Kamis, 24 Aug 2017
JPG Events

SURABAYA SMART RIDING

Memasuki Pekan Terakhir Semakin Menghibur

| editor : 

SEMARAK: Penampilan ibu-ibu Pulo Tegalsari, RW 7, Wonokromo Kamis (13/4) malam yang menghibur warga.

SEMARAK: Penampilan ibu-ibu Pulo Tegalsari, RW 7, Wonokromo Kamis (13/4) malam yang menghibur warga. (Akhmad Khusaini/Jawa Pos/JawaPos.com)

JawaPos.com – Road show Surabaya Smart Riding 2017 ke kampung-kampung memasuki pekan terakhir. Para peserta pun makin antusias menyambut acara puncak yang rencananya dihelat di Taman Bungkul itu.

Misalnya, yang tersaji di Pulo Tegalsari, RW 7, Wonokromo, Kamis (13/4) malam. Ibu-ibu yang mengenakan kostum kombinasi warna hitam, ungu, dan biru bersemangat menampilkan yel-yel yang berisi ajakan tertib berlalu lintas. Mereka berjoget dan bernyanyi dengan diiringi lagu Goyang Dumang.

Antusiasme warga untuk ambil bagian dalam tim yel-yel sangat tinggi. Ada 40 orang yang ingin ikut berpartisipasi. Padahal, kuota yang tersedia hanya 20 orang. ”Warga di sini sangat senang dan terhibur. Kalau urusan juara, nanti mengikuti,” ujar Iin Rochim, koordinator tim yel-yel.

Iin yang juga selaku ibu RW 7 menambahkan, persiapan tim tergolong singkat. Hanya dua minggu. Meski begitu, mereka siap berkompetisi dengan kampung-kampung lain.

Malam itu tim Satlantas Polrestabes Surabaya datang bersama jajaran Polsek Wonokromo. Di antaranya, Wakapolsek AKP M. Rasyad yang mewakili Kapolsek Wonokromo Kompol Arisandi. Sepanjang acara, warga terlihat antusias. Mereka memenuhi jalan utama kampung dan menyimak arahan polisi untuk tertib berlalu lintas dengan saksama.

Rasyad mengimbau masyarakat agar selalu mengenakan helm saat berkendara. Dia mencontohkan kecelakaan di Jalan Diponegoro pada Kamis sore (13/4) yang memakan korban jiwa. ”Melihat kejadian di Jalan Diponegoro, warga harus mengaitkan tali helm sampai berbunyi klik,” ujar perwira dengan tiga balok di pundak itu.

Bripka Abdul Rouf, anggota Satlantas Polrestabes Surabaya, juga memberikan materi tentang etika berkendara di jalan raya. Sesekali dia menyelipkan joke untuk mencairkan suasana. Misalnya, saat dia menceritakan pengalaman menilang seorang tukang becak.

Tukang becak tersebut melanggar rambu larangan melintas bagi becak. Namun, tukang becak itu berkelit. ”Pak Polisi itu salah, wong gambar becak dicoret. Lha ini kan saya naiki. Harusnya gambar itu ada orangnya,” kata Rouf menirukan jawaban tukang becak tersebut. Sontak, warga tertawa mendengar cerita Rouf.

Kemeriahan malam itu dipungkasi dengan alunan lagu dangdut. Warga tampak menikmati dengan turun dan bergoyang bersama. (han/c16/fal/sep/JPG)

Sponsored Content

loading...
 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia