Kamis, 27 Apr 2017
Humaniora

Menjadi Temus, Cara Mahasiswa Indonesia di Timteng Bertahan

Jumat, 21 Apr 2017 18:17 | editor : Dwi Shintia

Ilustrasi

Ilustrasi (Pixabay)

JawaPos.com - Kuota Tenaga Musiman atau Temus untuk mahasiswa Indonesia di Timur Tengah empat tahun terakhir memang menurut. Kuota mahasiswa Indonesia di Mesir pada tahun 2012 masih sekitar 102 orang.

Pada 2013 menurun menjadi 96 orang, dan sampai tahun kemarin menjadi 68 orang. Hal ini masih dirasa logis karena alasan berkurangnya adalah pengurangan kuota jamaah haji Indonesia.

Sedangkan untuk tahun ini akan berbeda jika kuota mahasiwa timur tengah dikurangi sangat signifikan.’’Kuota temus mahasiswa Timteng 125 menjadi 85 itu bukan pengurangan, tapi pemangkasan, dan itu tidak logis,’’ papar Abdul Ghofur Mahmudin, Presiden PPMI Mesir periode 2015-2016.

Menurutnya, sejauh ini hubungan Temus mahasiswa dengan PPIH terjalin sangat baik dan harmonis. Wakil Presiden PPMI Mesir, Ikhwan Hakim Rangkuti, menegaskan, bahwa selain berkhidmat membantu Jamaah Haji Indonesia dan mengimplementasikan ilmu yang didapat selama belajar di Timur Tengah, momentum Temus juga memberikan manfaat tersendiri bagi Mahasiswa Timur-Tengah.

Pertama, dengan adanya Temus, mahasiswa Indonesia di Timur-Tengah sangat terbantu dalam melanjutkan studinya ke jenjang yang lebih tinggi seperti S2 dan S3, melihat akses beasiswa dari pemerintah Indonesia untuk mahasiswa Timur Tengah sangat minim bahkan bisa dibilang nihil.

Bahkan, kebijakan pemerintah juga memotong akses penerimaan beasiswa LPDP untuk mahasiswa Timur-Tengah. Kedua, keberadaan TEMUS menjadi faktor penggerak roda organisasi mahasiswa Indonesia di TimurTengah.

Karena sudah menjadi kearifan lokal bagi siapapun yang berangkat menjadi petugas Haji dari mahasiswa Timur Tengah untuk membayar iuran kepada organisasi-organisasi terkait seperti PPMI Mesir, atau PPI Timteng lainnya guna menopang pendanaan organisasi tersebut.

”Saya berharap Menteri agama beserta jajaran bisa meninjau kembali keputusan yang telah ditetapkan dan bisa menambah kuota temus dari yang sebelumnya berjumlah 125 (tahun 2016) ke angka yang lebih banyak lagi atau minimal bertahan pada angka 125, karena sangat tidak bijak ketika mengurangi kuota menjadi 85 di saat bertambahnya kuota jamaah haji dari angka 168.800 menjadi 221.000,’’ ujarnya. (ina/tia)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia