Senin, 29 May 2017
PEMENANG READERS CHOICE
Bisnis

Kata CEO Lippo Group James Riady Tentang Lesunya Properti

Selasa, 16 May 2017 08:35 | editor : Dwi Shintia

SUKSES: James Riady.

SUKSES: James Riady. (RAKA DENNY/JAWA POS)

JawaPos.com - Sebagai  perusahaan ternama di tanah air, kontribusi Lippo Group sudah tak terbilang. Yang terbaru, lini properti Lippo Group meluncurkan Meikarta, proyek prestisius yang mengintegrasikan kawasan industri berpengaruh di Cikarang, Bekasi, dengan residensial. Kepada wartawan Jawa Pos Agfi Sagittian, CEO Lippo Group James Riady memaparkan rencana besarnya.

Bagaimana Anda melihat kondisi industri properti saat ini? Di banyak negara, sektor properti merupakan suatu industri yang berkontribusi besar untuk mendobrak pertumbuhan ekonomi, pertumbuhan bangsa, dan memenuhi kebutuhan dasar setiap individu. Namun, di Indonesia sektor properti belum mencapai taraf seperti itu. Saya berharap ekonomi Indonesia bisa ditopang salah satu industri besar seperti properti. Kita mengetahui bahwa Indonesia memiliki 16 juta defisit perumahan. Ada jutaan keluarga yang punya pekerjaan dan mengidamkam rumah, tapi tidak terjangkau untuk membeli tempat tinggal yang berkualitas buat dinikmati.

Apa yang menjadi mimpi dan harapan Anda dengan diluncurkannya proyek Meikarta? Kami berharap properti bisa mengambil bagian dalam kontribusi memajukan ekonomi. Itulah kesempatan Lippo untuk mengambil bagian. Kami ingin menginspirasi ratusan developer besar lainnya untuk menawarkan hunian yang berkualitas dan di titik harga yang terjangkau. Hal tersebut menjadi visi Meikarta.

Sasaran market Meikarta bukan hanya Jakarta. Lippo membayangkan membangun sebuah kota baru. Kami mengharapkan 70–80 persen penghuninya adalah pendatang dari seluruh Indonesia yang ingin mencari kehidupan baru di Jakarta dan sekitarnya. Meikarta akan menampung 2 juta penduduk yang di dalamnya juga ada arus urbanisasi.

Alasan memilih Cikarang sebagai lokasi karena di sana bisa dibilang sebagai jantung perekonomian Indonesia. Yaitu, di koridor Bekasi, Cikarang, dan Karawang. Misalnya saja, seluruh produksi mobil yang mencapai satu juta per tahun, produksi motor yang mencapai 10 juta per tahun, dan masih banyak lagi industri yang berbasis di situ. Fondasi ekonominya kuat sekali.

Seberapa serius Lippo dalam mewujudkan Meikarta? Proyek tersebut memakan pendanaan yang sangat besar. Butuh sekitar Rp 278 triliun. Itu strukturnya adalah demokratisasi pendanaan. Artinya, pendanaan Meikarta melibatkan partner dari Jepang, Korea, Taiwan, dan lain-lain.

Sekitar 35 persen dana sendiri dari Lippo. Sisanya dari partner. Kami kira-kira memiliki sekitar 120 perusahaan mitra. Sebanyak 30 mitra di antaranya melibatkan partner luar negeri seperti Mitsubishi, Toyota, dan sebagainya.

Sekitar 2–3 tahun terakhir sektor properti lesu. Bagaimana menyikapinya? Benar, dua hingga tiga tahun terakhir properti memang lesu. Properti lesu karena tidak ada dobrakan. Tidak ada developer pentolan yang terjun membangun proyek dengan kreativitas, keberanian, dan inovasi. Kenapa mereka tidak berani turun? Sebab, sudah comfortable dengan proyek-proyek mereka yang besar. Tidak berani menawarkan hunian di titik harga yang terjangkau.

Jadi, apa yang terjadi saat ini sebenarnya, seluruh dunia ini sedang under performing. Amerika, Eropa, RRT, dan Asia juga terdampak. Karena itulah, kami merasa harus meningkatkan performance. Caranya, economic developments. Pembangunan properti harus ditingkatkan, khususnya pada segmen harga yang merakyat.

Bagaimana dengan bisnis Lippo yang lain seperti di bidang kesehatan dan pendidikan? Yang bisa saya bilang, semuanya progresnya baik. Semuanya berjalan dengan bagus. Mengembangkan jasa tidaklah sulit. Kami, Lippo Group, saat ini berfokus mengembangkan manusianya, membangun kehidupan melalu pengembangan properti, khususnya hunian. (*/c22/sof)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia