Jumat, 21 Jul 2017
Pendidikan
LIFE SKILL

Harun Rizal, Mahasiswa ITS Pencipta Pemendek Tautan intip.in

Senin, 17 Apr 2017 20:16 | editor : Suryo Eko Prasetyo

MASUKKAN URL: Harun Rizal menunjukkan shorten intip.in buatannya yang kerap digunakan mahasiswa dan masyarakat umum untuk memperpendek tautan.

MASUKKAN URL: Harun Rizal menunjukkan shorten intip.in buatannya yang kerap digunakan mahasiswa dan masyarakat umum untuk memperpendek tautan. (Ahmad Khusaini/Jawa Pos/JawaPos.com)

Bahasa pemrograman sudah menjadi makanan sehari-hari Harun Rizal. Hobi utak-atik kode program membuatnya makin mahir. Kini banyak karya yang diciptakan. Tak hanya untuk dinikmati sendiri, tapi juga bisa dimanfaatkan banyak orang.

DI kalangan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), domain intip.in bukan lagi hal asing. Hampir setiap mahasiswa tahu apa kegunaannya. Bahkan, mereka menggunakannya untuk berbagai kepentingan. Terutama menuntaskan tugas kuliah yang membutuhkan referensi dari internet.

Link referensi dari internet tersebut sering bernama cukup panjang. Penulisan secara manual rumit dan tak mudah diingat. Jika di-copy paste, tak semua aplikasi bisa menampung nama yang terlalu panjang itu. Padahal, jika nama yang di-posting kurang lengkap, situs yang dituju tidak bisa terbuka.

MASUKKAN URL: Harun Rizal menunjukkan shorten intip.in buatannya yang kerap digunakan mahasiswa dan masyarakat umum untuk memperpendek tautan.

MASUKKAN URL: Harun Rizal menunjukkan shorten intip.in buatannya yang kerap digunakan mahasiswa dan masyarakat umum untuk memperpendek tautan. (MASUKKAN URL: Harun Rizal menunjukkan shorten intip.in buatannya yang kerap digunakan mahasiswa dan masyarakat umum untuk memperpendek tautan.)

Karena itu, intip.in hadir. Caranya, pengguna tinggal meng-copy uniform resource locator (URL) alamat website yang dituju. Kemudian, di-input pada laman intip.in, lalu klik shorten. Taraaaa... otomatis keluar tautan (link) baru yang lebih pendek. Untuk mempermudah pengguna, link baru dari intip.in memungkinkan diganti dengan nama yang lebih mudah diingat. Jadi, kalau mau membuka link referensi itu lagi, tinggal gunakan link baru dari intip.in.

Harun Rizal adalah sosok di balik pembuatan domain intip.in. Awalnya, mahasiswa semester 8 Departemen Sistem Informasi (SI) ITS itu iseng. Dia membuat pemendek tautan tersebut untuk mempermudah pekerjaannya. ”Sebenarnya sejak SMA, tapi baru booming pas kuliah,” tuturnya.

Tak hanya kalangan ITS, intip.in juga digunakan mahasiswa Universitas Airlangga, Universitas Brawijaya, hingga Universitas Indonesia. Penggunanya meningkat setiap tahun. Hal tersebut dapat terlihat dari grafik yang dibuat Harun untuk mengetahui jumlah pemakai domainnya.

Pada 2015, intip.in mulai viral. Penggunaannya mencapai 5.700 kali, lalu meningkat drastis pada 2016 menjadi 30 ribu kali pemakaian dalam setahun. Pada 2017, hingga hari ini, intip.in diakses sebanyak 13 ribu kali. ”Pengguna ramai pas hari masuk kuliah. Kalau pas bulan-bulan libur kuliah, biasanya sepi,” terang alumnus SMA Pembangunan Bukittinggi itu.

Sebagai pemendek tautan, intip.in tidak hanya digunakan untuk link referensi yang berguna untuk tugas kuliah. Tetapi juga bisa menghubungkan pada situs apa saja. Karena itu, penggunaannya tak lepas dari ulah negatif oknum tertentu.

Salah satunya, Harun pernah ditegur melalui e-mail oleh perusahaan film dari India. Sebab, tautan baru dari intip.in memuat link untuk men-download film mereka secara ilegal. Mahasiswa kelahiran Padang, 16 Mei 1995, itu diminta segera menghapus link tersebut. ”Domain seperti intip.in itu memang biasa dipakai oknum tertentu untuk menyembunyikan identitas. Mereka menyebarkan spam yang berisi iklan atau situs-situs negatif. Jadi harus hati-hati,” paparnya.

Harun lantas memproteksi domain buatannya. Yakni, dengan memasukkan situs-situs tertentu yang dianggap merugikan dalam daftar blokir. Karena itu, ketika pengguna memasukkan link yang masuk dalam daftar blokir dalam intip.in, domain tersebut tidak akan mengeluarkan tautan baru.

Sebenarnya, bukan hanya itu karya yang telah diciptakan Harun. Ada kk.intip.in untuk mengunjungi laman Kaskus tanpa iklan. Khususnya bagi pengguna dari smartphone. Kemudian, intip.in/IPK menjadi IPK simulator. Dari sini, pengguna bisa mengintip nilai tiap mata kuliah secara praktis. Tidak hanya nilainya sendiri, tapi juga nilai teman-temannya. ”Untuk intip IPK, sudah saya blokir karena dapat teguran dari kampus. IPK termasuk privasi sehingga tidak boleh sembarangan dibuka,” tegasnya.

Selain itu, ada intip.in/FRS sebagai formulir rancangan studi (FRS) simulator. Dengan intip.in/FRS, mahasiswa bisa merancang kartu rencana studi (KRS) sebelum kampus membukanya. Ketika masa KRS tiba, nama mahasiswa tersebut otomatis masuk dalam kelas yang dipilih.

Selama ini, untuk mengisi FRS, mahasiswa harus berebut jadwal agar sesuai dengan susunan rencana studinya. Tak jarang mereka harus begadang agar mendapatkan kursi di kelas yang diinginkan. Kalau sampai telat, bisa jadi, mereka harus memilih kelas lain dan itu bisa saja bertabrakan dengan jadwal kuliah yang lain. ”Tapi, itu hanya bisa untuk mahasiswa jurusan sistem informasi,” imbuhnya. (ant/c16/nda/sep/JPG)

Sponsored Content

loading...
 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia