Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 5 Mei 2017 | 08.16 WIB

Rayakan Hari Jadi Kota, Lepas 724 Ekor Kepiting Bakau

Anggota Satpol PP Surabaya melepas kepiting bakau di area Mangrove Information Center Surabaya Rabu (3/5). Jumlah kepiting yang dilepas sebanyak 724 ekor, sama dengan hari ulang tahun Surabaya. - Image

Anggota Satpol PP Surabaya melepas kepiting bakau di area Mangrove Information Center Surabaya Rabu (3/5). Jumlah kepiting yang dilepas sebanyak 724 ekor, sama dengan hari ulang tahun Surabaya.



JawaPos.com – Sudah jatuh, tertimpa tangga. Kondisi tersebut, sepertinya, menggambarkan apa yang dialamiSembilan siswa SMPN 3 Surabaya duduk rapi di sebuah perahu. Tidak untuk berlibur menyusuri Kali Wonorejo, melainkan memainkan perangkat musik karawitan.


Mereka hadir di salah satu dermaga Mangrove Information Center (MIC) Wonorejo untuk menjadi pengiring acara puncak. Di dermaga itu pula, lima boks styrofoam berisi ratusan kepiting berjejer. Petugas dari Balai Karantina Ikan, Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan (BKIPM) Kelas I Surabaya I terlihat sibuk menata kepiting tersebut. Pelepasan kepiting bakau yang masih berusia dini tersebut menjadi agenda utama kegiatan Gemar Makan Ikan (Gemarikan).


Pelepasan kepiting juga hasil kerja sama dinas ketahanan pangan dan pertanian (DKPP) dengan BKIPM. Kepiting yang akan dilepas tersebut merupakan hasil operasi BKIPM. Kepiting itu tidak bisa dijual karena ukurannya masih di bawah standar. Yakni, panjang kurang dari 15 sentimeter dan berat kurang dari 200 gram. ”Saya berharap bukan hanya kali ini. Tapi seterusnya bisa kerja sama untuk pelepasan kepiting,” ujar Djoestamadji, kepala DKPP. Dia mengawali pelepasan hewan dengan nama ilmiah Scylla tersebut. Dengan menggunakan sarung tangan merah, satu per satu kepiting dikeluarkan dari boks. Jumlah sarung tangan yang terbatas memaksa beberapa tamu hanya memakai satu sarung tangan. Alhasil, capit kepiting masih bebas menari, bahkan melukai tangan.


Berdasar hasil riset dari Universitas Hang Tuah, wilayah MIC merupakan habitat yang cocok bagi pengembangan kepiting. Penangkapan liar kepiting masih sedikit. Jadi, kepiting bisa berkembang biak dengan baik. Selain ketersediaan lahan bakau yang cukup, sedimentasi di kawasan itu juga kecil. ”Ini dinamakan proses restocking,” ujar Nurmalasari, peneliti dari Universitas Hang Tuah.


Dengan restocking itu, diharapkan Surabaya mampu menjadi penghasil kepiting bakau. Selain itu, hasil kepiting yang melimpah akan berpengaruh pada harga yang lebih murah. ”Kalau murah, daya beli masyarakat akan meningkat,” terang Djoestamadji.


Saat ini konsumsi ikan di Surabaya masih rendah. Angkanya 33–34 kilogram per kapita per tahun. ”Jawa Timur sudah di angka 35 kilogram per kapita per tahun,” jelasnya. Gemarikan menjadi salah satu sarana untuk meningkatkan konsumsi ikan di kalangan masyarakat Surabaya. (gal/c10/oni/sep/JPG)

Editor: Suryo Eko Prasetyo
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore