Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 18 April 2017 | 03.00 WIB

Mayoritas Perahu Tambang Belum Dilengkapi Pengaman

HAMPIR JATUH: Kapolres Sidoarjo Kombespol M. Anwar Nasir pada Kamis (13/4) mencoba perahu yang sempat terseret arus. - Image

HAMPIR JATUH: Kapolres Sidoarjo Kombespol M. Anwar Nasir pada Kamis (13/4) mencoba perahu yang sempat terseret arus.


JawaPos.com – Insiden tragis terbaliknya perahu penyeberangan di Sungai Kalimas membuat Dinas Perhubungan (Dishub) Sidoarjo memetakan perahu tambang yang beroperasi. Hasilnya, di antara 10 perahu penyeberangan di Balongbendo, sembilan dinyatakan tidak memenuhi syarat keselamatan.



Sepuluh perahu penyeberangan itu tersebar di tiga wilayah. Di Desa Bogem Pinggir, terdapat enam tambangan. Di Desa Penambangan, ada satu tambangan. Tiga lainnya berlokasi di Desa Jeruklegi.



Pria yang dulu menjabat asisten I (bidang pemerintahan) Pemkab Sidoarjo itu menjelaskan, di antara 10 tambangan tersebut, hanya satu yang memenuhi standar keamanan. Yakni, tambangan yang berada di Desa Jeruklegi. Bentuknya bukan ponton, melainkan perahu. Ketika terkena arus sungai, perahu tidak mudah terbalik. Bahannya terbuat dari stainless steel sehingga tampak kukuh. Ukurannya juga cukup luas dengan panjang 12 meter dan lebar sekitar 3 meter.



’’Saya sudah coba. Ketika di atas perahu, gelombang sungai tidak terasa,’’ tutur Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Sidoarjo Asrofi pada Minggu (16/4). Dia mengatakan, setelah insiden nahas tersebut, petugas langsung memetakan keberadaan perahu penyeberangan di Balongbendo.



Menurut Asrofi, perahu penyeberangan di Jeruklegi seharusnya bisa menjadi contoh tambangan lain. Penyedia jasa penyeberangan tidak boleh hanya memikirkan pemasukan. Faktor keselamatan juga patut menjadi pertimbangan utama.



Dalam waktu dekat, permasalahan moda transportasi sungai itu dirapatkan. Pemprov akan mengundang seluruh dishub yang masuk cakupan Gerbangkertosusila (Gresik, Bangkalan, Mojokerto, Surabaya, Sidoarjo, dan Lamongan). Mereka akan membahas proses perizinan serta keamanan tambangan. Termasuk standardisasi angkutan sungai. Selain dishub, lanjut Asrofi, rencananya pertemuan itu melibatkan pihak lain seperti Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Brantas.



Wakil Bupati Sidoarjo Nur Ahmad Syaifuddin mengungkapkan, perahu penyeberangan memang harus diatur dan diawasi secara ketat. Setiap perahu harus memiliki izin serta menyediakan alat-alat keselamatan. ’’Keduanya harus dipenuhi,’’ tegasnya.



Nur mengatakan, pihaknya sudah melakukan pengamatan di jalur penyeberangan Wringinanom menuju Desa Bogem Pinggir, Balongbendo. Jalur penyeberangan itu memang sangat padat. Banyak warga yang memanfaatkannya. Ditambah lagi arus sungai yang kencang. Sayangnya, perahu yang tersedia tidak standar. ’’Itu bukan perahu, tapi ponton. Kalau kena arus kencang, bisa oleng,’’ jelasnya.



Politikus PKB tersebut menambahkan, jika penyedia jasa penyeberangan tidak bisa memenuhi standar keamanan, pihak yang berwenang pada angkutan sungai harus mengambil tindakan tegas. Misalnya, memberikan sanksi. Solusi lain, Nur mengusulkan pembangunan jembatan penyeberangan. ’’Arus Kalimas sangat deras. Lebih baik dibangunkan jembatan penyeberangan,’’ tuturnya.



Dari lokasi tergulingnya perahu tambang, hingga akhir pekan itu berbagai cara terus ditempuh personel gabungan untuk menemukan satu korban penumpang yang masih hilang. Selain menyoroti pusaran arus bawah sungai di wilayah Balongbendo, petugas mencoba cara lain. Yakni, menjalankan perahu pencarian secara zig-zag.



Upaya tersebut dilakukan untuk membuat arus sungai berombak. Dengan begitu, tubuh korban yang tenggelam diharapkan bisa terangkat ke permukaan. ’’Ada tiga perahu karet yang dikerahkan,’’ kata Kasi Operasional Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sidoarjo Sri Wulyono di lokasi kejadian Minggu (16/4).



Hingga hari keempat, petugas memang tidak kunjung menemukan Susriasih, 48, warga Desa Kalimati, Tarik. ’’Tinggal satu penumpang, semoga cepat ketemu,’’ harapnya. Enam korban tewas lainnya sudah dievakuasi.



Sri menerangkan, pencarian terhadap korban akan terus dilakukan setiap hari. Mulai pagi sampai sore. Sebab, pencarian malam tidak memungkinkan. ’’Harus tetap memperhatikan keselamatan personel. Maksimal pukul 18.00 pasukan kembali ke daratan,’’ ujarnya.



Personel gabungan, lanjut dia, akan tetap siaga. Selain membangun posko, pihaknya mendirikan tenda darurat di sekitar lokasi penambangan perahu yang nahas sebagai tempat beristirahat. ’’Masyarakat yang tinggal di sekitar sungai bisa memberikan informasi kepada kami,’’ ungkapnya.



Menurut Sri, standar operasional pencarian korban di BPBD Sidoarjo adalah tujuh hari. Meski begitu, tidak tertutup kemungkinan pencarian terus dilakukan bila korban belum ditemukan. ’’Masih ada waktu untuk mencari. Semua berharap agar korban terakhir segera ditemukan,’’ ucapnya.

Editor: Suryo Eko Prasetyo
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore