Kamis, 27 Apr 2017
Pendidikan

Operasional 12 RS Pendidikan Masih Terkendala Biaya

Kamis, 20 Apr 2017 18:42 | editor : Ilham Safutra

RS Pendidikan Universitas Indonesia.

RS Pendidikan Universitas Indonesia. (Dewi Maryani/Indopos/JawaPos.com)

JawaPos.com - 24 rumah sakit (RS) pendidikan yang dikembangkan Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi(Kemenristekdikti) bersama Kementerian Kesehatan (Kemenkes) tidak beroperasi optimal. Hanya 12 RS yang bisa beroperasi secara normal. Sisanya mandek karena terkendala biaya.

Dirjen Sumber Daya Iptek dan Dikti Kemenristekdikti Ali Ghufron Mukti menuturkan, hampir seluruh RS pendidikan yang didirikan bermasalah. Semua itu menjadi tantangan dari Perguruan Tinggi Negeri (PTN).

"Setahun lalu hanya ada 3 yang operasional. Setahun ini sudah 12 RS Pendidikan yang sudah operasional," ujar Ghufron di sela-sela Seminar dan Lokakarya Kesehatan di Kampus Universitas Indonesia (UI), Depok, Kamis (20/4).

Ghufron menargetkan 12 RS Pendidikan masih mandek bisa kembali beroperasi. Sedangkan RS Pendidikan yang sudah beroperasi yakni di Universitas Gajah Mada (UGM), Universitas Airlangga, Universitas Hassanudin, UNS, USU, Riau, Sam Ratulangi, dan Nusa Tenggara Barat, dan lainnya.

Dikatakan mantan Wakil Menteri Kesehatan itu, RS Pendidikan itu lahir di tengah tantangan layanan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) melalui Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS).

Selain bagian untuk pelayanan masyarakat, RS Pendidikan juga sangat strategis untuk penelitian dan pengobatan. "Kami buat terobosan dengan mengakui para dokter yang bekerja di RS Pendidikan bisa diberikan nomor induk dosen khusus. Bedanya, hampir semua haknya sama, tapi yang tanggung jawab pembiayaannya berbeda. Haknya untuk promosi sampai profesor diberikan," paparnya. (cr1/JPG)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia