Sabtu, 27 May 2017
PEMENANG READERS CHOICE
Features

Mengintip Kamar Hotel Favorit Pangeran Arab dan Orang-Orang Tajir di Makkah (1)

Kamis, 20 Apr 2017 11:38 | editor : Miftakhul F.S

ELEGAN: Seorang room boy membenahi tempat tidur di kamar VVIP Makkah Clock Royal Tower, A Fairmont Hotel. Tak banyak hiasan di kamar.

ELEGAN: Seorang room boy membenahi tempat tidur di kamar VVIP Makkah Clock Royal Tower, A Fairmont Hotel. Tak banyak hiasan di kamar. (Amri Husniati/Jawa Pos)

Berbagai kemudahan dan kenyamanan terus ditawarkan Makkah untuk menjadi tamu Allah. Salah satunya tinggal di hotel mewah yang hanya berjarak 100 meter dari Masjidilharam. Berikut laporan wartawan Jawa Pos AMRI HUSNIATI yang sempat mengintip kamar bertarif sekitar Rp 40 juta per malam itu.

Sentuhan arsitektur klasik nan elegan sangat terasa begitu menatap sekeliling ruangan dan menginjakkan kaki di Royal 4 (R4), salah satu lantai di Makkah Clock Royal Tower, A Fairmont Hotel. Wangi lembut menguar sejak keluar dari lift khusus.

Akses ke lantai itu memang lain daripada akses ke lantai yang lain di hotel tersebut. Penjagaannya berlapis. Tamu harus melewati pintu X-ray. Lift spesial yang kecepatannya lebih dari 1.000 meter per menit itu hanya berhenti di lantai-lantai tertentu. Tidak berhenti di setiap lantai.

Lobi di R4 juga berbeda jika dibandingkan dengan lobi hotel reguler di kompleks Abraj Al-Bait. Yang jelas, sangat berkelas. Dari lobi itu, tamu hanya memerlukan waktu 2 menit berjalan kaki menuju Masjidilharam.

Berlantai marmer pilihan dilapisi karpet tebal yang didesain spesial, ruangan pertama yang saya sambangi bersama sejumlah wartawan dari Indonesia itu bernama Royal Majlis. Seperti namanya, ruangan tersebut memang menjadi tempat pertemuan sekaligus perjamuan untuk keluarga, kerabat, maupun dengan relasi.

Desainnya terasa hangat dan elegan. Dan, tentu saja berstandar tinggi. Cat dinding ruangan berwarna krem dengan aksen cokelat kopi susu. Dengan karpet yang didominasi krem bermotif merah, lampu gantung kristal paling besar berada di tengah dan beberapa yang kecil mengitari di sekeliling plafon. Bagian tengah ruangan dibiarkan kosong.

Ruangan itu dilengkapi sebuah televisi berlayar jumbo. Ada beberapa sofa cokelat tua single dan dobel di sekeliling ruangan, dengan meja sudut hitam plus lampu duduk. Tak banyak hiasan di dindingnya.

Tak perlu khawatir dinding itu akan ’’bicara’’. Bukan saja karena dibuat kedap suara, tapi orang-orang pilihan yang melayani tamu di lantai royal tersebut juga menjadi ’’dinding’’ yang antisadap. Jangan coba-coba tanya siapa saja yang pernah menginap di dalamnya. Mereka menjaga privasi para tamu yang pernah menginap di kamar-kamar di lantai tersebut. Karena itu, area check-in dan check-out tamu pun terpisah.

’’Kami mendidik staf untuk menjaga kerahasiaan tamu,’’ tegas Hossam Morsi, senior head butler Makkah Clock Royal Tower, A Fairmont Hotel, Selasa (18/4).

Hossam mengatakan, khusus lantai berawalan ’’R’’ (kependekan dari royal) –yang seluruhnya ada lima lantai di hotel itu– memang menjadi favorit keluarga Kerajaan Saudi. Juga, orang-orang tajir di negara-negara Teluk dan tamu-tamu istimewa dari berbagai belahan dunia.

Tak semua yang menginap datang membawa keluarga. Banyak juga yang datang sendiri dan tidak mau dikenali sebagai figur publik. Karena itu, mereka tidak menggunakan pengawalan khusus.

’’Mereka datang hanya pakai baju ihram dan menyebut dirinya sebagai hamba Allah. Mereka menanggalkan semua gelar dan kekayaannya,’’ lanjut Hossam.

Dia mencontohkan, tanpa menyebut spesifik jati diri, orang tajir yang sedang menginap di salah satu hotel grup mereka. ’’Tamu dari negara Teluk tersebut datang sendirian,’’ ujar pria yang sudah malang melintang di dunia perhotelan kelas VVIP itu.

Para tamu di lantai royal tidak perlu khawatir bakal repot meski tidak membawa ajudan maupun pengawal pribadi. Sebab, pihak hotel akan memberikan semua pelayanan yang dibutuhkan kepada tamu spesialnya. Baik untuk keamanan maupun kenyamanan selama menginap.

Di setiap kamar disediakan butler alias staf hotel khusus yang akan melayani tamu sepanjang hari. Apa pun yang diinginkan, kapan saja, dan di mana saja, akan diusahakan maksimal oleh ’’pendamping khusus’’ tamu itu. Butler tersebut stand by 24 jam. ’’We will never say no!’’ tandasnya.

’’Layanan seperti ini menjadi salah satu andalan kami,’’ ujar Hossam yang telah berkeliling dunia dan mendalami seluk-beluk butler itu.

Fasilitas penunjang di lantai eksklusif tersebut memang ’’wow’’. Betapa tidak, di Fairmont Gold Executive Suite, Ka’aba View, misalnya, ada dua kamar tidur dengan bed master king dan matras yang sangat soft and comfort, plus kamar yang bisa dipakai asisten. Benar-benar lapang. Padahal, properti di Makkah dikenal memiliki harga selangit. Tak heran jika sewa kamar suite itu pun supermahal.

Sayang, Hossam enggan memaparkan tarif per malam di kamar supermewah itu. ’’Tugas saya hanya memperkenalkan ruangan serta layanan yang diberikan,’’ ujarnya. Namun, menurut sumber di hotel tersebut, tarif paling murah di kamar itu untuk semalam 11 ribu riyal (sekitar Rp 40 juta, kurs 1 riyal = Rp 3.500).

Di building hotel 78 lantai tersebut, untuk mencicipi lantai superistimewa, memang hanya satu kuncinya: fulus alias duit. Meski dibanderol selangit, kamar itu termasuk tak pernah sepi tamu. Apalagi di bulan Ramadan. Fully booked jauh-jauh hari. Apalagi, para tamu itu mendapat layanan restoran yang juga privat. Apa pun jenis makanan yang mereka inginkan, pihak hotel siap melayani. Sang tamu tak perlu beranjak keluar dari ruangan.

Lantaran tamu yang datang utamanya ingin beribadah (umrah atau haji), di ruangan itu disediakan musala pribadi yang view-nya langsung menghadap Kakbah. Begitu tirai dibuka, terlihatlah kiblat umat Islam sedunia itu. Dan, karena menghadap Baitullah serta suara imam Masjidilharam jelas terdengar saat salat lima waktu, mereka yang menginap di hotel itu bisa salat di musala privat saja.

’’Hingga radius sekitar 15 km dari Kakbah masih termasuk Haram. Jadi, boleh ikut jamaah Masjidilharam tanpa harus datang langsung di dalamnya,’’ jelas Ziad Al Hdaithat, group assistant communication manager.

Sadar bahwa ibadah umrah maupun haji menguras energi tamu Allah, pihak hotel menyiapkan ruangan khusus untuk relaksasi. ’’Ini ruangan khusus pijat. Benar-benar privasi,’’ tutur Hossam.

Di ruangan pijat itu ada tempat tidur dengan bantalan mirip guling kecil yang dipakai untuk alas kepala. Nah, bagi tamu perempuan yang ingin merasakan spa maupun jacuzzi, juga gym, disediakan di lantai lain yang masih dalam lingkup layanan eksklusif. (*/ari)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia