
KANVAS PERUT: Dari kiri, Jefry Dio Firmansyah, Muhammad Ridho, Moch. Afifudin, dan Alfi Syahrurridhani memerankah tokoh representasi dari tiga budaya. Yakni, Jawa, Kalimantan, dan Papua.
JawaPos.com – ”Hei kamu orang Kalimantan. Kurus kering. Busur lapar, ya?” ucap Moch. Afifudin saat memerankan Handoko, sosok pria yang digambarkan dengan perut buncit dan berkumis. Handoko adalah pria etnis Jawa.
Ejekan itu pun disahut dengan nada sinis oleh Alfi Syahrurridhani yang memerankan orang Dayak. ”Biarin. Tapi kan saya tidak hitam kayak Floren,” katanya sambil menghadapkan perut ke kanan, tempat Floren berdiri.
Floren adalah karakter orang Papua. Floren memiliki kulit yang gelap dan mengenakan baju mirip pakaian adat.
Selama beberapa detik tiga tokoh pria yang mewakili etnis Jawa, Kalimantan, dan Papua itu saling ejek. Pertengkaran itu pun mereda ketika salah seorang tokoh yang digambarkan berusia sekitar 50 tahun datang.
Dia adalah Pak Kanjeng. Pak Kanjeng adalah sosok yang bijaksana. Dia selalu membawa tongkat dan melipat satu tangan ke belakang ketika berbicara.
”Hei, kalian itu jangan bertengkar. Manusia memang tidak ada yang sama. Dan perbedaaan itu jangan dijadikan sebagai hal yang jelek,” katanya dengan suara parau seperti orang lanjut usia pada umumnya. Secara penampilan, sosok Pak Kanjeng mirip dengan Pak Raden dari cerita legendaris Si Unyil. Adalah Muhammad Ridho yang menjadi pengisi suara Pak Kanjeng.
Pertunjukan sederhana itu adalah bagian dari pentas wayang perut yang dilakonkan para mahasiswa Jurusan Sendratasik Universitas Negeri Surabaya (Unesa). Wayang perut diperkenalkan sebagai media pembelajaran dengan mengusung cerita tentang keberagaman di Indonesia.
Tiga tokoh digambar di perut tiga mahasiswa. Pementasan berlangsung selama sekitar 15 menit di Gedung Seni Pertunjukan Sawunggaling Sendratasik Unesa, Selasa (11/4).
Untuk menghidupkan karakter wayang, para pemain beraksi dengan menggerakkan perut. Mereka berbicara sambil memainkan pernapasan perut. Pementasan disaksikan oleh puluhan mahasiswa sendratasik lainnya. ”Tim yang melukis juga teman-teman sendiri,” tambah Alfi.
Penggambaran tokoh disesuaikan pula dengan penampakan perut pengisi suara. Misalnya saja Alfi yang memerankan orang Kalimantan. Secara penampilan, dia memang memiliki kulit putih dan tubuh kurus. Ditambah pendalaman karakter dengan menirukan logat Kalimantan.
”Bentuk perut dan warna kulit para pemain juga menjadi pertimbangan dalam menentukan tokoh. Karakternya diwarnai dengan cat body painting,” ujar dalang Welly Suryandoko. Dosen jurusan seni, drama, tari, dan musik (sendratasik) itu berkolaborasi dengan Indar Sabri dalam membuat cerita wayang.
Menurut dia, wayang perut menjadi salah satu media yang unik untuk merespons kejenuhan anak-anak terhadap pementasan seni. Wayang perut dibuat untuk media pembelajaran anak usia TK hingga SD. ”Mungkin agak kontroversial kalau menampilkan wayang perut sebagai edukasi karena mempertontonkan perut. Tapi, semoga bisa diterima masyarakat sebagai karya seni,” katanya. (esa/c11/dos/sep/JPG)

10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
14 Rekomendasi Gado-Gado Paling Recomended di Surabaya, Cita Rasa Klasik Autentik dan Harga Ramah di Kantong
Berburu Oleh-Oleh Khas Pasuruan? Ini 15 Buah Tangan yang Cocok untuk Keluarga di Rumah Berdasarkan yang Paling Dicari Wisatawan
15 Pecel Paling Enak di Surabaya, Cita Rasa Sambal Kacang yang Autentik dan Ragam Lauk Tradisional yang Menggoda Selera
10 Tempat Makan Pempek Favorit di Bandung, Pilihan Menu Lengkap, Rasa Autentik, dan Perpaduan Cuko yang Kaya Rempah
Koperasi Desa Merah Putih di Pakuhaji Sepi dan Bangunan Sederhana, Dinkop UMKM Tangerang: Tidak Dibangun dari Dana Agrinas
5 Mall Terbaik dan Paling Cozy di Solo, Cocok untuk Menikmati Kuliner, Belanja, dan Nongkrong di Satu Tempat
13 Wisata Terbaik Dekat Stasiun Pasuruan, Buat Liburan Tak Perlu Jauh Tapi Tetap Seru
12 Tempat Kuliner Soto yang Jadi Favorit di Malang, Soal Rasa Jangan Ditanya Pasti Enak!
Tak Perlu lagi Pusing Parkir, Ini Rute Transjakarta Paling Pas ke Indonesia Arena GBK
