Jumat, 21 Jul 2017
Features

Antusiasme Mahasiswa Tiongkok Mempelajari Bahasa dan Budaya Indonesia

Kamis, 18 May 2017 10:43 | editor : Miftakhul F.S

BERI PERHATIAN: Wartawan Jawa Pos Agus Muttaqin (kanan) memberikan penjelasan tentang Indonesia kepada para mahasiswi YMU yang mengambil prodi bahasa dan budaya Indonesia.

BERI PERHATIAN: Wartawan Jawa Pos Agus Muttaqin (kanan) memberikan penjelasan tentang Indonesia kepada para mahasiswi YMU yang mengambil prodi bahasa dan budaya Indonesia. (Koko Kurniawan/Jawa Pos)

Peminat program studi bahasa dan budaya Indonesia di Yunnan Minzu University (YMU) Kunming, Yunnan, Tiongkok, terus meningkat setiap tahun. Saat ini terdapat 95 mahasiswa yang menekuni prodi itu. Berikut laporan AGUS MUTTAQIN, AGUS DWI PRASETYO, dan KOKO KURNIAWAN dari sana.

LAGU Tulolonna Sulawesi terdengar di ruang pertemuan kampus Yuhua, YMU, Selasa (16/5), menyambut kedatangan rombongan wartawan dari Indonesia. Delapan mahasiswi yang mengenakan kaus putih dan bawahan kain batik printing menari mengikuti irama lagu asal Sulawesi Selatan tersebut. Gerakan mereka lumayan luwes.

Mereka adalah mahasiswa yang kini mempelajari bahasa dan budaya Indonesia di YMU. Tak heran bila mereka mulai familier dengan seni budaya Indonesia. Bahkan, di antara empat mahasiswa tersebut, ada yang pernah belajar bahasa dan budaya Indonesia secara khusus di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY).

’’Selain bahasa, di Jogja saya belajar membatik dan main gamelan,’’ ujar Xu Meilan yang pernah tinggal selama setahun (2015–2016) di Kota Gudeg.

Meilan juga punya pengalaman tak terlupakan saat berbelanja di pasar saat pagi, ikut bercocok tanam di Gunungkidul, dan berwisata mengunjungi Candi Ratu Boko, Prambanan, serta Borobudur. ’’Candinya bagus-bagus,’’ tuturnya dengan bahasa Indonesia yang cukup fasih.

Meilan bisa berbahasa Indonesia dengan lancar karena memang secara serius mempelajarinya. Selain pernah mengikuti program pertukaran mahasiswa ke Jogjakarta, dia termasuk mahasiswa senior di Fakultas Asia Tenggara dan Asia Selatan. Sudah lima tahun perempuan 25 tahun tersebut belajar tentang Indonesia.

Sementara itu, tiga teman Meilan, yakni Yu Guangbing, Peng Wei, dan Malina, belum begitu lancar berbahasa Indonesia. Namun, mereka tampak antusias mengeja kata demi kata yang familier dalam kehidupan sehari-hari. ’’Kami suka bahasa Indonesia,’’ kata Malina.

Jurusan bahasa dan budaya Indonesia sejatinya tidak masuk kelas favorit di universitas yang berada di Distrik Chenggong, Kota Kunming, Yunnan, itu. Di antara ribuan mahasiswa YMU, hanya 95 orang yang mengambil jurusan bahasa Indonesia. Namun, keindahan alam dan budaya Nusantara menjadi daya tarik bagi Meilan dan teman-temannya yang mengambil prodi Indonesia di kampus Yuhua, YMU.

Meski termasuk jurusan minoritas, Meilan tidak kehilangan gengsi belajar tentang Indonesia. Sebaliknya, mahasiswi semester akhir itu mengaku makin antusias dalam belajar. Salah satunya, intensif bercakap melalui media sosial (medsos) dengan rekan-rekannya di Indonesia. Itu menjadi salah satu cara dia untuk memperkaya kosakata dan tata bahasa Indonesia.

Ketertarikan Meilan tentang Indonesia berawal dari ketakjubannya melihat keindahan dan kekukuhan Candi Borobudur di Magelang, Jawa Tengah. Dari bangunan warisan dunia itu, dia kemudian memutuskan untuk menekuni bahasa Indonesia agar bisa cepat memahami budaya serta keindahan alam Indonesia.

’’Pemandangan alam di Indonesia bagus-bagus,’’ ujar mahasiswi yang memilih tinggal di asrama YMU daripada kos di luar kampus tersebut.

Setelah lima tahun belajar bahasa dan budaya Indonesia, hati Meilan semakin mantap menatap masa depan. Setelah lulus S-1 dari YMU, dia berencana mengambil program magister bahasa dan budaya Indonesia di dua kampus sekaligus di Indonesia. Yakni, ’’almamater’’-nya dulu, UNY, dan Universitas Negeri Sebelas Maret (UNS) Surakarta.

’’Kalau bisa dapat bekerja di Indonesia juga,’’ tutur perempuan penggemar batik itu.

Keputusan Meilan tersebut juga direstui keluarga. Bahkan sejak dia memutuskan untuk mengambil prodi bahasa dan budaya Indonesia di YMU. ’’Selama itu tidak jahat, orang tua saya mendukung,’’ ungkapnya.

Setali tiga uang, untuk menarik para pelajar Indonesia berstudi di Negeri Panda, pemerintah Tiongkok rajin menawarkan beasiswa pendidikan di sana. Semua itu sejalan dengan kebijakan luar negeri pemerintah Tiongkok, open door policy.

Salah satu yang getol menawarkan beasiswa kepada anak-anak muda Indonesia, ya kampus Meilan, YMU. Perguruan tinggi yang terletak di bagian barat daya Tiongkok itu tahun depan mengundang 30 calon mahasiswa asal Indonesia untuk belajar di berbagai jurusan di YMU.

’’Tahun depan pimpinan YMU ke Indonesia untuk mempromosikan beasiswa tersebut,’’ kata Deputy Director University Affairs Committee YMU Li Hui saat menerima rombongan.

Li Hui didampingi Deputy Director Office for International Exchange and Cooperation Wu Qing-chang dan Head of Indonesian Major Indonesian Department School of Southeast Asian Languages and Cultures Zhang Huiye.

Menurut Li Hui, kampusnya memberikan beasiswa dengan banyak pertimbangan. Selain sejalan dengan kebijakan luar negeri pemerintah, beasiswa itu ditujukan untuk menarik minat mahasiswa asal Indonesia untuk kuliah di Kunming, khususnya di YMU.

’’Saat ini belum ada mahasiswa Indonesia yang kuliah di sini,’’ ujar Hui.

Padahal, jumlah mahasiswa asing di YMU terhitung banyak. Ada 3.864 mahasiswa asing yang didominasi dari Asia Selatan. Jumlah mahasiswa dan dosen di YMU saat ini mencapai 27 ribu orang.

YMU termasuk universitas besar di Tiongkok yang berdiri sejak 1951. Salah satu kampus terbaik di Tiongkok tersebut populer dengan sebutan universitas suku bangsa karena memprioritaskan calon mahasiswa dari suku minoritas di Tiongkok.

Pada 2015, YMU mendapat peringkat ke-3 kampus terbaik di Tiongkok sekaligus menjadi referensi bagi mahasiswa, dosen, serta peneliti yang hendak mendalami seputar isu kebangsaan di Tiongkok.

Terkait dengan beasiswa yang ditawarkan YMU kepada mahasiswa asal Indonesia, Hui tidak merinci secara detail. Yang pasti, sebagaimana beasiswa yang diterima mahasiswa asal Myanmar, penerima akan dibebaskan dari biaya pendidikan senilai 30 ribu yuan per tahun selama empat tahun. Saat ini ada 19 mahasiswa asal Myanmar yang mendapat beasiswa di YMU.

Hui menjelaskan, mahasiswa penerima beasiswa akan tinggal di asrama kampus. Mereka bebas memilih jurusan, mulai psikologi, ekonomi, teknik, kedokteran, pendidikan, hukum, sejarah, atau seni-budaya.

Belakangan YMU berfokus mengembangkan 15 jurusan kebangsaan dan bahasa negara-negara di kawasan Asia Selatan dan Asia Tenggara, termasuk bahasa Indonesia. Jurusan itu berdiri sejak 2011. ’’Kami juga membutuhkan banyak dosen bahasa Indonesia dari Indonesia,’’ jelasnya.

Saat ini, YMU bekerja sama dengan Universitas Negeri Yogyakarta dalam mengembangkan jurusan bahasa Indonesia. Di antaranya, menugaskan 99 mahasiswa YMU dalam program 3 + 1 ke Jogjakarta untuk belajar selama setahun di UNY dan tiga tahun di YMU sendiri.

’’Meilan termasuk yang mengikuti program kerja sama YMU dan UNY itu. Dia pernah belajar selama setahun di UNY,’’ tandas Hui. (*/c5/ari)

Sponsored Content

loading...
 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia