Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 29 Mei 2017 | 22.04 WIB

Muhammad Fuad Arif Rahman dan Perjuangan Melawan Kanker Tulang Belakang

SEMANGAT SEMBUH: Fuad dengan bantuan Bambang (kiri) dan Kusen dari Sedekah Rombongan (SR) naik ambulans untuk kontrol pada Minggu (28/5) di RSAL Surabaya. - Image

SEMANGAT SEMBUH: Fuad dengan bantuan Bambang (kiri) dan Kusen dari Sedekah Rombongan (SR) naik ambulans untuk kontrol pada Minggu (28/5) di RSAL Surabaya.


Didera penyakit langka tidak membuat Fuad menyerah. Dekapan hangat keluarga dan keinginan untuk menjalankan lagi kewajiban sebagai suami sekaligus ayah yang baik menjadi pelecut semangatnya.





RESVIA AFRILENE





RUMAH bercat biru yang tak jauh dari Jalan Raya Bypass Juanda, Sedati, itu tidak begitu besar. Sepetak teras tanpa meja dan kursi melengkapinya. Di rumah sederhana itulah, Muhammad Fuad Arif Rahman kini terkulai lemas akibat sakit kanker tulang belakang.



Hari-hari Fuad kini dihabiskan dengan merebahkan diri di atas kasur kamarnya. Kelumpuhan menyerang pria 30 tahun tersebut setelah kanker menggerogoti tulang belakangnya. Beruntung, tangan dan kakinya masih bisa digerakkan perlahan. Setidaknya, Fuad masih bisa menggunakan tangannya untuk mengelus rambut putri semata wayangnya, Allicia Dzakira Aftani.



Bocah yang baru menginjak usia 2 tahun itu tampak ceria. Bercengkerama bersama ibunya, Emi Rahmawati, di samping sang ayah yang terbaring menahan sakit. Seolah ingin mengajak bermain, Allicia sesekali mengelus jemari kaki sang ayah. Melihat tingkah putrinya tersebut, Fuad ikut tersenyum.



”Sudah enam bulan sakit seperti ini,” kata Fuad saat Jawa Pos bertandang ke rumahnya pada Minggu (28/5). Fuad kali pertama divonis mengalami tuberkulosis tulang belakang pada Desember tahun lalu. Sejak saat itu, upaya pengobatan dilakukan Fuad di RSAL Surabaya.



”Berobat. Tapi, masih dikasih obat terapi saja, sama rutin ganti kateter (slang untuk mempermudah buang air kecil, Red),” lanjutnya. Fuad menggunakan kartu Indonesia sehat (KIS) untuk memperoleh pengobatan itu. Namun, pelayanan pemegang kartu KIS tidak seperti bayangannya. Dia merasa mendapat urutan belakang untuk operasi.



Padahal, kebutuhan selama proses pengobatan tidak sedikit. Sejak Fuad sakit, Emi juga kelimpungan. Fuad adalah tulang punggung keluarga. ”Ya bingung. Mau kerja, anakku masih kecil. Nanti Allis (panggilan Allicia, Red) sama ayahnya yang ngurus siapa kalau saya kerja,” tutur Emi, lirih.



Selama enam bulan terakhir ini, mereka hidup dari uang tabungan. Sebelum mengalami kelumpuhan, Fuad bekerja sebagai teknisi di pabrik percetakan kawasan industri Tropodo, Waru. Dari gaji setiap bulan, Fuad selalu menyisihkan sebagian. Rencana awalnya, tabungan itu akan digunakan untuk membuat usaha di rumah yang dapat dikelola Emi.



”Sebelum sakit, saya rajin banget kerja. Pikir saya, harus ada usaha sampingan buat istri. Kasihan kalau menganggur,” tutur Fuad. Rencana tinggal rencana. Fuad ternyata jatuh sakit dan uang tabungan amblas buat berobat.



Menurut Fuad, dokter yang memeriksanya pernah menyatakan bahwa kebiasaan bekerja mungkin berpengaruh pada virus kanker tulang belakang yang berkembang di tubuhnya. ”Kurang minum air putih sama enggak pakai masker. Kan banyak senyawa kimia di tempat kerja. Jadi, ya terlalu sering menghirup itu,” paparnya. Melalui pemeriksaan intensif diketahui bahwa ada empat benjolan nanah dalam tulang belakang Fuad. Jalan satu-satunya harus operasi.



Sebelum lumpuh total, Fuad sempat tidak masuk kerja dua minggu. Dia merasa tidak enak badan. Capek. Hanya itu keluhannya. ”Suatu hari pas ke kamar mandi tiba-tiba jatuh. Tulang ndak bisa menyangga badan,” ujarnya sembari menunjukkan bagian dada dan perut yang hingga kini mati rasa.



Penyakitnya itu termasuk langka. Kebanyakan pasien kanker tulang belakang mengalami kecelakaan terlebih dahulu sebelum terjadi malafungsi.



Kini Fuad hanya bisa pasrah. Sambil menunggu pihak rumah sakit menyediakan jadwal operasi buatnya, dia rutin mengonsumsi obat-obat terapi. Fuad sekarang sudah menjadi pasien dampingan komunitas sosial Sedekah Rombongan (SR). Biaya pengobatan di luar KIS hingga akomodasi untuk menjalani pemeriksaan ke rumah sakit ditanggung dengan gotong royong.



”Tiga bulan ini selalu sama (relawan, Red) SR digendong, diantar pakai mobil siaga,” ujarnya.

Editor: Suryo Eko Prasetyo
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore