
NO DRUG, NO ALCOHOL: Wayan (tiga dari kiri) bersama timnya setelah pertandingan League of Change 2017 di lapangan softball Surabaya.
Orang-orang ini pernah dianggap tidak punya masa depan. Namun, mereka tidak menyerah. Olahraga menjadi wahana mereka untuk beralih dan melupakan dunia hitam.
GALIH ADI PRASETYO
ALKOHOL, ganja, sabu-sabu, hingga heroin pernah dirasakan I Wayan Arya Renawa. Bagi dia, berbagai jenis narkotika tersebut merupakan dunia yang perlu dieksplorasi. Sensasi yang menggoda menjadi daya tarik tersendiri. ’’Saya ngidolain band The Rolling Stone dan Slank. Dulu mereka juga pernah pakai,’’ ujar Wayan.
Berbagai barang terlarang itu dia cicipi sejak usia remaja. Terlebih ketika dia telah bekerja dan mampu mencari uang sendiri. Dia seakan bebas menggunakan uang yang dimiliki.
Pada masa kuliah, Wayan bahkan memakai uang beasiswa untuk membeli narkoba. Padahal, ketika itu dia menerima beasiswa yang cukup prestisius: beasiswa Supersemar. ’’Uang beasiswa buat beli barang (narkotika, Red). Untuk kuliah ya minta orang tua lagi,’’ kata ayah tiga anak tersebut.
Namun, kenikmatan itu tidak berlangsung lama. Titik balik terjadi saat orang tuanya memergoki Wayan sedang menikmati barang terlarang tersebut di kamarnya. Wayan akhirnya dikirim ke tempat saudaranya untuk direhabilitasi secara tradisional. ’’Waktu itu harus puasa. Seminggu puasa, seminggu tidak. Itu berlangsung selama enam bulan,’’ jelas pria kelahiran Bali tersebut.
Tetapi, rehabilitasi tidak serta-merta mengubahnya. Perubahan terjadi ketika dia bertemu dengan seorang anak yang mengajaknya bermain bola. Ajakan itu ditepisnya. Dia menganggap dirinya sudah rusak dan tidak berguna. ’’Orang rusak itu bisa dibenerin Bli,’’ kata Wayan menirukan ucapan bocah kelas V SD tersebut.
Ucapan sederhana itu membuatnya berubah. Ternyata dia menemukan kebahagiaan yang sebenarnya di sana. ’’Ternyata main gini bisa bikin bahagia. Bukan kebahagiaan fana yang selama ini saya rasakan,’’ tutur alumnus Politeknik Negeri Bali tersebut.
Kini dia terbebas dari masa lalu yang kelam. Bahkan, prestasi membanggakan diraih Wayan. Dia terpilih menjadi wakil Indonesia di ajang Homeless World Cup (HWC) 2013 di Polandia. ’’Dulu kita meraih juara VIII,’’ ungkap Wayan.
Kini dia sibuk bekerja dan mengabdikan dirinya kepada sesama. Mulai bekerja di Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Badung, relawan di Yayasan Citra Husada Indonesia, hingga Yayasan Kesehatan Bali. Dia juga menjadi pelatih tim street soccer Bali di League of Change (LOC).
Kisah Wayan hanya satu di antara puluhan kisah lain di LOC. LOC adalah ajang kompetisi street soccer khusus para homeless. ’’Homeless di sini kami artikan para anak jalanan, penderita AIDS, dan mantan pecandu narkoba,’’ terang Rizki Kurniawan, manajer HWC 2017.
LOC yang diadakan di lapangan softball Surabaya tersebut merupakan ajang kompetisi nasional. Ada lima provinsi dan tujuh tim yang mengikuti kompetisi tersebut. Yakni, Jawa Timur (2 tim), Jawa Tengah (2 tim), Jogjakarta (1 tim), Bali (1 tim), dan Nusa Tenggara Barat (1 tim). ’’Sebelumnya, mereka mengikuti seleksi di provinsi masing-masing. Misalnya, dari Jawa Timur, mereka diambil dari lima daerah, yaitu Bojonegoro, Sidoarjo, Malang, Pasuruan, dan Surabaya,’’ papar Rudhy Wedhasmara, pembina Yayasan Our Right to Be Independent (Orbit).
Kompetisi itu terselenggara berkat kerja sama Badan Narkotika Nasional Kota (BNNK) Surabaya dan Yayasan Orbit. ’’Pemkot juga menaruh perhatian dan dukungan penuh pada acara ini,’’ tutur AKBP Suparti, kepala BNNK Surabaya.
Acara yang dibuka langsung oleh Wali Kota Tri Rismaharini itu sekaligus merupakan seleksi untuk mencari pemain unggul. Ada tujuh orang yang bakal menjadi wakil Indonesia untuk berlaga di tingkat internasional. ’’Nanti wakil dari Indonesia bertanding dengan 40 negara lainnya di Oslo, Norwegia,’’ jelas Rizki.
Perhatian khusus juga ditunjukkan Risma. Dia menganggap anak-anak tersebut memiliki keistimewaan karena mampu menjadi contoh positif bagi yang lain. Malam ini (2/5) mereka diundang ke kediaman wali kota. Berbagai kenang-kenangan disiapkan Risma bagi seluruh tim yang mengikuti LOC. ’’Ibu akan bagikan simbol Surabaya. Di situ tecermin keberanian untuk melawan kehancuran. Kalau kalian tergoda, mengalami kesulitan, atau ingin menyerah, lihat saja simbol itu,’’ ujar Risma. (*/c14/oni/sep/JPG)

Penyebab Ribuan Gerai Indomaret Tutup pada 31 Mei-1 Juni 2026
Pesan Perpisahan Penuh Misteri Milos Raickovic Bersama Persebaya Surabaya, Bonek Penasaran hingga Menyesali
Presiden Iran Masoud Pezeshkian Ajukan Pengunduran Diri, Ini Alasannya
Bocor! 3 Alasan Krusial Bruno Moreira Tinggalkan Persebaya Surabaya, Nomor Dua Jadi Kunci Utama
Ada Pemain Bali United yang Dirumorkan Gabung Persebaya Surabaya Musim Depan, Bonek Sebutkan 3 Nama Termasuk Irfan Jaya
Kunker Luar Negeri Presiden Dikritik, Teddy Singgung Dino Patti Djalal yang hanya 3 Bulan jadi Wamenlu
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Breaking News! Bruno Moreira Tinggalkan Persebaya Surabaya, Wariskan 39 Gol yang Sulit Dilupakan
Harga BBM Pertamina Nonsubsidi Terbaru Per 1 Juni 2026, Dex Series Turun, Pertamax Turbo Naik
Viral Penonton Konser F4 di Jakarta Kena Campak Sebelumnya, Kemenkes Lakukan Pengecekan
