
Ilustrasi
JawaPos.com - Operasi tangkap tangan di eks Lokalisasi Pembatuan pada Selasa (18/4) diduga sudah bocor. Pasalnya, personel Satpol PP yang menyamar berpakaian preman, diketahui dengan mudah oleh Pekerja Seks Komersial (PSK) sebagai aparat yang sedang menyamar.
"Di depan saya ada empat PSK. Saya coba bikin transaksi. Tapi malah ditodong sebagai anggota Satpol PP," kata Penyidik PNS Satpol PP Banjarbaru, Aries.
Mengintai sejak jam 12 siang, anggota bergerak pada jam dua siang. Aries menyadari kebocoran informasi begitu melihat suasana Pembatuan yang mendadak sepi. "Padahal dari pengintaian beberapa hari sebelumnya, saya yakin bisa mengangkut sedikitnya 10 sampai 20 PSK," ujarnya dikutip dari prokal (Jawa Pos Group), Jumat (21/4).
Anggota lain yang sedang menyamar, juga terkaget-kaget lantaran seorang pemilik warung kelontongan, dengan santainya mengaku sudah mengetahui bakal ada razia. Entah dari mana informasi itu ia peroleh.
Setidaknya, Satpol PP tidak pulang dengan tangan kosong. Ada satu PSK, satu pelanggan, dan satu lagi yang diduga sebagai mucikari berhasil diangkut ke Mako.
PSK itu berinisial JM, 43 tahun, dan induk semangnya adalah LS, 58 tahun. Sedangkan pria hidung belang itu berinisial HN, 53 tahun, warga Jalan Kelayan A Banjarmasin. Mereka terjaring dari sebuah warung makan milik LS saat transaksi seks itu berlangsung.
LS mengaku membangun warung makan itu dari uang pesangon yang diberikan pemerintah saat penutupan Pembatuan. "Iya, modalnya dari pesangon itu," ujarnya.
Sementara JM, mengaku sudah setahun terakhir bekerja untuk LS. Setiap hari ia bolak-balik dari Banjarmasin ke Banjarbaru. "Anak saya masih sekolah di Banjarmasin, tepatnya di Tatah Bangkal," kisahnya. JM juga mengaku masih bersuami. Ditanya apakah suaminya tahu tentang pekerjaannya, ia hanya tertawa pahit.
Ketiganya dipastikan dikenai tindak pidana ringan (tipiring) dan dibawa ke persidangan. Ikut diamankan barang bukti berupa selembar kasur, 26 bungkus kondom, plus handbody yang diduga digunakan sebagai pelumas.
Kepala Satpol PP Banjarbaru, Marhain Rahman mengaku tak bisa berkomentar banyak soal dugaan kebocoran informasi razia. "Kebocoran informasi ini bisa dirasakan, tapi sulit untuk dibuktikan," ujarnya.
Menurutnya, ini menjadi pelajaran penting, bahwa ke depan mereka harus ekstra hati-hati. "Razia berikutnya harus lebih (super) senyap," tegasnya. Marhain menggelar operasi ini lantaran setelah ditutup, praktek prostitusi itu malah kembali marak. (fud/al/ram/fab/JPG)

14 Kuliner Malam Bandung yang Paling Enak dan Selalu Ramai hingga Larut Malam dengan Suasana Seru dan Rasa Lezat
Bocoran Soal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026
Jika Persija Jakarta Gagal Juara, The Jakmania Punya Kesempatan Melihat Bobotoh Menangis
Tak Peduli Larangan ke Jepara, The Jakmania Sebut Kebiasaan atau Takut Main di Jakarta saat Persija Jamu Persib
18 Rekomendasi Kuliner di Tangerang untuk Keluarga, Tempat Makan Favorit dari Tradisional sampai Modern
Persebaya Surabaya Rayakan Kembalinya Bruno Moreira, Bonek Kompak Satu Suara
Pesan Haru Milos Raickovic ke Bonek! Gelandang Persebaya Surabaya Sudah Berikan Segalanya Musim Ini
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
Korban Dicekoki Miras Hingga Tak Sadar, Pelaku Pemerkosaan Cipondoh Masih Dicari
Link Live Streaming Semifinal Uber Cup 2026 Indonesia vs Korea Selatan dan Line-up Pertandingan
