Selasa, 30 May 2017
PEMENANG READERS CHOICE
Pendidikan

Baca Nih, Alasan Kenapa Budaya Menulis Hoax Tumbuh Subur di Indonesia

Kamis, 20 Apr 2017 19:53 | editor : Dhimas Ginanjar

TAK MAU BERITA BOHONG: Ade Triwijaya dan Maria Josephine berfoto dengan properti banner anti-hoax di Taman Bungkul kemarin pagi (8/1). Mereka ikut mendukung budaya literasi bersosial media dengan cara tidak menyebarkan berita-berita bohong.

TAK MAU BERITA BOHONG: Ade Triwijaya dan Maria Josephine berfoto dengan properti banner anti-hoax di Taman Bungkul kemarin pagi (8/1). Mereka ikut mendukung budaya literasi bersosial media dengan cara tidak menyebarkan berita-berita bohong. (Arya Dhitya/Jawa Pos)

JawaPos.com – Budaya menulis masyarakat di tanah air masih rendah. Hal itu terbukti dari jumlah jurnal internasional para akademisi di luar negeri yang masih tertinggal dari negara lain. Di Asia saja, Indonesia kalah dengan Malaysia dan Singapura. Para peneliti dan akademisi didorong untuk menggenjot jurnal internasional dan tidak hanya sekadar mengajar.

“Jurnal internasional kita hanya 5.499 sementara ini di tingkat Asean. Sementara Malaysia sudah 25.350, Singapura 17.200, dan Thailand 12 ribuan. Kenapa Malaysia lebih banyak, padahal Indonesia dosennya lebih banyak daripada Malaysia,” kata Direktur Jenderal Sumber Daya Iptek dan Dikti Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi, Ali Ghufron Mukti dalam acara Seminar dan Lokakarya Kesehatan di Kampus Universitas Indonesia (UI) Depok, Kamis (20/4).

Oleh sebab itu, pihaknya mengeluarkan Peraturan Menteri (Permenristek Dikti) Nomor 20 agar publikasi internasional lebih banyak. Ghufron menuturkan pengalamannya saat dikunjungi oleh peneliti dari London yang mengritik Indonesia sebagai negari misteri yang belum terungkap karena karya jurnal internasionalnya tak banyak terdengar.

“Peneliti dari London datang dia heran kenapa Indonesia banyak hal yang diteliti bisa ditulis tapi tak diteliti. Lalu dia (peneliti) itu menulis di jurnal bahwa Indonesia menjadi sebuah negara atau bangsa dengan misteri yang belum terungkap. Jangan-jangan lebih banyak menulis di media sosial hoax daripada budaya menulisnya,” kata Ghufron tertawa.

Ghufron mendorong seluruh akademisi untuk lebih meningkatkan jumlah jurnal internasional. Banyak potensi yang bisa dieksplorasi.

“Tapi bukan soal kita ingin menang-menangan karena ini potensi besar, dan banyak dosen-dosen kita masih agak tidur, belum bangun betulan. Para dosen Lebih banyak mengajar, kita dorong agar para profesor lebih banyak meneliti,” tegas Ghufron. (cr1/JPG)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia