Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 29 Mei 2017 | 02.23 WIB

Jangan Bongkar Masjid Kami Warga Korban Lumpur

KEBERSAMAAN: Masjid Sabilul Huda, Ketapang, saat Lebaran menjadi tempat berkumpul warga yang ’’terusir’’ karena semburan lumpur. - Image

KEBERSAMAAN: Masjid Sabilul Huda, Ketapang, saat Lebaran menjadi tempat berkumpul warga yang ’’terusir’’ karena semburan lumpur.


JawaPos.com – Malam sudah beranjak ke dini hari. Pukul 02.00 Kisiyati, istri Huda, terlihat sibuk di dapur. Perempuan 42 tahun itu memasak untuk sahur. Sederhana, tetapi nikmat. Sahur pertama tersebut seolah menjadi ajang berkumpul buat keluarga. Terlebih, kedua anaknya sedang libur dari pondok pesantren (ponpes). ’’Awal puasa begini kumpul semua. Kalau anak-anak sudah balik ke ponpes, tinggal saya dan suami saja,’’ katanya.



Rumah Huda sangat dekat dengan masjid. Karena itu, saat Ramadan sering terdengar panggilan sahur. Tidak ada warga yang berkeliling desa untuk membangunkan sahur sebagaimana di perkampungan lain. Kisiyati pun memanggil beberapa pekerja yang saat itu bermalam di rumahnya untuk sahur bareng. Suasana dini hari tersebut pun terasa hangat.



Kisiyati selalu menyempatkan diri untuk salat berjamaah di masjid dekat rumahnya. Masjid itu merupakan salah satu tanah wakaf yang masih terpelihara dengan baik. Selama ini masjid tersebut menjadi jujukan warga yang terpaksa pindah dari Desa Ketapang karena lumpur. Saling bernostalgia. ’’Kalau pas Lebaran, masjid ini pasti ramai. Penuh warga Desa Ketapang, baik yang masih bertahan maupun yang sudah ke luar kota,’’ ungkap Kisiyati sembari berjalan menuju Masjid Jamik Sabilul Huda.



Sepanjang perjalanan, Kisiyati banyak bercerita tentang tanah kosong yang begitu luas yang kami lewati. ’’Ini dulu semua rumah penduduk, Mbak. Ada tiga rumah bertingkat,’’ ungkap Kisiyati sambil menunjuk ke arah tanah kosong di sisi utara depan samping rumahnya.



Sesampai di masjid, tidak banyak warga yang ikut salat berjamaah. Bisa dihitung dengan jari. Hanya ada sepuluh orang laki-laki dan perempuan. Kisiyati mengatakan, dirinya tidak bisa membayangkan jika masjid tersebut harus diratakan. Sebab, masjid itu menjadi tempat berkumpulnya warga Desa Ketapang yang masih tersisa. Bahkan, setiap Jumat banyak warga yang sudah pindah dari Desa Ketapang datang ke masjid tersebut untuk salat Jumat. ’’Kalau masjid dihilangkan, tidak ada lagi tempat berkumpul,’’ ujarnya.



Begitu juga dengan makam. Meski banyak warga yang sudah pindah rumah, mereka tetap memilih memakamkan keluarganya di Desa Ketapang. ’’Mereka tidak ingin kembali ke tanah kelahirannya,’’ paparnya.



Selain Huda dan Kisiyati, warga di RT 6, RW 2 memilih tetap bertahan. Bahkan, rumah penduduk di RT itu masih terlihat padat. Mereka berkomitmen untuk mempertahankan tanah leluhur. ’’Sama dengan Pak Huda, kami juga ingin mempertahankan rumah kami demi leluhur kami,’’ kata Muhammad Ayum, salah seorang warga RT 6, RW 2, Desa Ketapang. (*/c15/hud)


Editor: Suryo Eko Prasetyo
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore