Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 17 April 2017 | 06.55 WIB

Giliran Antroplog Swiss Dukung DOB Kabudaya

Giliran Antroplog Swiss Dukung  DOB Kabudaya - Image

Giliran Antroplog Swiss Dukung DOB Kabudaya

JawaPos.com - Rencana pemerintah membentuk DOB Kabudaya di kawasan Perbatasan Kalimantan Utara dengan Sabah Malaysia terus mendapat dukungan dari berbagai pihak. Selain mendapat dukungan dari komunitas Kabudaya di Malaysia dan mahasiswa Indonesia di Tiongkok, kali ini datang dari keluarga Antropolog Swiss yang fokus melalakukan kajian Budaya di wilayah Kabudaya Kabupaten Nunukan Indonesia dan Sabah Malaysia yaitu Adrian Linder dan Margrit.


"Dari pengalaman di berbagai negara dan juga di Indonesia terbukti pemebentukan Daerah Otonomi Baru diwilayah tertinggal dan termarjinalisasi dapat mengatasi ketimpangan itu dengan baik selama pemerintahannya dijalankan secara jujur, demokratis, profisional dan jauh dari korupsi, kolusi dan nepotisme," Jelas Adrian Linder dalam rilisnya yang diterima awak media di Jakarta, Minggu (16/4). 


Usaha dan program pembangunan baik dari pihak pemerintah, swasta maupun organisasi NGO dan LSM konsep pembangunan harus melihat berbagai potensi yang dapat dikembangkan didaerah tersebut dari aspek budaya setempat, misalnya produk hutan non-kayu atau kerajinan tradisional yang populer kalangan perempuan-perempuan Dayak Agabag  jarang mendapat  perhatian sebagai sumber pendapatan padahal hasil anyaman dari rotan tersebut sangat populer dan disukai di negara Swiss dan hal ini akan menjadi sumber income yang sangat baik untuk daerah," sambungnya.


Lebih lanjut suami dari Margrit ini menjelaskan bahwa sebagai peneliti yang pernah melakukan penelitian di daerah Kalimantan Utara dari 2009-2013 khususnya daerah yang sekarang populer dengan sebutan Kabudaya, pihaknya mendukung rencana pemerintah Republik Indonesia untuk membentuk suatu daerah otonomi baru di wilayah tersebut. Sebab, secara geneologis, adat,  budaya, suku dan bahasa masyarakat di wilayah Kabudaya erat hubungannya dan berkarabat dengan Murut di Sabah,  dari sudut pandang antropologis dan sosiologis wilayah ini sangat cocok untuk dijadikan satu wilayah otonomi sendiri selain secara geografis sangat jauh dari pusat pemerintahan Kabupaten Nunukan dan cenderung "terbiarkan".


Padahal, lanjutnya, Kabudaya memiliki sumber daya alam dan sumber daya manusia yang memadai,  anggapan kerabat mereka di Sabah Malaysia  lebih maju serta lebih diperhatikan oleh pemerintahnya secara psikologis akan terus mengerus dan menggorogoti jiwa nasionalisme mereka yang hingga sangat baik. "DOB Kabudaya akan memperkuat kedaulatan Indonesia dan mengurangi tendensi dwi kewarganegeraan yang sering kami temukan di perbatasan selain itu kebijakan ini akan mempercepat kesetaraan sebagai upaya untuk mengimbangi pembangunan yang pesat dibagian Sabah yang cenderung menjadi 'kiblat' masyarakat perbatasan,"ungkapnya.


Sebagai informasi beberapa jabatan  profesional pernah dijabat Adrian Linder diantara dosen di Universitas Bern Swiss, Direktur Badan Misi Asia Tenggara, Tenaga Ahli  di Kementerian Hukum (komisi Nasional untuk Migrasi), Peneliti di Jawa Barat untuk Yayasan Nasional Swiss kerjasama dengan LIPI Indonesia dan Universitas Padjadjaran Bandung, pernah menuntut ilmu Master antropologi, linguistika di Universitas Bern Swiss dan University of Washington Seattle, USA.


Terkait mengalirnya dukungan dari komunitas kabudaya dari mancanegara mendapat apresiasi dari Anggota DPR RI Komisi II Hetifa Syaifuddin. "Saya merasa terharu bahwa masyarakat kabudaya di mancanegara dan beberpa profisional dari negara luar memberikan perhatian pada perbatasan kita, seharusnya ini menjadi cambuk bagi kita semua untuk melanjutkan perjuangan dan memprioritaskan pembangunan di perbatasan dengan melihat tingkat urgensi di bentuk nya suatu DOB yang dari luar saja melihat bahawa DOB kabudaya itu ugen direalisasikan apalagi kita dari dalam," Katanya.


Hal yang senada juga disampaikan oleh Ketua Umum Aliansi Masyarakat Sipil Untuk Indonesia Hebat (Almisbat), Teddy Wibisana. Menurutnya, Kabudaya adalah wilayah Indonesia di perbatasan. Jadi interaksi dan pergerakan masyarakatnya juga diketahui baik oleh negara. "Mengalirnya dukungan dari luar negeri adalah hal yang sangat positif untuk Kabudaya artinya analisa objektif dari Antropolog dan Profisional luar negeri apalagi sudah pakar dibidangnya akan bisa menjadi referensi bagi pihak yang terkait selaku ledding sektor terhadap pembentukan DOB, intinya dengan DOB kabudaya persolan utama akan terjawab diperbatasan itu adalah paket kebijakan yang menyelesaikan semunya," pungkasnya. (fab/JPG)

Editor: Fadhil Al Birra
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore