Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 29 April 2017 | 16.30 WIB

Trump Tagih Pembayaran Anti-Rudal, Seoul Emoh Bayar

KONFLIK: Donald Trump memandang keluar jendela saat di wawancarai Reuters. - Image

KONFLIK: Donald Trump memandang keluar jendela saat di wawancarai Reuters.



JawaPos.com - Sistem pertahanan antirudal Amerika Serikat (AS), Terminal High Altitude Area Defense (THAAD), sudah mulai terpasang di Korea Selatan (Korsel). Tahap pertama pengiriman peranti militer senilai USD 1 miliar atau sekitar Rp 13,28 triliun itu sukses memantik amarah Tiongkok. Belakangan, THAAD malah membuat Seoul berang. Gara-garanya, Presiden Donald Trump menagih pemerintah Korsel membayar sistem canggih tersebut.



”Saya informasikan kepada Korsel bahwa akan lebih baik jika mereka membayar. Harga sistem pertahanan itu USD 1 miliar,” kata presiden ke-45 AS tersebut ketika diwawancarai Reuters. Dia lantas menyatakan bahwa THAAD merupakan senjata yang fenomenal. THAAD mampu menembak jatuh rudal-rudal yang melesat di angkasa dengan akurat.



Kemarin (28/4) beberapa pejabat senior Trump menuturkan bahwa THAAD yang sudah mulai dirakit di bekas lahan golf milik Lotte Group itu akan segera aktif. ”Dalam hitungan hari, sistem tersebut akan beroperasi,” ungkap pejabat yang merahasiakan identitasnya kepada media itu. Namun, kabarnya, untuk bisa mengoperasikan THAAD, Korsel masih harus menunggu pengiriman tahap berikutnya.



Sementara menunggu kelengkapan sistem tersebut, Seoul justru ditagih Trump. Padahal, dalam kesepakatan sebelumnya, AS tidak pernah mensyaratkan Korsel untuk membayar. ”Tidak ada yang berubah dalam kesepakatan itu,” tegas salah seorang pejabat Kementerian Pertahanan Korsel. Karena itu, dia menyatakan bahwa Seoul tidak akan memenuhi tagihan Trump.



Penempatan THAAD di Korsel tercantum dalam Status of Forces Agreement yang selama ini menjadi rujukan penempatan pasukan AS di Semenanjung Korea. Dalam kesepakatan tersebut, tertulis bahwa sebagai konsumen alias pengguna THAAD, Korsel wajib menyediakan tempat dan infrastruktur penunjangnya. Itulah yang membuat Seoul lantas meminta Lotte Group menghibahkan lahannya.



Sementara itu, AS sebagai pihak penyedia THAAD akan menyediakan sistem pertahanan tersebut. Selain biaya produksi, Washington juga harus menanggung biaya pengiriman THAAD dan menyediakan operatornya sekalian. ”Semuanya sudah tertulis dengan jelas dalam perjanjian tersebut,” tandas pejabat Seoul itu. Maka, saat tiba-tiba Trump menagih bayaran, Korsel pun tersinggung.



Dalam survei, sebenarnya hanya sekitar 51,8 persen warga Korsel yang mendukung penempatan THAAD. Sisanya menganggap penempatan sistem canggih itu tidak perlu. Namun, saat Trump melenceng dari perjanjian dan menyebut-nyebut pembayaran, publik Korsel tidak terima. ”Jadi, dia memantik perang dengan Korut dan minta Korsel membiayainya,” sindir seorang netizen. (AFP/Reuters/hep/c20/any)






Sistem pertahanan antirudal Amerika Serikat (AS), Terminal High Altitude Area Defense (THAAD), sudah mulai terpasang di Korea Selatan (Korsel). Tahap pertama pengiriman peranti militer senilai USD 1 miliar atau sekitar Rp 13,28 triliun itu sukses memantik amarah Tiongkok. Belakangan, THAAD malah membuat Seoul berang. Gara-garanya, Presiden Donald Trump menagih pemerintah Korsel membayar sistem canggih tersebut.



”Saya informasikan kepada Korsel bahwa akan lebih baik jika mereka membayar. Harga sistem pertahanan itu USD 1 miliar,” kata presiden ke-45 AS tersebut ketika diwawancarai Reuters. Dia lantas menyatakan bahwa THAAD merupakan senjata yang fenomenal. THAAD mampu menembak jatuh rudal-rudal yang melesat di angkasa dengan akurat.



Kemarin (28/4) beberapa pejabat senior Trump menuturkan bahwa THAAD yang sudah mulai dirakit di bekas lahan golf milik Lotte Group itu akan segera aktif. ”Dalam hitungan hari, sistem tersebut akan beroperasi,” ungkap pejabat yang merahasiakan identitasnya kepada media itu. Namun, kabarnya, untuk bisa mengoperasikan THAAD, Korsel masih harus menunggu pengiriman tahap berikutnya.



Sementara menunggu kelengkapan sistem tersebut, Seoul justru ditagih Trump. Padahal, dalam kesepakatan sebelumnya, AS tidak pernah mensyaratkan Korsel untuk membayar. ”Tidak ada yang berubah dalam kesepakatan itu,” tegas salah seorang pejabat Kementerian Pertahanan Korsel. Karena itu, dia menyatakan bahwa Seoul tidak akan memenuhi tagihan Trump.



Penempatan THAAD di Korsel tercantum dalam Status of Forces Agreement yang selama ini menjadi rujukan penempatan pasukan AS di Semenanjung Korea. Dalam kesepakatan tersebut, tertulis bahwa sebagai konsumen alias pengguna THAAD, Korsel wajib menyediakan tempat dan infrastruktur penunjangnya. Itulah yang membuat Seoul lantas meminta Lotte Group menghibahkan lahannya.



Sementara itu, AS sebagai pihak penyedia THAAD akan menyediakan sistem pertahanan tersebut. Selain biaya produksi, Washington juga harus menanggung biaya pengiriman THAAD dan menyediakan operatornya sekalian. ”Semuanya sudah tertulis dengan jelas dalam perjanjian tersebut,” tandas pejabat Seoul itu. Maka, saat tiba-tiba Trump menagih bayaran, Korsel pun tersinggung.



Dalam survei, sebenarnya hanya sekitar 51,8 persen warga Korsel yang mendukung penempatan THAAD. Sisanya menganggap penempatan sistem canggih itu tidak perlu. Namun, saat Trump melenceng dari perjanjian dan menyebut-nyebut pembayaran, publik Korsel tidak terima. ”Jadi, dia memantik perang dengan Korut dan minta Korsel membiayainya,” sindir seorang netizen. (AFP/Reuters/hep/c20/any)


Editor: Dwi Shintia
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore