
Potongan surat dari Kepala Sekolah SD Mutiara Persada, Bantul, Yogyakarta, Suwarsana
JawaPos.com – Seorang kepala sekolah di SD Mutiara Persada, Bantul, Yogyakarta, Suwarsana menulis surat terbuka kepada para orang tua. Surat tersebut kemudian menyebar menjadi viral di kalangan netizen. Surat tersebut berisi ajakan kepada para orang tua agar tidak menekan anak dan memaksakan kehendak pribadi kepada anak.
Orang tua zaman sekarang masih ada yang memaksakan rasa egois dan ambisi pribadi pada anak. Misalnya saja, seorang anak harus masuk jurusan IPA karena gengsinya lebih tinggi dan menjamin masuk universitas negeri. Selain itu, anak yang berasal dari keluarga dokter, juga diwajibkan harus menjadi dokter juga.
Dalam surat yang dibuat Suwarsana, isinya begitu menyentuh hati para orang tua. Sehingga mata dan hati pikiran orang tua bisa lebih terbuka bahwa anak memiliki hak untuk memilih. Ada beberapa bagian yang paling menyentuh dari isi surat tersebut, di antaranya.
“Bersama surat ini kami sampaikan bahwa, ujian anak Anda telah selesai. Saya tahu Anda cemas dan berharap anak Anda berhasil dalam ujiannya. Tapi mohon diingat, di tengah-tengah para pelajar yang menjalani ujian itu, ada calon seniman yang tidak perlu mengerti matematika. Ada calon pengusaha yang tidak butuh pelajaran sejarah atau sastra. Ada calon musisi yang nilai kimianya tidak akan berarti. Ada calon olahragawan yang lebih mementingkan fisik daripada fisika di sekolah. Ada calon fotografer yang lebih berkarakter dengan sudut pandang art berbeda yang tentunya ilmunya bukan dari sekolah ini”.
“Sekiranya anak Anda lulus menjadi yang teratas, hebat! Tapi bila tidak mohon jangan rampas rasa percaya diri dan harga diri mereka. Katakan saja “tidak apa-apa, itu hanya sekadar ujian. Anak-anak itu diciptakan untuk sesuatu yang lebih besar lagi dalam hidup ini. Katakan pada mereka tidak penting berapapun nilai ujian mereka, Anda mencintai mereka dan tak akan menghakimi mereka. Lakukanlah ini dan di saat itu, lihatlah anak Anda menaklukan dunia, sebuah ujian atau nilai terendah takkan mencabut impian dan bakat mereka. Dan mohon berhenti berpikir bahwa hanya dokter dan insinyur yang bahagia di dunia ini”.
Hal itu dibenarkan Psikolog Klinis, Analisa Widyaningrum. Dia membenarkan banyak anak sekarang kecil-kecil sudah mengalami stres karena tuntutan orang tua. Selama menjadi psikolog, Analisa juga menerima banyak pasien anak-anak atau pelajar yang merasa stres karena pendidikan yang terlalu keras.
Pengalaman lainnya, banyak pula pasiennya yang mengalami stres karena harus memenuhi tuntutan orang tua. Orang tua memaksakan kehendak anak harus masuk jurusan IPA atau kedokteran. Ada pula siswa asing yang stres di sekolah karena belum lancar berbahasa Indonesia.
“Berbagai macam anak yang datang mengalami stres karena pendidikan. Ini pekerjaan rumah kita bersama,” tegasnya. (cr1/JPG)

Breaking News! Rival Veda Ega Pratama Didiskualifikasi dari Moto3 Catalunya 2026
Veda Ega Pratama Kudeta Peringkat Pertama! Update Klasemen Rookie of The Year Moto3 2026 Usai Brian Uriarte Didiskualifikasi
Soal Kabar Kepala BGN Dadan Hindayana Ditangkap, Dasco: Serahkan ke Aparat Hukum
Profil Sony Sanjaya, Eks Jenderal Polri yang Dicopot Sebagai Wakil Kepala BGN, Sempat Diterpa Isu OTT
KPK Cari Keberadaan Wamen Imipas Silmy Karim Terkait OTT Imigrasi Jakbar
7 Pemain Baru Masuk! Bruno Moreira Hengkang, Ini Prediksi Starting XI Persebaya
Kejagung Konfirmasi Penggeledahan Kantor BGN Usai Pencopotan Dadan Hindayana
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Mantan Kepala BGN Dadan Hindayana Resmi Jadi Tersangka dan Ditahan Kejagung, Belum 24 Jam Usai Dicopot Prabowo
Kantor Badan Gizi Nasional Digeledah Kejagung, Muncul Karangan Bunga Unik Singgung Pencopotan Dadan
