Rabu, 28 Jun 2017
Features

Kampung Gendong, Permukiman Terakhir di Tapal Batas Kota Surabaya

Jumat, 21 Apr 2017 16:35 | editor : Miftakhul F.S

TAK TERPINGGIRKAN: Kampung Gendong terletak di Surabaya paling barat berbatasan dengan Gresik.

TAK TERPINGGIRKAN: Kampung Gendong terletak di Surabaya paling barat berbatasan dengan Gresik. (Galih Adi/Jawa Pos)

Kampung Gendong menjadi batas paling barat Kota Pahlawan. Kehidupannya tenang serta guyub. Kendati wilayahnya adoh lor, adoh kidul, kampung tersebut cukup mandiri.

GALIH ADI PRASETYO, Surabaya

SUSURILAH jalanan hingga ke tapal batas Kota Surabaya, melewati jalan hingga menuju Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Benowo. Di sepanjang jalan, hanya ada gudang-gudang yang berpagar tinggi. Di wilayah itu, lalu-lalang dump truck menjadi pemandangan yang biasa. Bau yang dibawa juga menjadi ciri khasnya.

Di sepanjang jalan tersebut, pohon mangrove berjajar rapi. Menutupi kali yang berwarna hijau. Tidak jarang ada yang menjajakan dagangan di pinggir jalan. Kepiting yang diikat dan digantung di sebuah kayu.

Tepat di tepi Kali Lamong, ada permukiman yang ditandai dengan gapura plus jalan berpaving. Dukuh Gendong, begitulah tulisan yang terpampang di sana. Tepat di sebelah gapura, ada papan miring berwarna biru. Kondisinya sudah sedikit lapuk, bertulisan ’’Kawasan Siaga Banjir’’.

Namun, jangan salah sangka. Kampung Gendong justru menjadi wilayah yang belum pernah kebanjiran. Namun, sering kali orang lain salah mengira. Wilayah di sisi selatan dan timur Kampung Gendong banjir. ’’Justru kami warga di sini berharap banjir. Ikannya banyak pas banjir itu,” kata Kaseno, ketua RW 3 Kampung Gendong.

Begitulah kondisi Kampung Gendong. Kampung di ujung barat Kota Surabaya. Kali Lamong menjadi pemisah dua wilayah. ’’Di sebelah barat Kali Lamong itu sudah masuk Gresik,” ujar Seno, sapaannya.

Kampung Gendong bisa disebut sebagai wilayah yang ’’adoh lor, adoh kidul”. Sejauh mata memandang, inilah satu-satunya kampung di sana. Di sekelilingnya, yang terlihat hanya tambak. Namun, kondisi tersebut bukan alasan bagi Kampung Gendong untuk tidak maju. Fasilitas pendukung kampung itu terbilang lengkap. Salah satunya, lapangan futsal. Air bersih tidak pernah berhenti mengucur. Pos bidan, balai RW, hingga balai karang taruna juga ada.

Namun, untuk mencapai fasilitas pendidikan, anak-anak harus menempuh jarak yang cukup jauh. ’’Kalau sekolahnya di Romokalisari sekitar 3 kilometer. Tapi, kalau ke Benowo kurang lebih 5 kilometer,” papar Seno.

Kampung Gendong ada sejak era kemerdekaan. Kampung tersebut awalnya berada 2 km dari kampung yang sekarang. Kini tempat itu sudah berubah menjadi TPA Benowo. Pada era kemerdekaan, terjadi kebakaran. Warga pun bergeser ke tempat sekarang. Sebagian di antara mereka pindah ke Krembangan. Dulu Kampung Gendong hanya diakses dari Pakal. Akses menuju Romokalisari sebatas jalan setapak. Hanya ada dua pilihan jika ingin ke Romokalisari. Naik perahu atau berjalan kaki. Dulu banyak warga atau nelayan yang menggendong hasil laut seperti kupang, ikan, dan garam. ’’Nama Gendong itu ya dari situ. Nama gendong ternyata juga ada di kota lain seperti Jombang dan Lamongan,” cerita pria yang tinggal di Kampung Gendong sejak 1991 tersebut.

Cobalah blusukan ke Kampung Gendong. Kesan tenang dan tenteram amat terasa. Lingkungan kampung terlihat asri. Lebar Kampung Gendong pun kurang lebih 100 meter. Berjalan sampai ke tepi kali, pemandangan perahu dan deretan hijau pohon mangrove akan menyambut. Hijaunya air kali yang mengalir menambah kesan asri.

Kampung Gendong amat memperhatikan tradisi. Saban tahun, kampung tersebut menyelenggarakan sedekah bumi. ’’Kalau ada sedekah bumi, bisa sampai 1.500 orang yang datang,” ujar Seno.

Sedekah bumi di Kampung Gendong memang berbeda dengan kampung lain. Yang membedakan adalah menu makanan yang disajikan, yakni bandeng sapit. Yakni, bandeng yang diberi bumbu. Sedekah bumi biasanya berlangsung sebulan sebelum Hari Raya Idul Adha. ’’Jadi, waktu sedekah bumi, Kampung Gendong seperti kebakaran. Asap semua di sini,” tutur Seno.

Sedekah bumi di kampung itu menjadi acara yang paling dinanti. Sanak famili dari jauh pun pulang. Tak heran, jika ada sedekah bumi, suasana lebih ramai daripada Hari Raya Idul Fitri. ’’Saudara-saudara datang ke sini kalau sedekah bumi sehingga bisa dijadikan silaturahmi,” katanya.

Karang taruna di kampung tersebut juga sangat giat. Ada sinoman yang selalu aktif bergerak. Itu merupakan sekumpulan pemuda yang dipasrahi untuk mengambil iuran rutin warga. ’’Jadi, kalau ada orang sakit, sinoman langsung bergerak untuk meminta bantuan seikhlasnya ke warga,” jelasnya.

Sikap gotong royong pun sangat kuat di sini. Ketika ada orang meninggal, semua warga pasti pulang. Perusahaan tempat mereka bekerja sudah memahami kondisi Kampung Gendong yang hanya terdiri atas 105 KK. ’’Jadi, kalau ada orang meninggal, pemuda di sini langsung menyiapkan. Uang siapa yang dipakai itu urusan belakangan,” ujar Seno.

Kampung yang terdiri atas tiga RT tersebut juga memiliki grup hadrah. Beberapa kali grup tersebut menjadi juara dalam lomba hadrah. Tampil di mana-mana sudah menjadi hal biasa bagi mereka. ’’Kami bikinkan kegiatan untuk anak-anak muda di sini. Yang bermanfaat,” katanya.

Mangrove di kampung tersebut masih sangat terjaga. Tidak ada orang yang menebang, bahkan merusak. Warga Kampung Gendong sadar, menjaga alam menjadi unsur terpenting bagi kehidupan mereka. Terlebih bagi para nelayan. Mereka ketiban rezeki dengan banyaknya jenis ikan tangkapan. Misalnya, bandeng, mujair, dan udang windu.

Mayoritas pekerjaan warga Kampung Gendong adalah buruh pabrik. Berangkat pagi, pulang petang. Begitu kondisinya tiap hari. Namun, tidak semuanya. Di sudut Kampung Gendong. Ada empat orang yang sedang sibuk. Mengaduk drum yang beruap panas. Seseorang sibuk memindahkan dan mencuci kedelai dari satu wadah. Kesibukan siang itu terlihat di rumah Wiyono. Dia adalah pembuat tempe di Kampung Gendong. ’’Kami habis 400 kilogram kedelai per hari,” ujar pria yang sejak 1996 tinggal di Kampung Gendong itu.

Dari aktivitas pembuatan tempe, tidak ada sedikit pun limbah yang terbuang. Kulit kedelai digunakan untuk pakan kambing dan unggas. Sisa air rebusan digunakan untuk jamu sapi. ’’Kalau di sini, nggak ada limbah yang terbuang. Semuanya dimanfaatkan,” jelas Seno.

Kampung Gendong bisa dibilang kampung yang mandiri. Jarak yang cukup jauh dari sana-sini bukan alasan untuk merengek dan malas. Kampung Gendong akan terus eksis dengan segala keunggulannya. Hasil alam dan kultur dijaganya. Terlepas dari statusnya sebagai wilayah pinggiran di ujung barat Kota Surabaya. (*/c7/git)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia