
KONFLIK: Donald Trump memandang keluar jendela saat di wawancarai Reuters.
JawaPos.com - Sistem pertahanan antirudal Amerika Serikat (AS), Terminal High Altitude Area Defense (THAAD), sudah mulai terpasang di Korea Selatan (Korsel). Tahap pertama pengiriman peranti militer senilai USD 1 miliar atau sekitar Rp 13,28 triliun itu sukses memantik amarah Tiongkok. Belakangan, THAAD malah membuat Seoul berang. Gara-garanya, Presiden Donald Trump menagih pemerintah Korsel membayar sistem canggih tersebut.
”Saya informasikan kepada Korsel bahwa akan lebih baik jika mereka membayar. Harga sistem pertahanan itu USD 1 miliar,” kata presiden ke-45 AS tersebut ketika diwawancarai Reuters. Dia lantas menyatakan bahwa THAAD merupakan senjata yang fenomenal. THAAD mampu menembak jatuh rudal-rudal yang melesat di angkasa dengan akurat.
Kemarin (28/4) beberapa pejabat senior Trump menuturkan bahwa THAAD yang sudah mulai dirakit di bekas lahan golf milik Lotte Group itu akan segera aktif. ”Dalam hitungan hari, sistem tersebut akan beroperasi,” ungkap pejabat yang merahasiakan identitasnya kepada media itu. Namun, kabarnya, untuk bisa mengoperasikan THAAD, Korsel masih harus menunggu pengiriman tahap berikutnya.
Sementara menunggu kelengkapan sistem tersebut, Seoul justru ditagih Trump. Padahal, dalam kesepakatan sebelumnya, AS tidak pernah mensyaratkan Korsel untuk membayar. ”Tidak ada yang berubah dalam kesepakatan itu,” tegas salah seorang pejabat Kementerian Pertahanan Korsel. Karena itu, dia menyatakan bahwa Seoul tidak akan memenuhi tagihan Trump.
Penempatan THAAD di Korsel tercantum dalam Status of Forces Agreement yang selama ini menjadi rujukan penempatan pasukan AS di Semenanjung Korea. Dalam kesepakatan tersebut, tertulis bahwa sebagai konsumen alias pengguna THAAD, Korsel wajib menyediakan tempat dan infrastruktur penunjangnya. Itulah yang membuat Seoul lantas meminta Lotte Group menghibahkan lahannya.
Sementara itu, AS sebagai pihak penyedia THAAD akan menyediakan sistem pertahanan tersebut. Selain biaya produksi, Washington juga harus menanggung biaya pengiriman THAAD dan menyediakan operatornya sekalian. ”Semuanya sudah tertulis dengan jelas dalam perjanjian tersebut,” tandas pejabat Seoul itu. Maka, saat tiba-tiba Trump menagih bayaran, Korsel pun tersinggung.
Dalam survei, sebenarnya hanya sekitar 51,8 persen warga Korsel yang mendukung penempatan THAAD. Sisanya menganggap penempatan sistem canggih itu tidak perlu. Namun, saat Trump melenceng dari perjanjian dan menyebut-nyebut pembayaran, publik Korsel tidak terima. ”Jadi, dia memantik perang dengan Korut dan minta Korsel membiayainya,” sindir seorang netizen. (AFP/Reuters/hep/c20/any)
Sistem pertahanan antirudal Amerika Serikat (AS), Terminal High Altitude Area Defense (THAAD), sudah mulai terpasang di Korea Selatan (Korsel). Tahap pertama pengiriman peranti militer senilai USD 1 miliar atau sekitar Rp 13,28 triliun itu sukses memantik amarah Tiongkok. Belakangan, THAAD malah membuat Seoul berang. Gara-garanya, Presiden Donald Trump menagih pemerintah Korsel membayar sistem canggih tersebut.
”Saya informasikan kepada Korsel bahwa akan lebih baik jika mereka membayar. Harga sistem pertahanan itu USD 1 miliar,” kata presiden ke-45 AS tersebut ketika diwawancarai Reuters. Dia lantas menyatakan bahwa THAAD merupakan senjata yang fenomenal. THAAD mampu menembak jatuh rudal-rudal yang melesat di angkasa dengan akurat.
Kemarin (28/4) beberapa pejabat senior Trump menuturkan bahwa THAAD yang sudah mulai dirakit di bekas lahan golf milik Lotte Group itu akan segera aktif. ”Dalam hitungan hari, sistem tersebut akan beroperasi,” ungkap pejabat yang merahasiakan identitasnya kepada media itu. Namun, kabarnya, untuk bisa mengoperasikan THAAD, Korsel masih harus menunggu pengiriman tahap berikutnya.
Sementara menunggu kelengkapan sistem tersebut, Seoul justru ditagih Trump. Padahal, dalam kesepakatan sebelumnya, AS tidak pernah mensyaratkan Korsel untuk membayar. ”Tidak ada yang berubah dalam kesepakatan itu,” tegas salah seorang pejabat Kementerian Pertahanan Korsel. Karena itu, dia menyatakan bahwa Seoul tidak akan memenuhi tagihan Trump.
Penempatan THAAD di Korsel tercantum dalam Status of Forces Agreement yang selama ini menjadi rujukan penempatan pasukan AS di Semenanjung Korea. Dalam kesepakatan tersebut, tertulis bahwa sebagai konsumen alias pengguna THAAD, Korsel wajib menyediakan tempat dan infrastruktur penunjangnya. Itulah yang membuat Seoul lantas meminta Lotte Group menghibahkan lahannya.
Sementara itu, AS sebagai pihak penyedia THAAD akan menyediakan sistem pertahanan tersebut. Selain biaya produksi, Washington juga harus menanggung biaya pengiriman THAAD dan menyediakan operatornya sekalian. ”Semuanya sudah tertulis dengan jelas dalam perjanjian tersebut,” tandas pejabat Seoul itu. Maka, saat tiba-tiba Trump menagih bayaran, Korsel pun tersinggung.
Dalam survei, sebenarnya hanya sekitar 51,8 persen warga Korsel yang mendukung penempatan THAAD. Sisanya menganggap penempatan sistem canggih itu tidak perlu. Namun, saat Trump melenceng dari perjanjian dan menyebut-nyebut pembayaran, publik Korsel tidak terima. ”Jadi, dia memantik perang dengan Korut dan minta Korsel membiayainya,” sindir seorang netizen. (AFP/Reuters/hep/c20/any)

Breaking News! Veda Ega Pratama Naik ke Peringkat 3 Moto3 2026 Usai Diskualifikasi Adrian Fernandez
Kronologi Lengkap Diskualifikasi Adrian Fernandez di Moto3 2026, Veda Ega Pratama Naik ke Posisi Tiga Klasemen
Hasil Practice Moto3 Hungaria 2026: Veda Ega Pratama Finis P2 dan Lolos ke Q2, Hakim Danish Justru Tersandung
Menebak Ranking FIFA Timnas Indonesia Selanjutnya Jika Menang Lawan Mozambik
Veda Ega Pratama Kudeta Peringkat Pertama! Update Klasemen Rookie of The Year Moto3 2026 Usai Brian Uriarte Didiskualifikasi
Sony Sonjaya Akan Ajukan Diri Jadi Justice Collaborator Kasus MBG, Janjikan Buka Nama-Nama Besar
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Kalah di Pengadilan Soal Sanksi Etik Promotor Disertasi Bahlil, Guru Besar UI: Mahasiswa Ini Bukan Main-main
Prediksi Haiti vs Peru 6 Juni 2026: Momentum Positif Les Grenadiers Uji Kebangkitan La Blanquirroja
3 Bintang Baru Sudah Deal! Persebaya Surabaya Siapkan Misi Besar Bernardo Tavares di Musim 100 Tahun
