Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 29 April 2017 | 16.25 WIB

Calon Kuat Presiden Prancis Ini Tak Mau Seperti Hillary Clinton

DIPREDIKSI MENANG: Emmanuel Macron berkampanye di Sarcelles, Paris, menjelang pilpres putaran kedua pekan depan. - Image

DIPREDIKSI MENANG: Emmanuel Macron berkampanye di Sarcelles, Paris, menjelang pilpres putaran kedua pekan depan.


JawaPos.com - Para pakar politik dan lembaga-lembaga survei sudah meramalkan bahwa Emmanuel Macron akan lolos ke putaran kedua pemilihan presiden (pilpres) Prancis. Bahkan, mereka sudah bisa memastikan bahwa kandidat 39 tahun itu memenangi pilpres babak lanjutan pada 7 Mei mendatang. Sebab, dia ”hanya” bertarung dengan Marine Le Pen yang menerapkan politik garis keras.



Melenggang ke putaran kedua dengan bayang-bayang kemenangan ternyata tidak membuat Macron besar kepala. Sebaliknya, dia malah ekstra hati-hati. ”Itu kesalahan yang dibuat Hillary Clinton. Saya tidak mau mengulanginya,” kata pendiri Partai En Marche! tersebut Kamis waktu setempat (27/4). Dia memilih tetap berjuang demi memenangkan suara rakyat.



”Sejak awal, saya tidak mengikuti jalur itu. Saya bukan orang seperti itu,” tegasnya. Sebagai kandidat yang berpeluang besar menjadi presiden termuda Prancis, dia menyatakan bahwa dukungan rakyat adalah hal terpenting dalam pilpres putaran kedua nanti. Karena itu, dia terus berusaha menarik simpati rakyat lewat program-program politiknya.



Macron tidak mau keblinger. Dia memilih mengabaikan hasil survei dan jajak pendapat yang hampir seluruhnya meramalkan kemenangannya. Prediksi-prediksi tersebut juga membuat Le Pen bermanuver. Dia meletakkan jabatannya sebagai ketua Partai National Front demi menanggalkan predikat ultranasionalis yang melekat pada dirinya. Dia lantas berusaha menciptakan citra baru sebagai kandidat pemersatu.



Dalam kampanyenya, Le Pen memaparkan wacana French Exit alias Frexit. Begitu terpilih sebagai presiden, politikus perempuan itu akan langsung menjadwalkan referendum Frexit. Dia bakal membawa Prancis keluar dari Uni Eropa (UE), sebagaimana yang dilakukan Inggris lewat British Exit alias Brexit.



Sebaliknya, Macron justru kembali mengobarkan semangat Prancis sebagai bagian dari Eropa. Salah satunya dengan tetap berada di zona UE. ”Eropa adalah konstruksi yang terdiri dari kita semua. Kita telah sepakat menciptakan Eropa. Semua itu kita lakukan demi perdamaian, kemakmuran, dan kemerdekaan,” tuturnya.



Jika di dalam negeri Macron mencuri perhatian karena agenda politiknya, tidak demikian di Tiongkok. Di Negeri Panda tersebut, pencapresan Macron tidak lebih menarik jika dibandingkan dengan kisah asmaranya. Jalinan cinta Macron dengan mantan gurunya hingga berujung pernikahan mendominasi jagat maya di sana. ”Menjadikan guru SMA-nya istri, pria Prancis ini benar-benar romantis,” tulis seorang netizen. (AFP/CNN/hep/c18/any)


Editor: Dwi Shintia
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore