Sabtu, 24 Jun 2017
Sudut Pandang

Ramadan Wasilah Penguatan Iman dan Takwa

Oleh: Mochammad Yunus SIP MPdI*

Jumat, 09 Jun 2017 03:29 | editor : Suryo Eko Prasetyo

Mochammad Yunus SIP MPdI

Mochammad Yunus SIP MPdI (Jawa Pos Photo)

RAMADAN merupakan bulan mulia dan bulan yang dihormati. Bulan ini menjadi kesempatan yang sangat baik untuk menyucikan jiwa (tazkiyat al-nafs). Karena itu, perlu digiatkan berbagai amalan ibadah yang dapat memperkuat keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT. Di samping menjalankan ibadah puasa, menunaikan zakat, memperbanyak sedekah, memperbanyak zikir, dan mendekatkan diri kepada Allah SWT (taqarrub Ilallah) serta amalan-amalan saleh lainnya. Misalnya, membaca Alquran, mengikuti pengajian dan pembinaan mental rohaniah, salat-salat sunah seperti tarawih, witir, tahajud dan sebagainya.

Dalam Alquran surah Al Baqarah ayat 183 dijelaskan, Allah SWT telah menitahkan kepada kaum muslimin agar menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadan sebagaimana Allah SWT telah memberikan ketetapan kepada umat terdahulu. Tujuan besar disyariatkannya puasa Ramadan adalah sebagai wasilah untuk meraih derajat takwa, sebuah tingkat tertinggi dan ukuran kemuliaan yang paling sahih dan terukur (measurable) serta membahagiakan yang hanya dapat digapai oleh orang-orang pilihan. Sungguh, kemuliaan seseorang tidak dipandang dari harta yang melimpah, jabatan yang tinggi, atau wajah yang elok rupawan. Ukuran kemuliaan sangat ditentukan oleh nilai takwa yang terpatri dalam dada.

Karena itu, agar selamat dalam mengarungi samudra kehidupan dunia, kita harus memiliki bekal sempurna. Sebaik-baik bekal adalah bekal takwa, begitulah Allah mengingatkan kita semua. Karena itu, dalam bulan Ramadan ini, terbuka lebar kesempatan untuk meraih derajat takwa tersebut yang memang dijanjikan oleh Allah SWT.

Secara bahasa, takwa dapat diartikan dengan hati-hati. Berhati-hati dalam segala gerak langkah dan seluruh aspek kehidupan. Berhati-hati dalam berkeyakinan dan mengamalkan keyakinannya. Berhati-hati dalam berkata dan mengeluarkan statement. Berhati-hati dalam bersikap dan berbuat. Berhati-hati dalam menyampaikan dan menerima informasi serta menyikapinya.

Dengan sikap hati-hati ini, umat akan terpelihara dari perbuatan maksiat yang menghinakan dan bersemangat untuk berlomba dalam kebaikan (fastabiqul khairat). Mereka takut melakukan kemungkaran karena berakibat langsung pada dirinya, baik di dunia maupun akhirat. Karena itu, hari-harinya diisi dengan kebaikan demi kebaikan. Mereka selalu melakukan introspeksi diri (muhasabah) dan mohon ampun pada Allah (istigfar).

Orang yang bertakwa memiliki akidah yang lurus, ibadah teratur, akhlak mulia, dan kinerja yang memesona. Mereka ibarat lebah yang hanya hinggap di tempat yang baik dan memproduksi sesuatu yang baik juga. Orang yang demikian itu berhak memasuki surga yang indah sebagaimana yang telah dijanjikan Allah dalam firman-Nya.

Untuk menggapai derajat takwa yang paripurna, dibutuhkan effort. Memang tidak mudah. Tidak bisa hanya mengandalkan puasa ala kadarnya yang tak bermakna atau datang ke masjid untuk sekadar menyemarakkan malam Ramadan. Kita dituntut untuk memiliki keyakinan yang kuat, niat ikhlas, ibadah yang terencana, dan usaha maksimal. Ibadah puasa yang dilakukan adalah ibadah yang sempurna, terhindar dari cacat yang dapat merusak pahala puasa. Sepanjang hari dia mampu mengatur waktu untuk membersihkan kalbu dengan memperbanyak tilawah Alquran dengan tartil.

Dia berusaha mengkhatamkan Alquran dan memahami maknanya sebagai pedoman kehidupan. Kualitas salatnya diperbaiki. Salat dijadikan sarana untuk mengekspresikan cinta pada Allah Maha-Rahman. Maka, mereka tidak hanya mengandalkan salat wajib (fardu) semata. Berbagai salat sunah lainnya seperti duha, tarawih, witir, tahajud, rawatib dan salat lain menjadi pilihan dalam menambah amaliah ibadah. Selama Ramadan, mereka berusaha menambah khazanah keilmuan terhadap agama dengan menghadiri majelis taklim, pengajian malam, diskusi, membaca buku-buku Islam, dan mengikuti siaran Islami. Sungguh luar biasa orang takwa yang berusaha mendapatkan malam Lailatul Qadar dengan iktikaf. Mereka menunaikan zakat fitrah dan menyantuni yang miskin dan tak punya. Selama sebulan penuh dimanfaatkan untuk merajut benang-benang dan ”menyulam takwa”.

Memperbanyak doa kepada Allah SWT, baik setelah salat fardu maupun salat jamaah, tarawih, tahajud (qiyamul lail) dan saat bermunajat adalah tradisi yang dilakukan para shalafus shalih yang dicontohkan oleh Rasulullah Muhammad SAW, sahabat, tabi’in, dan tabi’it tabiin.

Setelah Ramadan, amaliah orang yang bertakwa akan semakin meningkat sebagai makna Syawal yang dipahaminya. Orang yang bertakwa berjuang dengan susah payah untuk membuktikan ketakwaannya setelah Ramadan berlalu. Kebiasaan ibadah selama Ramadan dilanjutkan di bulan Syawal sebagai bentuk kesuksesan meraih derajat takwa. (*)

*) Sekretaris MUI Jawa Timur

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia