Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 13 April 2017 | 01.29 WIB

Belajar Keragaman dari Gambar Perut, Agar Cerita Tak Menjemukan

KANVAS PERUT: Dari kiri, Jefry Dio Firmansyah, Muhammad Ridho, Moch. Afifudin, dan Alfi Syahrurridhani memerankah tokoh representasi dari tiga budaya. Yakni, Jawa, Kalimantan, dan Papua. - Image

KANVAS PERUT: Dari kiri, Jefry Dio Firmansyah, Muhammad Ridho, Moch. Afifudin, dan Alfi Syahrurridhani memerankah tokoh representasi dari tiga budaya. Yakni, Jawa, Kalimantan, dan Papua.


JawaPos.com – ”Hei kamu orang Kalimantan. Kurus kering. Busur lapar, ya?” ucap Moch. Afifudin saat memerankan Handoko, sosok pria yang digambarkan dengan perut buncit dan berkumis. Handoko adalah pria etnis Jawa.



Ejekan itu pun disahut dengan nada sinis oleh Alfi Syahrurridhani yang memerankan orang Dayak. ”Biarin. Tapi kan saya tidak hitam kayak Floren,” katanya sambil menghadapkan perut ke kanan, tempat Floren berdiri.



Floren adalah karakter orang Papua. Floren memiliki kulit yang gelap dan mengenakan baju mirip pakaian adat.



Selama beberapa detik tiga tokoh pria yang mewakili etnis Jawa, Kalimantan, dan Papua itu saling ejek. Pertengkaran itu pun mereda ketika salah seorang tokoh yang digambarkan berusia sekitar 50 tahun datang.



Dia adalah Pak Kanjeng. Pak Kanjeng adalah sosok yang bijaksana. Dia selalu membawa tongkat dan melipat satu tangan ke belakang ketika berbicara.



”Hei, kalian itu jangan bertengkar. Manusia memang tidak ada yang sama. Dan perbedaaan itu jangan dijadikan sebagai hal yang jelek,” katanya dengan suara parau seperti orang lanjut usia pada umumnya. Secara penampilan, sosok Pak Kanjeng mirip dengan Pak Raden dari cerita legendaris Si Unyil. Adalah Muhammad Ridho yang menjadi pengisi suara Pak Kanjeng.



Pertunjukan sederhana itu adalah bagian dari pentas wayang perut yang dilakonkan para mahasiswa Jurusan Sendratasik Universitas Negeri Surabaya (Unesa). Wayang perut diperkenalkan sebagai media pembelajaran dengan mengusung cerita tentang keberagaman di Indonesia.



Tiga tokoh digambar di perut tiga mahasiswa. Pementasan berlangsung selama sekitar 15 menit di Gedung Seni Pertunjukan Sawunggaling Sendratasik Unesa, Selasa (11/4).



Untuk menghidupkan karakter wayang, para pemain beraksi dengan menggerakkan perut. Mereka berbicara sambil memainkan pernapasan perut. Pementasan disaksikan oleh puluhan mahasiswa sendratasik lainnya. ”Tim yang melukis juga teman-teman sendiri,” tambah Alfi.



Penggambaran tokoh disesuaikan pula dengan penampakan perut pengisi suara. Misalnya saja Alfi yang memerankan orang Kalimantan. Secara penampilan, dia memang memiliki kulit putih dan tubuh kurus. Ditambah pendalaman karakter dengan menirukan logat Kalimantan.



”Bentuk perut dan warna kulit para pemain juga menjadi pertimbangan dalam menentukan tokoh. Karakternya diwarnai dengan cat body painting,” ujar dalang Welly Suryandoko. Dosen jurusan seni, drama, tari, dan musik (sendratasik) itu berkolaborasi dengan Indar Sabri dalam membuat cerita wayang.



Menurut dia, wayang perut menjadi salah satu media yang unik untuk merespons kejenuhan anak-anak terhadap pementasan seni. Wayang perut dibuat untuk media pembelajaran anak usia TK hingga SD. ”Mungkin agak kontroversial kalau menampilkan wayang perut sebagai edukasi karena mempertontonkan perut. Tapi, semoga bisa diterima masyarakat sebagai karya seni,” katanya. (esa/c11/dos/sep/JPG)


Editor: Suryo Eko Prasetyo
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore