Minggu, 20 Aug 2017
Bisnis

Tiket Mahal Saja Masih Dibeli, Kenapa Garuda Terancam Bangkrut?

Kamis, 15 Jun 2017 10:49 | editor : Ilham Safutra

Maskapai Penerbangan Garuda Indonesia

Maskapai Penerbangan Garuda Indonesia (Bayu Eka Novanta/Radar Malang/JawaPos.com)

JawaPos.com - PT Garuda Indonesia belakangan diisukan terancam bangkrut. Pasalnya, perusahaan tersebut mengalami kerugian sebesar USD 99,1 juta atau Rp 1,32 triliun (kurs Rp13.327 per USD) pada kuartal I-2017.

Anggota Komisi VI DPR Darmadi Durianto menilai, ancaman kebangkrutan maskapai milik BUMN itu disebabkan adanya mis management diinternalnya yang cukup serius. 

"Ada salah management dari manajemen lama yang akibatnya lebih terasa saat ini. Adanya dugaan koruptif, inefisiensi dan salah strategi," ujarnya melalui pesan singkatnya kepada JawaPos.com, Kamis (15/6). 

Di sisi lain, pemasukan yang didapat maskapai plat merah itu pun tidak mampu menutup kenaikan utang. Terutama utang jangka pendek dan kenaikan biayanya akibat inefisensi dan dugaan praktek budaya korupsi diinternal PT Garuda Indonesia yang sudah berlangsung lama. 

Dia menjabarkan, utang jangka pendek Garuda hanya dalam beberapa bulan ditahun 2017 naik 1.73 triliun. Dimana utang jangka pendek Garuda tahun 2016 9.37 triliun sedangkan di  Kuartal I tahun 2017 sudah menjadi Rp11.1triliun atau naik 1.73 triliun. "Kenaikan utang itu terjadi hanya dalam hitungan bulan," beber Darmadi.

Untuk itu, menurutnya manajemen baru PT Garuda Indonesia perlu berupaya memperbaiki kinerja dan memberantas praktik korupsi saat ini. "Jika tidak diperbaiki kinerjanya, maka Garuda terancam bangkrut," tegas politikus PDIP itu.

Sementara itu, Darmadi menjelaskan, jika dilihat dari SWOT atau TOWS analysis maka kekuatan Garuda hanya tersisa sedikit. Kekuatannya kata dia, hanya tinggal brand name Garudanya saja.

Sehingga, walaupun harga tiketnya mahal tetapi masih diminati oleh masyarakat. Akan tetapi dari sisi kelemahan terlihat sangat banyak, begitu pula dari sisi ancaman yang sudah sangat tinggi.

"Terutama dari ancaman pesaing seperti Batik (Lion group) yang terus menggerus pasar Garuda. Sementara Garuda tidak bisa mengambil peluang pasar yang ada," terang Darmadi.

Dari pemetaan Matriks SWOT tersebut, lanjut dia, maka strategi Garuda seharusnya sudah menjalankan strategi turn around untuk menyelamatkan maskapai pelat merah tersebut. Salah satu syarat turn around, kata Darmadi adalah adanya leader style yang kuat untuk menjalankan creative destruction dan team manajemen yang kuat dan solid. 

Namun sayangnya, hal itu tidak ada di Garuda saat ini. "Nah di sinilah letak permasalahan di Garuda saat ini. Team manajemen lagi kurang solid dan kuat, Ditambah pemilihan dirut yang kurang pas," ucap pria kelahiran Mempawah itu.

Seperti diketahui, Dirut PT Garuda Indonesia yang baru Pahala Mansury, yang  sebelum merupakan  berkiprah di Bank Mandiri. Menurut Darmadi, karena datang dari bank terbesar di Indonesia yang biasa mengelola perusahaan-perusahaan besar, maka dugaan karakter bigness mentality masih menempel dalam personality dirut baru itu. Saat di Bank Mandiri, kata dia, Pahala sudah ada di level comfort zone.

Padahal Garuda saat ini benar-benar membutuhkan pemimpin yang service oriented dan berani menjalankan creative destruction. Untuk menjadi nahkoda Garuda dibutuhkan orang yang bisa melakukan efisiensi tanpa mengurangi kualitas pelayanan. Dan harus bisa melakukan turn around strategy dengan efektif. "Tantangan berat buat Dirut yang baru ini untuk menyelamatkan Garuda," pungkas legislator dapil Jakarta itu. (dna/JPG)

Sponsored Content

loading...
 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia