Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 14 April 2017 | 03.12 WIB

Camelia Ariestanty Rasakan Kaki Kiri seperti Bertanduk

TERUS BERJUANG: Camelia Ariestanty, penyandang autoimun rheumatoid arthritis. Dia menyandang autoimun tersebut sejak 2013. - Image

TERUS BERJUANG: Camelia Ariestanty, penyandang autoimun rheumatoid arthritis. Dia menyandang autoimun tersebut sejak 2013.


PERTEMUAN pertama JawaPos dengan Camelia Ariestanty terjadi pada Kamis (6/4) di kantornya yang berada di Surabaya Utara. Sebelumnya, perempuan 37 tahun itu meminta wartawan datang sebelum pukul 11.00 atau lebih dari jam 14.00. Lia, sapaan akrab Camelia Ariestanty, tidak memberi tahu alasannya.



”Karena kondisi saya, saya harus pandai-pandai mengatur kondisi tubuh. Jam 11.00–14.00 biasanya saya tidur,” tuturnya. Jam tersebut memang masih jam kerja bagi Lia. Karena itu, dia tidak tidur di rumah, tapi di salah satu ruangan yang memang digunakan untuk tidur. Tentu seizin teman dan atasannya.



Tempat yang digunakan untuk tidur bukan kamar khusus. Melainkan ruang kerja biasa. Untuk rebahan, dia menggelar alas tidur. Lia memang tidak boleh duduk lama. Jadi, dia terpaksa menggunakan alas tidur.



Menjelang pukul 11.00, rasa kantuk hebat dan lelah yang amat sangat selalu melanda perempuan kelahiran Surabaya tersebut. Pekerjaannya tergolong tidak berat. Dia bekerja menjadi salah satu staf humas sebagai editor untuk sebuah majalah di kantornya. Tugasnya setiap hari memeriksa ejaan artikel yang akan diterbitkan di majalah.



Saat malam, terutama ketika lewat pukul 21.00, Lia sudah tidak bisa tidur. Jika ada kegiatan yang mengharuskannya bangun sampai batas waktu itu, dapat dipastikan dia akan tetap terjaga hingga pagi. Kalaupun tidur, dia hanya tidur-tidur ayam alias tidak nyenyak.



”Itu kan memang salah satu ciri orang yang menderita rheumatoid arthritis,” jelasnya. Penyakit tersebut merupakan golongan penyakit autoimun. Yang biasanya diserang adalah bagian sendi. Dia menggambarkan rasa nyeri ketika penyakit tersebut datang seperti seperempat sakaratul maut. Sangat sakit.



Sebelum teridentifikasi memiliki rheumatoid arthritis pada 2013, dia mengalami nyeri di kaki kiri. Untuk berjalan, kaki kirinya seolah lebih tinggi. Seolah ada yang mengganjal. Di bagian tumit, terlihat bengkak. ”Tanpa rekomendasi dokter, saya nekat melakukan rontgen sendiri. Kok ada seperti tanduk di tumit kiri saya,” ujarnya.



Waktu itu, tidak hanya bengkak di bagian tumit. Seluruh tubuhya juga terasa pegal. Dia mengibaratkan pegal seperti setelah berolahraga berat. Sekujur tubuhnya nyeri walaupun sudah beristirahat. Tidak hanya itu, dia pun merasakan demam. Suhu tubuhnya naik, tapi merasa dingin. Kepalanya pusing. Namun, hal tersebut tidak dihiraukan.



Beberapa hari setelah itu, dia memeriksakan diri ke spesialis THT. Bukan untuk nyeri badan atau bengkak di tumit, melainkan karena telinganya kemasukan air. ”Saya tidak hanya menceritakan masalah telinga, tapi juga keluhan yang ada di badan saya,” kenang perempuan yang 9 April lalu berulang tahun tersebut.



Dokter yang menangani waktu itu menduga bahwa dia terkena lupus. Lantas, dokter itu merujuk Lia ke spesialis saraf. Dari rujukan itulah diketahui bahwa Lia mengalami rheumatoid arthritis. Kemudian, dia dirujuk ke spesialis penyakit dalam bagian rheumatology.



Enam bulan pertama terdiagnosis autoimun, Lia sering bolos kerja. Sebab, dia harus bolak-balik ke rumah sakit dan laboratorium. Untuk ke rumah sakit saja, itu terkadang menyita waktu hingga pukul 14.00. ”Saya memang hanya cerita kepada pimpinan. Saya juga mendengar ada kasak-kusuk di belakang yang membicarakan saya,” ucapnya. Pelan-pelan teman-temannya diberi tahu soal penyakit tersebut. Tujuannya, teman-temannya mengerti ada penyakit yang dinamakan autoimun.



”Sekarang teman-teman justru membantu,” lanjutnya. Dengan mengetahui kondisi Lia, teman-temannya mengerti. Ketika capek, Lia diperkenankan istirahat. Dia juga dimaklumi ketika tiba-tiba lupa menaruh barang. Hal itu justru kerap menjadi guyonan teman-temannya. ”Saya pernah menerima barang kiriman untuk kantor dan saya harus lama mengingat-ingat di mana meletakkan barang itu,” imbuhnya.



Belakangan Lia didiagnosis surgeon syndrome. Penyakit tersebut juga tergolong autoimun. Gejalanya, mulut dan mata kering. Seolah tidak ada air liur atau air mata yang membasahi.



Perempuan yang suka menulis di blog itu tidak berani menyetir mobil saat malam. Matanya sensitif terhadap sinar. ”Untuk rheumatoid arthritis saya, ada tambahan jari tangan yang bengkok di bagian sendi dan tremor,” terangnya. Dokter yang menangani sempat menyuruh Lia resign dari perusahaan. Lia telah mengajukan pensiun dini. Namun, perusahaan tempatnya bekerja belum mengizinkan.



Lia memang sedang sakit. Saat JawaPos mewawancarainya, badan Lia terasa hangat. Beberapa kali dia harus berdiri karena tubuhnya akan terasa sakit kalau terlalu lama duduk. ”Saya itu lebih banyak rasa sakitnya. Bisa dua minggu kondisinya seperti ini dan sehari sembuh, lalu kumat lagi,” ungkapnya.

Editor: Suryo Eko Prasetyo
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore