Minggu, 23 Jul 2017
Metropolis

Orang Tua Pertanyakan Urgensi Outbound, Hendak Wisuda Siswa Sudah Jenazah

Jumat, 19 May 2017 19:45 | editor : Suryo Eko Prasetyo

LENGANG: Suasana gerbang sekolah Ponpes Mambaus Sholihin d jaga ketat petugas keamanan usai terjadinya tragedi di telaga bukit kapur Desa Suci, Manyar yang menelan enam korban meninggal.

LENGANG: Suasana gerbang sekolah Ponpes Mambaus Sholihin d jaga ketat petugas keamanan usai terjadinya tragedi di telaga bukit kapur Desa Suci, Manyar yang menelan enam korban meninggal. (Guslan Gumilang/Jawa Pos/JawaPos.com)

JawaPos.com – Wali murid berdatangan ke Pondok Pesantren (Ponpes) Mambaus Sholihin di Desa Suci Kamis (18/5) sore. Mereka diantar masuk ke ruang guru MTs Mambaus Sholihin. Di ruangan tersebut, para pengasuh memberikan informasi seputar insiden maut itu. Orang tua bertanya-tanya.

”Dapat kabar tersebut, saya langsung berangkat dari kantor di Surabaya ke sini,” ujar seorang ibu yang anaknya jadi korban. Matanya berkaca-kaca. Isak tangis pun pecah. Mereka berangkulan. Pengurus ponpes cepat-cepat membawa mereka masuk ke ponpes.

Para wali murid itu begitu sedih. Sebab, mereka seharusnya bahagia karena anak-anak akan diwisuda pada Sabtu (20/5). Tenda tempat wisuda bahkan sudah disiapkan. Dekorasi mulai tertata. ”Tapi, ternyata anak saya tidak jadi ikut wisuda,” ucap ibu tersebut, lalu terisak lagi.

Mereka yang Tiada dan Runtutan Outbond Berakhir Duka

Mereka yang Tiada dan Runtutan Outbond Berakhir Duka (Grafis: Rizky/Andrew/Jawa Pos/JawaPos.com)

Para wali murid sangat menyayangkan insiden itu. Mengapa menjelang wisuda harus ada outbound? Apalagi, outbound tersebut dilakukan tanpa alat pengaman. ”Kalau tidak ada tujuan pastinya, kenapaharus melakukan outbound?” semprot salah seorang kerabat wali murid. Semestinya, tegas dia, outbound tidak harus dilakukan di medan yang berbahaya, cukup di area pondok.

Seorang pengasuh ponpes, Abdul Fatah, menjelaskan bahwa outbound merupakan kegiatan rutin santri pria. Kemarin bukanlah outbound pertama di bekas tambang bukit kapur, Desa Suci, Kecamatan Manyar. Sebelumnya, para santri juga outbound ke sana.

Fatah membantah panitia dikatakan teledor atau lalai. Sebelum kegiatan itu berlangsung, sudah dilakukan cek lokasi. Termasuk membuat rambu-rambu. Siswa tidak boleh melintasi kawasan di luar rute yang ditentukan panitia. ’’Nah, lokasi tempat santri tenggelam termasuk rute yang tidak boleh dilintasi,” tuturnya.

Menurut Fatah, insiden tersebut terjadi saat proses antrean lintasan merayap di atas air. Saat itulah, tiba-tiba salah seorang santri bernama Ahmad Syafi’i keluar dari barisan. Dia terjun ke kubangan air bekas galian tambang. Kontan saja, beberapa santri langsung membantu. ”Sekitar 18 orang memberikan bantuan. Tetapi, yang tenggelam enam anak,” ucapnya.

Pimpinan Ponpes Mambaus Sholihin KH Masbuhin Faqih menyatakan sangat berduka. Menurut dia, musibah itu terjadi atas ketetapan Tuhan. Dalam Islam, itulah yang disebut sebagai qada dan qadar Allah. ’’Bahwa segala sesuatu terjadi karena kehendak dan izin Tuhan. Termasuk musibah ini,” katanya setelah menerima Kapolres Gresik AKBP Boro Windu Danandito.

Keluarga besar pondok sangat bersedih. Dia berharap wali murid bisa menerima musibah itudengan ikhlas dan tawakal. ’’Kami sedih dengan kejadian ini,” ungkap KH Masbuhin.

Setelah diambil dari kamar jenazah RSUD Ibnu Sina, enam jenazah tersebut disalatkan di masjid ponpes setempat. Setelah itu, jenazah diserahkan kepada keluarga masing-masing. KH Masbuhin mengungkapkan, ponpes memberikan kebebasan ke wali murid tentang lokasi pemakaman santri. Dia mempersilakan jika keluarga ingin santri dimakamkan di pondok. ’’Kalau ada wali santri yang bersedia, kami siapkan tempat untuk lokasi pemakaman. Bergantung wali murid,” jelasnya. (mar/adi/c20/roz)

Sponsored Content

loading...
 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia