Minggu, 30 Apr 2017
Features

Kisah Muhammad Nuruddin dan Fadriyan Nurisarani Wujudkan Kesetaraan di Rumah

Jumat, 21 Apr 2017 14:15 | editor : Miftakhul F.S

TETAP BANGUN ASA: Muhammad Nuruddin (kiri) dan Bisyam Riswan mengapit Dwi Aliyatul. Sejak Dwi lumpuh dan kehilangan fungsi pendengaran, Nuruddin berperan besar dalam keluarga mungil tersebut.

TETAP BANGUN ASA: Muhammad Nuruddin (kiri) dan Bisyam Riswan mengapit Dwi Aliyatul. Sejak Dwi lumpuh dan kehilangan fungsi pendengaran, Nuruddin berperan besar dalam keluarga mungil tersebut. (Guslan Gumilang/Jawa Pos)

”Tidak ada sesuatu yang lebih menyenangkan selain menimbulkan senyum di wajah orang lain, terutama wajah orang yang kita cintai.” Ungkapan dari RA Kartini itu pas dengan semangat Muhammad Nuruddin dan Fadriyan Teguh Nurisarani. Mereka pria-pria yang mewujudkan kesetaraan dalam kehidupannya.

Septinda Ayu Pramitasari, Gresik

MUHAMMAD Nuruddin asyik memasak di dapur rumahnya, Desa Sidorukun, Manyar, Gresik, Kamis (13/4). Ada beberapa lauk yang harus diolah untuk melengkapi nasi kuning pesanan pelanggan. Sebagai laki-laki, tangan Nuruddin sangat cekatan dalam urusan dapur. Baik meracik bumbu maupun memasak menu-menu lezat.

Satu per satu menu yang telah matang ditempatkan dalam wadah yang cukup besar. Satu aksi lagi, tumis kering tempe. Seolah tidak peduli ada tamu, pria 28 tahun itu menuntaskan pekerjaannya. ”Akhirnya, selesai semua masakannya,” seru Nuruddin di balik dapur mungil. Dwi Aliyatul, istri Nuruddin, yang berada di samping dapur hanya menanggapi dengan senyum.

Dwi yang sejak tadi duduk selonjoran di karpet mulai menyiapkan wadah-wadah kecil untuk bento nasi kuning. Kini giliran istrinya berkreasi. Nasi kuning berteman telur puyuh, tumis tempe, ayam kecap, dan sosis. ”Kebetulan dapat pesanan nasi kuning bento untuk acara bazar teman sendiri. Jadi, nanti saya antar langsung,” ucapnya.

Ya, setiap hari Nuruddin mengambil alih tugas sang istri dalam rumah tangga. Mulai memasak, mencuci, menyapu, mengepel, berbelanja, hingga urusan rumah tangga lain. Sebab, istrinya sama sekali tidak bisa berjalan. Pendengarannya pun lemah.

Setiap berinteraksi dengan istrinya, Nuruddin harus bertatap muka langsung. Dia lebih banyak menggunakan gerakan mulut untuk berkomunikasi. Jika ada orang yang sedang mengobrol di dekatnya, Dwi hanya mendengar suara dengungan kencang. Karena itu, Dwi cenderung lebih banyak diam. ”Sudah lima tahun ini, istri saya tidak bisa mendengar. Tetapi, bisa berbicara lancar,” ungkapnya.

Dwi juga lumpuh di bagian dada hingga ujung kaki. Karena itu, Dwi lebih banyak duduk selonjoran di atas ubin. Perempuan yang sebelumnya sehat-sehat saja tersebut sering duduk bersimpuh hingga kedua telapak kakinya bengkok. ”Biasanya, malam saya pijat telapak kakinya yang kaku sampai bisa lemas kembali,” ujarnya sambil terus memandangi Dwi meracik bento.

Ya, lima tahun sudah Nuruddin menjalani hari-hari sebagai ayah, ibu, sekaligus suami di dalam keluarga kecilnya. Namun, Nuruddin membuktikan bahwa ketulusan dan rasa syukur dapat membuat hidup semakin nikmat. ”Tidak pernah terlintas di pikiran saya untuk meninggalkan istri saya dalam kondisi seperti ini,” katanya.

Benar adanya, cinta pertama tak bisa dilupakan. Begitu juga Nuruddin dan Dwi. Saling mengenal sejak TK, jatuh cinta saat SMA, kemudian menikah pada 12 Maret 2011. Sebagai pasangan muda, Nuruddin dan Dwi tentu sangat bahagia. Apalagi, istrinya langsung hamil dalam satu bulan pernikahan. ”Kabar istri saya hamil adalah hadiah terbesar bagi kami. Termasuk kedua keluarga besar kami,” ujarnya.

Pada usia dua bulan pernikahan, istrinya sakit. Dokter mendiagnosis ada benjolan pada dinding rahim. Operasi pengangkatan benjolan dilakukan. Selanjutnya, dokter menyarankan Dwi diimunisasi.

Nuruddin berterus terang kepada dokter bahwa sang istri sedang hamil. Imunisasi ditunda. Sebab, jika tetap dilakukan, risikonya bayi cacat. Solusinya, dua pilihan. Janin digugurkan kemudian dilakukan imunisasi atau menjalani persalinan secara operasi Caesar. ”Kami pilih menyelamatkan bayi dengan persalinan Caesar. Selama 8 bulan 2 minggu saya rajin mengantar istri kontrol ke dokter,” katanya.

Menjelang persalinan, dokter menyatakan, ada bakteri yang kembali tumbuh di dinding rahim. ”Secara kasat mata, memang tidak terlihat bakterinya. Ya, saya ikuti saja kata dokter,” ungkapnya.

Tepat 30 Desember 2011, Dwi menjalani operasi Caesar. Saat itu, dia mendapat giliran pertama. Sekitar pukul 06.00, perempuan 28 tahun itu masuk ruang operasi. Proses persalinan sekitar dua jam. Bayi mungil laki-laki yang diberi nama Bisyam Riswan lahir dalam kondisi sehat. Rasa bahagia Nuruddin tidak terbendung lagi.

Menit berganti jam, waktu sudah menunjukkan pukul 15.30. Nuruddin panik karena istrinya tak kunjung keluar dari kamar operasi. ”Saya merasa ada yang aneh. Pasien lain sudah keluar. Istri saya sudah berjam-jam masih di dalam ruang operasi,” ujarnya.

Ketidakpastian membuat Nuruddin semakin cemas. Akhirnya, perawat menghampiri Nuruddin dan memintanya masuk ke ruang operasi. ”Saya mengikuti langkah perawat masuk ke ruangan yang sangat dingin,” ceritanya.

Tiba di dalam ruang operasi, mata Nuruddin langsung tertuju pada perempuan yang tergolek lemah di atas meja operasi. Nuruddin pucat pasi, tangannya gemetar melihat Dwi. Wajah dan kepala Dwi membengkak. Istrinya belum sadarkan diri. ”Kepalanya bengkak sekali. Saya tidak tega melihat istri saya,” ujarnya.

Saat itu, dokter hanya menjelaskan bahwa istrinya belum sadarkan diri. Hal itu berkaitan dengan efek obat bius total yang diberikan kepada istrinya saat operasi. Mendengar hal itu, Nuruddin kaget. Sebab, tidak ada konfirmasi sebelumnya bahwa istrinya akan dibius total. ”Awalnya, saya minta istri dibius lokal saja,” ungkapnya.

Dwi akhirnya dilarikan ke ruang high care unit (HCU) untuk mendapatkan perawatan intensif. Empat hari berada di ruang HCU, kondisi sang istri tidak kunjung sembuh. Hingga akhirnya, dokter menyatakan bahwa istrinya mengalami guillain-barre syndrom (GBS). Yakni, gangguan pada imunitas yang seharusnya melindungi tubuh kini justru menyerang tubuh. Hal itu mengakibatkan pendengaran lemah dan bagian dada hingga ujung kaki lumpuh. ”Tubuhnya mati rasa, tidak bisa bergerak sama sekali. Saat saya ajak bicara, istri saya bingung karena tidak dengar,” katanya.

Selama 15 hari Dwi dirawat di ruang HCU. Lantaran tidak menunjukkan perkembangan, Dwi dipindahkan ke ruang perawatan untuk diterapi. Total 45 hari Dwi dirawat inap di rumah sakit. Akhirnya, Nuruddin memilih rawat jalan untuk istrinya. ”Setiap dua hari sekali, istri saya dijemput rumah sakit untuk terapi. Itu berlangsung dua tahun,” ujarnya.

Menyerah tak ada di kamus Nuruddin. Pria yang saat itu bekerja di pabrik berusaha membawa istrinya berobat ke berbagai rumah sakit di Surabaya. Mulai fisioterapi hingga pemeriksaan magnetic resonance imaging (MRI). Hasil MRI menunjukkan bahwa ada penyempitan tulang belakang karena overdosis anestesi dan suplai oksigen kurang. ”Selama dua tahun saya mengobati istri dari rumah sakit satu ke rumah sakit lain,” ceritanya.

Pikiran, tenaga, dan uang terkuras habis. Meski demikian, dia memiliki harapan besar agar istrinya bisa sembuh total. Dia ingin merasakan kebahagiaan yang sempurna bersama istri dan anaknya. ”Saya dan istri selalu saling support. Saya tidak ingin istri saya melihat saya sedih. Sebisanya saya tegar agar istri saya tidak merasa beban,” katanya.

Demi total berperan ganda di rumah tangga, Nuruddin memilih keluar dari pekerjaannya. Padahal, gaji yang didapat terbilang cukup besar karena sudah sepuluh tahun bekerja. ”Sebenarnya, bos saya selalu memberikan keleluasaan untuk izin pulang mengurus istri. Tetapi, saya harus di rumah agar bisa mengurus istri saya,” ungkapnya.

Ya, Dwi tidak hanya lumpuh, tetapi sebagian organ tubuhnya tidak berfungsi maksimal. Untuk buang air besar (BAB), istri Nuruddin harus dibantu dengan obat yang harganya Rp 100 ribu sekali pakai. Untuk buang air kecil, dia menggunakan bantuan slang. ”Jadi, setiap hari istri saya harus memakai popok,” katanya.

Nuruddin ingat sekali saat dirinya harus mengurus istri sekaligus Bisyam yang masih bayi. Ibaratnya, mengurus dua bayi. Saat itu, istri dan anaknya masih sama-sama menggunakan popok. Untuk menghemat pengeluaran, Nuruddin menyiasati dengan membunyikan alarm tiga jam sekali sebagai jadwal pipis sang anak. ”Saya biasakan anak saya pipis tiga jam sekali. Paling tidak, anak tidak perlu pakai popok. Jadi, cukup istri saya,” kenang Nuruddin.

Jadwal itu berlanjut hingga kini. Setiap bangun pagi, dia memulai dengan mengurus anaknya terlebih dahulu. Memandikan, membuat sarapan, hingga mengantar ke sekolah. Kemudian, dia beralih mengurus Dwi. Mulai memandikan, membantu BAB, dan mendandani Dwi. ”Bagian dada ke bawah mati rasa, dia sama sekali tidak bisa melakukannya (BAB) sendiri,” ujarnya.

Setelah selesai urusan anak dan istri, Nuruddin baru memulai aktivitas sebagai ”ibu rumah tangga”. Mulai berbelanja ke pasar, membeli berbagai kebutuhan katering, hingga memasak. Istrinya membantu dalam manajemen pemasaran dengan menggunakan media sosial dan mengepak nasi-nasi pesanan dengan kreasi menarik. ”Sebenarnya, yang memulai bisnis katering ini istri saya. Saat sudah lumpuh, istri saya tidak ingin diam dan pasrah dengan keadaan,” ungkapnya.

Nuruddin mengatakan, istrinya yang tadinya bekerja sebagai penjahit akhirnya mencoba berbagai menu kreasi bento. Kemudian, dia memasarkan melalui sosial media. Ternyata, respons masyarakat di Gresik cukup bagus. Pesanan demi pesanan terus berdatangan.

Nuruddin mengaku sempat drop saat mendapat cobaan istrinya lumpuh setelah melahirkan. Masa depan terasa suram. ”Kami diajari bersyukur. Dalam kondisi seperti ini, kami bisa menjalaninya dengan senang dan penuh syukur. Lebih terasa nikmatnya hidup,” ujarnya.

Meski hampir seluruh tanggung jawab istri telah diambil alih, Nuruddin tidak serta-merta menghilangkan peran seorang ibu dalam mendidik anak. Setelah pulang sekolah, Dwi mengajari Bisyam mengaji dan doa-doa sehari-hari. Kemudian, dilanjutkan belajar TPA di masjid dekat rumah. ”Saya tidak ingin mengambil peran ibu 100 persen. Istri saya tetap bisa mengajari anak dalam hal pendidikan karakter,” ungkapnya.

Saat ini, Nuruddin begitu menikmati peran sebagai ayah, suami, sekaligus ibu di dalam keluarganya. ”Bagi saya, cinta itu mengalah dan memberi. Bukan banyak menuntut,” katanya.

Untuk menjaga kebahagiaan, Nuruddin menjadwalkan jalan-jalan sebulan sekali. Sekadar ke pendapa atau membeli makan di bengawan. Tentu, Dwi harus dibopongnya. ”Mungkin, bagi orang lain, jalan-jalan di pendapa itu biasa. Tetapi, bagi kami, itu sesuatu yang romantis sekali,” ucapnya, lantas tertawa.

Dwi yang sejak tadi sibuk menghias bento menatap Nuruddin penuh tanda tanya. Dia tersenyum malu ketika Nuruddin melontarkan, ”Aku sayang kamu,” dengan gerakan bibir tanpa suara. (*/c6/nda)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia