
Anggota Satpol PP Surabaya melepas kepiting bakau di area Mangrove Information Center Surabaya Rabu (3/5). Jumlah kepiting yang dilepas sebanyak 724 ekor, sama dengan hari ulang tahun Surabaya.
JawaPos.com – Sudah jatuh, tertimpa tangga. Kondisi tersebut, sepertinya, menggambarkan apa yang dialamiSembilan siswa SMPN 3 Surabaya duduk rapi di sebuah perahu. Tidak untuk berlibur menyusuri Kali Wonorejo, melainkan memainkan perangkat musik karawitan.
Mereka hadir di salah satu dermaga Mangrove Information Center (MIC) Wonorejo untuk menjadi pengiring acara puncak. Di dermaga itu pula, lima boks styrofoam berisi ratusan kepiting berjejer. Petugas dari Balai Karantina Ikan, Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan (BKIPM) Kelas I Surabaya I terlihat sibuk menata kepiting tersebut. Pelepasan kepiting bakau yang masih berusia dini tersebut menjadi agenda utama kegiatan Gemar Makan Ikan (Gemarikan).
Pelepasan kepiting juga hasil kerja sama dinas ketahanan pangan dan pertanian (DKPP) dengan BKIPM. Kepiting yang akan dilepas tersebut merupakan hasil operasi BKIPM. Kepiting itu tidak bisa dijual karena ukurannya masih di bawah standar. Yakni, panjang kurang dari 15 sentimeter dan berat kurang dari 200 gram. ”Saya berharap bukan hanya kali ini. Tapi seterusnya bisa kerja sama untuk pelepasan kepiting,” ujar Djoestamadji, kepala DKPP. Dia mengawali pelepasan hewan dengan nama ilmiah Scylla tersebut. Dengan menggunakan sarung tangan merah, satu per satu kepiting dikeluarkan dari boks. Jumlah sarung tangan yang terbatas memaksa beberapa tamu hanya memakai satu sarung tangan. Alhasil, capit kepiting masih bebas menari, bahkan melukai tangan.
Berdasar hasil riset dari Universitas Hang Tuah, wilayah MIC merupakan habitat yang cocok bagi pengembangan kepiting. Penangkapan liar kepiting masih sedikit. Jadi, kepiting bisa berkembang biak dengan baik. Selain ketersediaan lahan bakau yang cukup, sedimentasi di kawasan itu juga kecil. ”Ini dinamakan proses restocking,” ujar Nurmalasari, peneliti dari Universitas Hang Tuah.
Dengan restocking itu, diharapkan Surabaya mampu menjadi penghasil kepiting bakau. Selain itu, hasil kepiting yang melimpah akan berpengaruh pada harga yang lebih murah. ”Kalau murah, daya beli masyarakat akan meningkat,” terang Djoestamadji.
Saat ini konsumsi ikan di Surabaya masih rendah. Angkanya 33–34 kilogram per kapita per tahun. ”Jawa Timur sudah di angka 35 kilogram per kapita per tahun,” jelasnya. Gemarikan menjadi salah satu sarana untuk meningkatkan konsumsi ikan di kalangan masyarakat Surabaya. (gal/c10/oni/sep/JPG)
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Valencia vs Real Betis di Liga Spanyol: Tuan Rumah Kesulitan Menang!
Robot Humanoid Tiongkok Kalahkan Rekor Lari Usain Bolt, Lalu Terbakar
Prediksi Skor Bodo/Glimt vs NEC Nijmegen di Kualifikasi Liga Champions: Tuan Rumah Menang!
Prediksi Skor LASK Linz vs Celtic di Kualifikasi Liga Champions: Kans Berakhir Imbang!
Prediksi Skor Sabah vs Hapoel Be'er Sheva di Kualifikasi Liga Champions 2026/2027
Prediksi Skor Rapid Vienna vs Hearts: Tuan Rumah Terancam Tumbang di Liga Konferensi Eropa
Prediksi Skor Viking FK vs Dinamo Zagreb: Purgeri Diprediksi Menang Tipis di Norwegia!
Prediksi Skor AEK Athens vs Levski Sofia di Kualifikasi Liga Champions 2026/2027: Tuan Rumah Menang!
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
