Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 18 April 2017 | 14.59 WIB

Fenomena Brexit dan Donald Trump Bisa Terjadi di Pilkada Jakarta?

Dari kiri: Basuki Tjahaja Purnama, Djarot Saiful Hidayat, Sandiaga Uno, Anies Baswedan, dan Ira Koesno usai debat Pilkada DKI Jakarta putaran kedua beberapa waktu lalu - Image

Dari kiri: Basuki Tjahaja Purnama, Djarot Saiful Hidayat, Sandiaga Uno, Anies Baswedan, dan Ira Koesno usai debat Pilkada DKI Jakarta putaran kedua beberapa waktu lalu

JawaPos.com – Besok, Rabu (19/4) menjadi hari yang penting bagi warga DKI Jakarta. Pemungutan suara untuk pilkada putara kedua akan berlangsung dengan pasangan calon Basuki Tjahaja Purnama-Djarot Saiful Hidayat, dan Anies Baswedan-Sandiaga Uno. Hasil survei yang dilakukan berbagai lembaga menunjukkan paslon nomor urut tiga yaitu Anies-Sandi mengungguli petahana.



Apakah itu mencerminkan hasil akhir? Jika terlena dengan hasil survei, bisa saja mimpi buruk terjadi bagi Anies-Sandi. Setidaknya, ada dua contoh internasional soal hasil survei yang tidak sejalan dengan hasil akhir. Yakni, referendum Britain Exit (Brexit) dan kemenangan Donald Trump di pemilu Amerika Serikat (AS).



Brexit misalnya. Sejak awal tahun, warga Inggris yang memilih tetap di uni eropa selalu mendominasi survei. Reuters melansir sebelum pemungutan suara diambil pada pertengahan 2016, melaporkan sebanyak 52 persen warga tetap ingin gabung uni eropa. Namun, hasil akhir referendum, Jumat (24/6) menunjukkan kelompok Brexit meraih 51,9 persen suara.



Saat itu, mata dunia terbelalak karena tidak menyangka hasil referendum berbanding terbalik dengan poling. Fenomena lain baru saja terjadi di negera adidaya Amerika Serikat. Sebelum pemilihan presiden digelar, berbagai poling selalu mengunggulkan Hillary Clinton dibanding Donald Trump.



Pria kaya raya itu menjadi presiden setelah suara elektoralnya mencapai 304. Unggul jauh dari pesaingnya, Hillary Clinton yang saat itu mendapat 227 suara elektoral. Padahal, selama poling dilakukan, tidak ada ceritanya Trump menungguli Hillary. Seperti Reuter yang memprediksi peluang kemenangan Hillary mencapai 90 persen.



Begitu juga dengan New York Times yang memprediksi 46 persen Hillary bisa memenangi pemilu AS. Sedangkan peluang Trump untuk menang hanya 42,9 persen. Survei Real Clear Politics juga memenangkan Hillary dengan selisih tipis 2,2 persen poin. Tapi, itu semua berubah ketika pemilu yang sebenarnya berjalan. Lantas, bagaimana dengan di Pilkada DKI Jakarta?



Ada kemungkinan fenomena Brexit dan Donald Trump merembet di pemilihan menuju kursi DKI 1. Pasangan petahana Basuki Tjahaja Purnama (Ahok)-Djarot Saiful Hidayat saat ini selalu kalah dalam hasil lembaga survei. Catatan Jawa Pos, dari delapan lembaga survey, hanya Charta Politika yang mengunggulkan Ahok-Djarot.



Pengamat Politik Emrus Sihombing mengatakan, fenomena politik sangat cair. Tak terkecuali di Jakarta. Semua bisa saja terjadi  "Politik dalam hitungan detik terus berputar sesuai dengan dinamika, perkembangan," ujarnya saat dihubungi JawaPos.com, Senin (17/4).



Hasil yang dikeluarkan lembaga survei menurutnya hanyalah sesaat. Hasil tersebut merupakan terjadi ketika pemilihan dilakukan pada saat itu. "Tapi tidak merupakan kepastian bahwa tanggal 19 yang menang di survei pasti menang di pilkada," sebutnya.



Peristiwa ini pun kata Emrus pernah terjadi ketika pertarungan di Pilkada DKi sebelumnya. Yakni antara Fauzi Bowo-Nachrowi Ramil dengan Joko Widodo-Djarot Saiful Hidayat.



"Hasil survei yang disajikan hanya sebagai potret sesaat. Tidaklah suatu jaminan," tegasnya lagi.



Katanya sikap masyarakat atau pemilih sewaktu-waktu bisa berubah. Perubahan itu dipengaruhi sejumlah faktor. Misalnya, ada komunikasi antar pribadi di keluarga, lobi-lobi politik, dan ada mobilisasi politik.



"Tidak ada jaminan panggung depan politik seperti itu. Bisa saja berubah karena di drive panggung belakang politik," tuturnya.



Namun yang paling mempengaruhi menurutnya adalah program yang ditawarkan pasangan calon dan figur dari para calon itu sendiri.



Terkait program, pemilih pastinya akan memilih program yang yang menawarkan kesejahteraan masyarakat lebih terukur, realistis, daripada sekedar retorika belaka. "Penduduk Jakarta rasional,  penduduk Jakarta berpendidikan," imbuhnya.

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore