Selasa, 30 May 2017
PEMENANG READERS CHOICE
Pendidikan
SANG PROFESOR

Wateno Oetomo Ingatkan Insinyur Jalan Tetap Profesional

Kamis, 20 Apr 2017 19:10 | editor : Suryo Eko Prasetyo

TAK BERIMBANG: Prof Wateno Oetomo memberikan perhatian besar pada perbandingan pertambahan jumlah kendaraan dan kondisi jalan.

TAK BERIMBANG: Prof Wateno Oetomo memberikan perhatian besar pada perbandingan pertambahan jumlah kendaraan dan kondisi jalan. (Galih Cokro/Jawa Pos/JawaPos.com)

Pada usianya yang tidak lagi muda, Prof Dr Dr (TS) Ir H Wateno Oetomo MM MT tetap cermat mengamati perkembangan pembangunan saat ini. Pakar manajemen konstruksi dan proyek dari itu juga kerap membagikan ilmunya.

’’PEMBANGUNAN harus dibicarakan semua pihak dan harus berhasil menyelesaikan masalah bersama,’’ terang Prof Wateno saat ditemui Jawa Pos di gedung pascasarjana pada Rabu pekan lalu (12/4). Jika tidak ada koordinasi menyeluruh, hasil pembangunan hanya akan menimbulkan gap antara harapan dan kenyataan.

Ketimpangan tersebut terjadi dalam pembangunan jalan. Pria kelahiran 12 Juli 1947 itu menuturkan, meski sudah dihitung dengan mekanisme teknik, pembangunan jalan di Indonesia sering tidak mempunyai umur panjang. Jalan lebih cepat tua bila dibandingkan dengan perencanaan pembangunannya.

Tentang Prof Dr Dr(TS) Ir H Wateno Oetomo MM MT

Tentang Prof Dr Dr(TS) Ir H Wateno Oetomo MM MT (Grafis: Herlambang/Jawa Pos/JawaPos.com)

Kondisi jalan yang gampang rusak tersebut sebenarnya karena beberapa hal. Di antaranya, salah perencanaan, pengawasan kerja yang kurang ketat, hingga beban lalu lintas yang berlebihan. Untuk yang terakhir, Wateno mengakui bahwa kondisi itu umumnya terjadi di Indonesia.

Jumlah aktivitas jalan di Indonesia belum banyak dikaji secara ketat. Akibatnya, prediksi dan perencanaan sulit menuai hasil yang sesuai. ’’Di negara maju, pertumbuhan kendaraan dibatasi 6–10 persen. Nah, di negara berkembang, belum ada patokannya. Termasuk di Indonesia,’’ tegas suami Emy Anik Handayani tersebut.

Aktivitas transportasi dan beban angkut yang terlalu besar membuat jalan tidak kuasa mempertahankan kemulusannya. Jalan sering berlubang, bergelombang, dan rusak parah. Wateno pernah meneliti, jumlah kerusakan jalan di Jatim mencapai 14 persen.

Bukan hanya itu, kondisi jalan di Indonesia saat ini belum bisa beriringan dengan jumlah kendaraan. Jumlah kendaraan tumbuh lebih cepat ketimbang ruang dan panjang jalan. ’’Akhirnya, kemacetan tak terhindarkan,’’ ungkap laki-laki yang dikukuhkan sebagai guru besar pada 2008 tersebut.

Nah, untuk mengatasi masalah itu, beberapa kota besar sebenarnya telah mengupayakan beberapa cara. Salah satu upayanya adalah membangun jalan penyangga (frontage road). Di Surabaya, solusi tersebut sudah diterapkan. Namun, jika tidak didukung koordinasi antar pemerintah daerah, solusi itu tidak dapat berjalan lama.

Saat ini frontage road memang masih menjadi solusi. Tetapi, beberapa tahun lagi mungkin frontage road sudah tidak bisa diandalkan. Buktinya bisa dilihat ketika orang ingin melintas dari arah Surabaya menuju Sidoarjo. Kepadatan kendaraan bakal tampak saat memasuki wilayah perbatasan.

Untuk mengatasi problem pembangunan tersebut, dibutuhkan manajemen konstruksi yang andal. Dalam disertasinya yang berjudul Model dan Strategi Manajemen Multidimensi Berjenjang Pelaksanaan Proyek Jalan, Wateno menyebut salah satu solusinya adalah sistem atas bawah. ’’Perencanaan harus lancar dan kompak sehingga proyek bisa berjalan sesuai dengan rencana,’’ jelasnya.

Selain itu, diperlukan koordinasi antara konsultan, kontraktor, dan pengawas proyek dalam setiap rencana pembangunan. Tiga elemen itu harus bahu-membahu menyelesaikan proyek secara profesional. Pengawasan dan sistem kerja terukur gamblang.

Wateno menyatakan, bila kondisi tersebut bisa dijalankan secara saksama, tiga komponen manajemen konstruksi seperti quality, cost, dan time akan terwujud. Quality harus menjadi poin utama yang harus diselesaikan. Cost dan time dipikirkan setelahnya. ’’Dua komponen ini untuk membuktikan pembangunan efisien dan efektif,’’ terangnya. (elo/c14/nda/sep/JPG)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia