Selasa, 30 May 2017
PEMENANG READERS CHOICE
Kesehatan

Kondisi Mata Katarak Pengaruhi Penyembuhan

Jumat, 19 May 2017 19:51 | editor : Suryo Eko Prasetyo

TES MATA DENGAN TUNJUKKAN JEMPOL: Alim Markus saat menemui Rami di National Hospital setelah selesai operasi katarak.

TES MATA DENGAN TUNJUKKAN JEMPOL: Alim Markus saat menemui Rami di National Hospital setelah selesai operasi katarak. (Galih Cokro/Jawa Pos/JawaPos.com)

JawaPos.com – Ini sudah kali kedua Ratnaningsih menjalani operasi katarak. Mata kanannya dioperasi November tahun lalu. Lalu, bulan ini gantian mata kirinya yang dioperasi.

Rabu (17/5) perempuan asal Nganjuk itu mengontrol kondisi matanya di National Hospital. Bersama dia, ada puluhan pasien lain yang juga memeriksakan kondisi mata mereka setelah menjalani operasi katarak.

Soal katarak yang mengenai matanya, Ratna mengatakan tidak mengetahui penyebabnya. Yang dia ingat, awal tahun lalu penglihatannya tiba-tiba buram. Setelah memeriksakan diri ke dokter, dia didiagnosis menderita katarak. Atas saran seorang teman, dia mendaftar untuk ikut operasi katarak gratis. Dua kali menjalani operasi, Ratna merasakan adanya perbedaan antara operasi pertama dan kedua. ’’Yang November itu cepat. Yang ini agak lama di dalam ruang operasi. Lalu, sekarang pandangan juga masih kabur,’’ lanjut perempuan kelahiran 31 Oktober, 39 tahun silam, tersebut.

PASCAOPERASI: Sumadi dibantu Winda Rimawati melakukan pemeriksaan mata di National Hospital.

PASCAOPERASI: Sumadi dibantu Winda Rimawati melakukan pemeriksaan mata di National Hospital. (Galih Cokro/Jawa Pos/JawaPos.com)

Hal itu dibenarkan dokter Syenny Budi Handoko SpM Msc. ’’Kondisi mata pasien berbeda. Pupilnya lengket sehingga agak susah,’’ tutur dokter National Hospital tersebut.

Rupanya kondisi itu disebabkan radang yang dialami Ratna sejak kecil. Pupilnya pun tidak bisa membuka lebar. Akibatnya, meski katarak sudah dibersihkan, lensa tidak bisa ditanam. Jika dipaksakan, bisa terjadi radang. Obat tetes khusus pun harus diberikan. Salah satu efek obat tersebut adalah penglihatan terganggu hingga empat hari. Setelah itu, mata bisa melihat lagi.

Ratna dan puluhan orang lainnya merupakan pasien operasi katarak gratis yang diadakan Yayasan Abdihusada Utama. ’’Pasien tidak kami batasi asal daerahnya. Yang penting, mereka datang dengan membawa surat keterangan tidak mampu dari RT, RW dan KTP,” jelas Soeharsa Muliabarata, ketua umum Yayasan Sosial Abdihusada Utama. Dalam acara Rabu lalu, pengusaha Alim Markus juga hadir. Dia adalah pembina Yayasan Sosial Abdihusada Utama.

Sejak empat tahun silam, bekerja sama dengan National Hospital, yayasan tersebut secara rutin mengadakan bakti sosial operasi katarak. ’’Ini bagian dari upaya membantu program pemerintah untuk membebaskan Indonesia dari katarak pada 2020,” tutur CEO National Hospital Surabaya dr Hans Wijaya MM CIA. (dwi/c7/jan)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia