Korban tersebut dihentikan secara paksa dan dianiaya. ”Semua pemaksaan itu sudah pasti masuk dalam pidana,” tegas perwira dengan tiga melati di pundak tersebut.



Pada Selasa malam (13/6), polisi merazia Stasiun Wonokromo. Razia yang dipimpin Wakasatreskrim Polrestabes Surabaya Kompol Bayu Indra Wiguno itu pun berbuah hasil. Ada tukang peras, tukang copet, sekaligus tukang palak yang ditangkap. Senjatanya adalah pisau kecil dan silet. Namanya Suwardi. Dengan senjata tersebut, dia merobek tas dan saku para korbannya. ”Dia ini selalu mengincar korban yang lengah di stasiun. Begitu ada celah, langsung beraksi,” jelas Iqbal.



Iqbal menyatakan masih akan memilah-milah pelaku. Ada yang tidak bisa dikenai pidana. Kalau demikian, mereka akan diserahkan ke Dinas Sosial Surabaya. ”Nanti biar mereka yang membina pelaku premanisme yang tidak bisa dipidana,” ungkapnya.



Iqbal juga berjanji terus mengintensifkan operasi semacam itu. Menjelang libur Lebaran, dia memprediksi jumlah pelaku premanisme terus bertambah. Meski begitu, setelah Ramadan, operasi semacam itu akan terus dilaksanakan. ”Tapi, memang tidak seintensif ini. Karena puncaknya pas bulan Ramadan dan menjelang Lebaran saja,” bebernya.



Langkah yang dilakukan, antara lain, melakukan patroli rutin di permukiman warga. Tidak hanya itu, dia juga akan melakukan operasi pencegahan secara door-to-door. ”Untuk beberapa hari ini, kami mengincar pelaku gendam juga. Kita lihat saja nanti,” tambah Iqbal. (bin/c6/dos)


Editor: Suryo Eko Prasetyo
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore