Selasa, 25 Jul 2017
Internasional

Jepang di Tengah Krisis Menciutnya Garis Keturunan Kaisar

Jumat, 19 May 2017 22:09 | editor : Dwi Shintia

KELUARGA INTI: Kaisar Akihito (duduk dua dari kiri) dan Permaisuri Michiko (duduk dua dari empat dari kiri) berpose bersama anak, menantu, dan cucu-cucu mereka.

KELUARGA INTI: Kaisar Akihito (duduk dua dari kiri) dan Permaisuri Michiko (duduk dua dari empat dari kiri) berpose bersama anak, menantu, dan cucu-cucu mereka. (File Photo Reuters)

JawaPos.com – Ketika cucu perempuan pertama Kaisar Jepang Akihito, Putri Mako, menikah dengan orang awam, hidupnya akan berubah drastis. Perempuan 25 tahun itu akan kehilangan title dan meninggalkan istana saat mengikat janji dengan pegawai firma hukum Kei Komuro tahun depan

Nanti, Putri Mako, 25, akan mendapatkan gaji dari kekaisaran saat menikah. Setelah itu, pasangan ini harus bekerja untuk menghidupi diri sendiri. Sama seperti masyarakat pada umumnya.

Sang Putri Mako juga harus ikut mencoblos saat pemilu, membayar pajak, dan belanja di tempat umun. Nanti kalau pasangan ini memiliki buah hati, anak-anak mereka tidak berhak menyandang status bangsawan.

Namun, selain berita pernikahan ini, Jepang sedang menghadapi krisis garis keturunan kaisar. Pasalnya, Kaisar Akihito hanya memiliki satu cucu laki-laki. Yaitu Pangeran Hisahito yang masih berusia 11 tahun. Sementara, peraturan menyebutkan kalau hanya lelakilah yang boleh menduduki kursi kaisar. Berdasar ini, bila tidak ada yang berubah, Pangeran Hisa lah yang akan menjadi kaisar menggantikan posisi pamannya, Putra Mahkota Naruhito.

”Akan ada kemungkinan, semua orang, kecuali Pangeran Hisahito, akan meninggalkan kekaisaran dalam waktu 10-15 tahun mendatang,” kata Isao Tokoro, profesor emertus di Universitas Kyoto Sangyo. ”Kita harus memikirkan masalah ini. Sistem harus direformasi secepatnya jadi kita tidak kehilangan lebih banyak anggota keluarga kaisar,” sambungnya.

Di bawah undang-undang kekaisaran pada 1947, putri yang menikah dengan warga sipil akan dicabut gelar bangsawannya. Undang-undang ini membuat anggota keluarga kaisar turun drastis. Kaisar adalah monarki konstitusional dan menjadi pemimpin negara Jepang sekaligus pemimpin otoritas agama Shinto Jepang. (BBC/tia)

Sponsored Content

loading...
 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia