Rabu, 28 Jun 2017
Hankam

Perbedaan Aksi Koboi Brigadir K dengan Aiptu Sunaryanto

Jumat, 21 Apr 2017 21:49 | editor : Ilham Safutra

JawaPos.com - Brigadir K dan Aiptu Sunaryanto, dua personel polisi sedang mendapat sorotan publik, karena aksi koboi mereka di tengah masyakarat beberapa waktu lalu. Hanya saja aksi koboi yang merupakan bagian dari diskresi dari dua bintara polisi ini memiliki dampak yang berbeda, kendati pun niatnya sama.

Brigadir K melakukan diskresi dengan tujuan mengejar pengendara yang diduga pelaku kejahatan. Pasalnya saat kendaraan itu hendak dihentikan lajunya, sang pengemudi tidak mengikuti perintah anggota kepolisian dari Polres Lubuk Linggau, Sumatera Selatan (Sumsel).

Akibatnya terjadi aksi pengejaran terhadap pengemudi tersebut. Pengejaran mobil dilakukan oleh lima orang personel. Hanya saja Brigadir K ketika itu melepaskan tembakan ke arah Honda City Hitam. Akibatnya enam dari delapan penumpang di dalam mobil itu terkena tembakan. Satu orang tewas, karena terkena timah panas di bagian sebelah kanan payudaranya.

Sementara tindakan koboi dari Aiptu Sunaryanto, personel Satlantas Polres Metro Jaktarta Timur untuk melumpuhkan pelaku perampokan yang sedang menyandera penumpang angkutan umum di Buaran, Jakarta Timur. Pelaku perampokan berhasil dilumpuhkan, korban tersandera berhasil diselamatkan.

Kepala Biro Penerangan Masyarakat (Karopenmas) Divisi Humas Polri Brigjen Rikwanto mengatakan, diskresi memang melekat kepada anggota polisi di seluruh dunia termasuk Polri.

"Contoh diskresi yang dilakukan anggota kepolisian Aiptu Sunaryanto kalau tidak salah sewaktu pulang kerja di Jakarta Timur. Dia melihat ada ramai-ramai ternyata di dalam sebuah angkot ada penyanderaan oleh seorang rampok," papar Rikwanto, Jumat (21/4).

Menurut dia, ketika itu Aiptu Sunaryanto dengan semangat sebagai anggota kepolisian dia berusaha untuk bagaimana itu bisa mengantisipasi tindakan penyanderaan itu. "Akhirnya dia mengambil sikap dan pada waktu yang tepat dia melakukan penembakan. Pada titik yang tepat, tidak mematikan tapi bisa membebaskan yang disandera," kata Rikwanto.

Sementara apa yang dilakukan oleh Brigadir K kata dia adalah tindakan yang terlalu cepat dalam mengambil keputusan.  Padahal, kata Rikwanto, kategori melepaskan tembakan sudah ada dalam Perkap Kapolri nomor 1 tahun 2009.

"Apabila membahayakan petugas dan membahayakan masyarakat. Jadi ada unsur ancaman di situ. Itu kategorinya. Jadi bukan terlalu mudah untuk melepaskan tembakan padahal dinilai waktu itu keadaannya belum merupakan ancaman yang serius bagi petugas atau pun bagi masyarakat," tukas dia. (elf/JPG)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia